Bisakah Uighur dan Han Kembali Berdampingan?

Kompas.com - 10/07/2009, 06:23 WIB

KOMPAS.com — Berawal dari sekumpulan anak-anak yang bertikai soal kembang api. Lalu bergulir menjadi bentrokan ratusan warga, menghadapkan dua kelompok etnis yang memang sudah lama bersitegang.

Pemicu yang terakhir adalah ketika kelompok minoritas Uighur yang beragama Muslim bentrok dengan pekerja pabrik dari keturunan Han, etnis mayoritas di China. Dipicu rasa kecewa atas cara penanganan aparat yang lebih berpihak kepada kaum Han, mendorong warga Uighur melakukan aksi protes di wilayah otonomi Xinjiang, ”tanah air” etnis Uighur, hari Minggu (5/7) lalu.

Aksi protes kemudian bergulir menjadi kerusuhan besar di ibu kota Xinjiang, Urumqi, hari Minggu itu, dan menelan korban 156 tewas, 1.080 luka-luka, dan 1.434 ditangkap.

Orang-orang Uighur membakar toko-toko dan mobil, yang umumnya dimiliki orang-orang Han. (Etnis Uighur kebanyakan masih hidup dililit kemiskinan). Kerusuhan menjadi semakin tak terkendali setelah kedua kubu ini saling membalas.

Presiden China Hu Jintao, yang terpaksa mempersingkat kunjungannya ke pertemuan puncak negara-negara maju, G-8, di Italia, pun mengumumkan sikapnya agar menindak tegas para pelaku kerusuhan. Menjaga stabilitas sosial merupakan tugas paling utama yang harus diupayakan.

Hu bahkan melukiskan bahwa kerusuhan yang menyerang warga mayoritas China, Han, sebagai sebuah tindak kriminal kekerasan yang serius, yang sepertinya dirancang dan direncanakan oleh ”tiga kekuatan”, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dan tiga kekuatan yang mendorong kerusuhan, menurut Hu Jintao, itu adalah untuk mengunjuk kepada ekstremisme agama, kaum separatis, dan bahkan juga teroris.

Salah satu kekhawatiran yang dirasakan kelompok minoritas Uighur di Xinjiang adalah seberapa keras tindakan pemerintah itu terhadap mereka? Akankah mereka ditindas seperti yang dialami warga Tibet?

Sebuah pengumuman yang tertempel di tembok, dalam bahasa China dan Uighur, berbunyi ”siapa saja yang menyembunyikan atau melindungi para kriminal akan dihukum berat”. Dan hukuman mati adalah hukuman yang lazim diterapkan di China, bahkan terhadap tindak kriminal ekonomi sekalipun.

Penduduk juga diberi tahu tak boleh menggunakan telepon genggam atau internet untuk ”menciptakan dan menyebarkan rumor, berhubungan dengan yang lain, memicu keonaran, dan mengganggu ketertiban umum”.

Kekhawatiran lain yang ada di benak para penduduk minoritas Uighur adalah bisakah mereka hidup berdampingan lagi dengan kaum Han, yang saat ini pun sudah menjadi kaum mayoritas di ”tanah air” minoritas Uighur? (AP/Reuters/sha)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau