Polri: Belum Dipastikan Nur Hasbi Pelaku Bom Bunuh Diri

Kompas.com - 20/07/2009, 20:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia hingga Senin (20/7) petang ini belum membenarkan informasi bahwa N, warga Temanggung, Jawa Tengah, merupakan salah satu pelaku peledakan bom bunuh diri  di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta.

"Info itu belum dapat dibenarkan. Sampai hari ketiga ini, tim dari Mabes Polri masih menyelidiki pelaku aksi bom bunuh diri itu," kata  Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Sulistyo Ishak kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/8).

Ia juga menegaskan bahwa sejauh ini Polri belum mengeluarkan pernyataan resmi kebenaran N sebagai pelaku peledakan bom bunuh diri, termasuk dengan foto-foto yang bersangkutan yang sempat beredar di masyarakat.

"Inisial N itu kan masih dugaan belum dapat dipastikan," katanya sambil menambahkan bahwa kepolisian juga belum menyampaikan secara resmi kepastian mengenai jenis kelamin dari pelaku ledakan bom yang menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya.

Dalam catatan Kompas.com, inisial N itu kemudian berkembang menjadi sejumlah nama. Antara lain Nur Sahid, Nur Hasbi, Nur Said. Terakhir, mertua Nur yang tinggal di Klaten menyebut nama Nur Said atau Nur Hasbi. Nur dan istrinya yang diketahui tinggal di Semarang diakui sangat jarang pulang ke Klaten.

Meski titik terang tentang siapa dan dari kelompok mana pelaku bom bunuh diri tersebut belum terungkap, Sulistyo mengatakan, tidak tertutup kemungkinan adanya keterlibatan jaringan atau kelompok Noordin M. Top dalam aksi keji itu. 

Indikasi itu menurut dia, terlihat dari kesamaan bahan peledak yang berada di Cilacap, milik jaringan Noordin dengan yang berada di JW Mariot dan Ritz Charlton. "Ada kesamaan tapi belum tentu jaringan yang sama," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri, Irejn Nanan Soekarna mengatakan, Polri tidak akan menyampaikan kesimpulan apapun sebelum semuanya jelas, didukung oleh fakta/data yang valid/objektif serta dapat dipertanggung-jawabkan baik secara hukum maupun ilmiah.

Pernyataan ini untuk mengantisipasi kemungkinan adanya isu atau informasi yang menyesatkan dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan kaitannya dengan dua ledakan hebat di dua hotel mewah itu. 

Semua pihak dihimbau untuk dapat menahan diri tidak memublikasikan berbagai spekulasi yang hanya akan membingungkan publik. "Jangan berandai-andai dan termakan isu yang tidak jelas," ujarnya.

Dia juga meminta kepada semua pihak untuk bersabar dan diharapkan ikut membantu memberikan informasi ke Penyidik Polri bila mendapatkan atau mempunyai informasi yang sekiranya berguna untuk mengefektifkan proses penyidikan. "Silahkan masyarakat menginformasikan kepada kami ke kontak komunikasi dan informasi di nomor 081382739874, 081382739875, 081382739876," ujar Nanan. 

Tragedi ledakan di dua hotel tersebut, menyebabkan sembilan orang tewas dan puluhan lainnya luka. Banyak diantara korban adalah warga negara asing.  Tim Dokter Forensik RS, Soekanto Kramatjati menyebutkan dari sembilan korban tewas, lima jenazah sudah berhasil terdientifikasi sedangkan empat lainnya masih dalam proses.

Ke-lima jenazah yang telah teridentifikasi itu antara lain Evert Mokodompis (WNI), Timothy D. Mackay (New Zeland), Senger Craig Andrew (Australia), Mcevoy Garth Rupert John (Australia) dan Verity Nathan John (Australia). 

Sedangkan korban yang masih dirawat di beberapa rumah sakit berjumlah 12 orang. Di RS Jakarta yakni Andri, Deni Purwanto, Dikdik Ahmad Taufik dan Bambang Trianto. Di RS Pertamina Dadang Hidayat. Sementara di RS MMC tujuh orang, Andrew Stuart Cobham (Kanada) Giovani Me Suhardi, I Gusti Agung Ray, Marico Asmarawati, Oki Utomo. Sudargo dan Yurike Martiningrum dan Yusuf Purnomo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau