LONDON, KOMPAS.com - Pelatih anyar Chelsea, Carlo Ancelotti tidak ingin berbantahan dengan pemain mengenai kebijakan tim. Ia pun menegaskan posisinya sebagai orang nomor satu di Stamford Bridge.
Sebagai pelatih baru, Ancelotti mengerti, metode latihan dan strateginya akan berbeda dari rezim sebelumnya. Ia tidak ingin pemain menyikapi perbedaan itu dengan protes dan keluhan. Ia minta pemain menghargai dan percaya penuh kepadanya di masa transisi ini.
"Untuk saya, ini tentang pemain memiliki rasa hormat terhadap posisi saya sebagai pelatih," tegas Ancelotti seperti dikutip The Sun.
"Saya harus membuat keputusan dan di saat sama, saya memiliki rasa hormat untuk pemain. Ini adalah sistem untuk memajukan relasi," lanjutnya.
Dengan satu komando, Ancelotti mencegah timnya dari perselisihan karena ego pemain. Ia ingin membentuk tim yang solid dan satu kata.
"Pesan saya untuk bekerja adalah berada di lapangan setiap hari, bekerja keras di sesi latihan. Itu adalah keinginan saya," ujarnya.
"Visi saya adalah memiliki pemain yang bisa bermain bersama dengan baik dan tetap bersama dengan baik," tambahnya.
Dengan begitu, Ancelotti menghindarkan dirinya dari kejadian yang menimpa Luiz Felipe Scolari. Menurut Scolari, ia dipecat karena adanya konspirasi pemain.
Menurut Daily Star, Scolari mengatakan, di Chelsea ada pemain yang memiliki kekuasaan terlalu besar yang bisa seenaknya. Ketika ada keputusan pelatih bertentangan dengan kemauan pemain, pemain itu mengadukannya kepada klub dan akhirnya merugikan pelatih.
"(Didier) Drogba dan (Michael) Ballack pernah meminta izin dari saya untuk pergi dan mendapat perawatan. Yang satu di sebuah spa di Cannes (Perancis) dan yang lain di Jerman, di Cologne," ungkap Scolari.
"Dan saya harus mengatakan kepada Petr Cech bahwa tidak pantas memiliki pelatih pribadi," tuturnya lagi.
Ketika Guus Hiddink menjadi pelatih sementara Chelsea, ia juga merasakan aroma perpecahan itu. Ia sempat mengatakan tidak melihat Chelsea sebagai tim.
Tangan besi Hiddink berhasil menundukkan John Terry dkk. Di tangannya, tim menemukan kembali kesatuan dan kegairahan bersepak bola.
Ancelotti ingin melanjutkan apa yang sudah dimulai Hiddink. Ia ingin memastikan, setiap orang di Stamford Bridge berlaku sesuai status dan peran masing-masing. (SUN/DS)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang