Ghana Sambut Obama

Kompas.com - 11/07/2009, 06:26 WIB
ACCRA, KOMPAS.com — ”Obamamania” melanda ibu kota Ghana, Accra. Mengenakan kaus dan topi bergambar Presiden Amerika Serikat Barack Obama serta membawa foto wajah Obama, warga Ghana menari dan menyanyi di jalan-jalan kota Accra, Jumat (10/7).

Obama dijadwalkan tiba di negara itu pada Jumat malam waktu setempat. Ini merupakan kunjungan pertama Obama sebagai presiden di wilayah sub-Sahara Afrika.

Poster-poster dan spanduk berisi salam hangat bagi Obama terpasang di sejumlah tempat di Accra. Teriring pula harapan bahwa Presiden AS itu akan membantu Afrika keluar dari konflik dan kemiskinan yang membelit benua itu.

Sejak pagi, warga Ghana sudah memenuhi jalan-jalan kota. Mereka menari diiringi lagu tentang Obama yang digubah penyiar radio Ghana yang dikenal sebagai Black Rasta. Penjual-penjual di tepi jalan sibuk menawarkan beragam dagangan, seperti gantungan kunci, cangkir kopi, dan payung besar bergambar Obama dan Presiden Ghana John Atta Mills.

Sejak pukul 08.00, polisi sudah menutup jalan-jalan besar dari pengguna kendaraan. Sedikitnya 10.000 polisi dikerahkan di seantero Accra untuk mengamankan kedatangan Obama.

Dalam kunjungan selama 24 jam di Ghana, Obama akan bertemu Presiden Mills, berpidato di parlemen, dan mengunjungi Cape Coast Castle, salah satu bekas pos perdagangan budak terbesar di Afrika.

Mengapa Ghana?

Menjelang kunjungan ke Ghana, Obama mengatakan kepada situs berita AllAfrika.com bahwa Ghana dipilih untuk menegaskan riwayat negara itu dalam bidang pemerintahan yang baik. Dia juga berharap Ghana menjadi contoh bagi negara Afrika lainnya.

Penasihat Gedung Putih, Michelle Gavin, mengatakan, Obama memilih Ghana karena negara itu adalah contoh yang patut dikagumi soal pemerintahan demokratis yang kuat dan masyarakat sipil yang vibran. ”Banyak yang bisa dikagumi dan dikemukakan sebagai kebalikan dari apa yang sering kita dengar soal Afrika,” katanya.

Ghana adalah negara Afrika pertama yang menyatakan kemerdekaan dari kekuasaan kolonial tahun 1957. Meskipun didera kudeta dan kediktatoran selama seperempat abad, Ghana berhasil melaksanakan lima pemilu demokratis. Pemilu terakhir pada Januari lalu yang dimenangi oposisi berjalan damai.

Dipilihnya Ghana telah memunculkan perasaan ”mengapa bukan kami” di kalangan negara-negara Afrika lainnya, seperti Nigeria dan Kenya. Nigeria menggelar pemilu kontroversial tahun 2007 dan dinilai sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Itu tidak sejalan dengan misi Obama untuk mempromosikan pemerintahan yang baik.

Bukan Kenya

Obama menghindari Kenya, tempat kelahiran mendiang ayahnya, karena menganggap faksi-faksi politik yang bertikai di negara itu tampaknya tidak bergerak menuju rekonsiliasi permanen.

”Jika Obama datang ke Kenya sebagai negara pertama di Afrika yang dikunjungi, hal itu akan mengirim sinyal yang salah bahwa dia datang kemari hanya karena hubungan organik yang dimilikinya dengan negara ini,” kata Perdana Menteri Kenya Raila Odinga.

Alasan lain kunjungan ke Ghana adalah negara itu diperkirakan akan mulai memompa minyak dalam kuantitas komersial tahun 2010 sehingga meningkatkan kepentingan strategis kawasan sub-Sahara Afrika. Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS, impor minyak dan gas AS dari Afrika mencapai 19 persen tahun 2008. Jumlah itu melampaui impor minyak dan gas dari Teluk Persia sebanyak 18 persen.

Pakar soal Afrika mengatakan, Obama mungkin akan menggunakan kesempatan pidato untuk menyampaikan visi yang lebih komprehensif dalam kebijakannya terhadap Afrika. Di antaranya adalah pentingnya meningkatkan keamanan pangan dan produksi pertanian di Afrika.

Kendati demikian, analis menilai Afrika belum menjadi prioritas kebijakan luar negeri Obama. ”Harapan (Afrika) cukup tinggi karena Obama memiliki akar di sini. Akan tetapi, tidak realistis jika mengira dia akan mengalirkan bantuan atau mengubah segala sesuatu dalam semalam,” kata Wafula Okumu, analis Kenya pada Institut Studi Keamanan di Johannesburg.

(ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau