JAKARTA, KOMPAS.com — Perkembangan bahasa Betawi yang semakin cepat mendorong niat Abdul Chaer untuk merevisi karyanya yang ia buat dalam edisi 1976 lalu. Menurut seorang ahli linguistik dari Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Universitas Khatolik Atmajaya, Bambang Kaswanti Purwo, kamus yang merupakan revisi dari karya Abdul Chaer tahun 1976 ini lebih lengkap dengan penambahan ungkapan dan peribahasa.
"Hal ini bagus karena semua unsur bahasa Betawi harus dipahami dan dilestarikan," katanya dalam seminar peluncuran Kamus Dialek Jakarta, Jakarta, Rabu (23/7).
Sementara itu, sang penulis, Abdul Anwar, mengatakan, kamus ini tidak hanya berisi tentang bahasa dan dialek Betawi, tetapi juga bahasa lain yang digunakan di Jakarta.
"Bahasa yang digunakan di Jakarta itu bukan hanya bahasa Betawi, tapi juga ada bahasa dan dialek lain, misalnya Melayu dan bahasa Indonesia sendiri. Karenanya, kamus ini ingin mengkaji berbagai bahasa dan dialek itu," ujarnya.
Sementara itu, ia juga mengatakan, tujuan menulis revisi kamus itu untuk memberikan informasi formal terhadap warga Jakarta atau Betawi, pada khususnya tentang dialek yang digunakan sehari-hari.
Penggunaan kata Jakarta, lanjutnya dalam judul kamusnya, memang sengaja tidak diubah dengan tujuan agar cakupan dialektikanya lebih luas.
Peneliti dari Betawi Foundation, JJ Rizal, mengatakan, isi dari kamus yang baru ini lebih memberi petunjuk bagi warga Betawi atau pengguna bahasa Betawi mengenai kaidah verbal yang baik dan benar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang