KOMPAS.com-Tidak menyangka. Itulah jawaban spontan warga Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, kala tahu tetangga mereka, Bahrudin Latif, kini diburu Tim Detasemen Khusus 88 Anti teror Mabes Polri karena terkait jaringan terorisme.
Lebih mengejutkan lagi bagi mereka, di rumah Bahrudin yang sederhana itu, buron utama jaringan teroris di Indonesia, Noordin M Top, sering berkunjung, bahkan menjadi menantu Bahrudin.
Di mata warga Pasuruhan, Bahrudin dan keluarganya adalah keluarga yang taat beragama, santun, dan ringan tangan. Anak-anaknya pun dididik hidup sederhana dan bersedia menolong warga setempat yang sedang kesulitan.
Ada sekali waktu warga yang sakit hingga tidak bisa menderes (menyadap nira kelapa), padahal menderes itu satu-satunya sumber kehidupannya. "Pak Bahrudin langsung membantu orang itu, naik pohon kelapa untuk menderes," tutur Ny Watim, istri Kepala Desa Pasuruhan.
Secara intelektual keagamaan, keluarga Bahrudin terbilang menonjol di desanya. Bahrudin dan kakak iparnya, Warsun, bersama sejumlah keponakannya mengelola Ponpes Al Muaddib. Dua saudara Bahrudin lainnya kini menjadi dosen di universitas ternama di Yogyakarta.
Bahrudin sendiri adalah lulusan Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Istri Bahrudin, Astuti, pernah menjadi seorang bidan sebelum akhirnya diminta berhenti oleh Bahrudin.
Anak-anak Bahrudin pun dikenal cerdas di bidang akademik. Menurut penuturan Kepala Desa Pasuruhan, Watim Suseno, anak-anak Bahrudin langganan mendapatkan ranking di sekolahnya, khususnya saat duduk di sekolah dasar. Lulus SD, semua anak Bahrudin dimasukkan ke pesantren. Hanya satu yang bersekolah di sekolah umum, yakni Cholid, anak keempatnya yang kini kuliah di Universitas Gadjah Mada.
"Cholid di sekolahkan pakdenya. Mungkin karena itu dia agak berbeda dengan yang lain," kata Watim.
Tertutup
Di balik citra intelektual yang menonjol itu, keluarga Bahrudin dikenal tetangganya sangat tertutup. Terkadang memalingkan wajah kala bertegur sapa di jalan dengan tetangganya. Tidak pernah ada anggota keluarga Bahrudin mengikuti kegiatan lingkungan. "Orangnya sangat tertutup. Tidak pernah namanya bertetangga," tutur Aris Kusmiarjo, ketua RT setempat.
Bahkan, untuk memasang bendera merah putih atau pun umbul-umbul saat kegiatan tujuhbelasan, mereka menolak melakukannya. "Bahrudin bilang memasang bendera sama dengan menyembah negara. Mereka tidak mau," tutur Samsul (30), tetangga sebelah rumah Bahrudin.
Dalam pandangan tetangganya, Bahrudin adalah seorang ustadz. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan mengisi pengajian dan mengajar di Pondok Pesantren Al Muaddib, yang dikelola bersama keluarga besarnya. Jamaah pengajian Bahrudin pun sebagian besar berasal dari luar desa. Di antara mereka jarang yang dikenal warga sekitar.
Pada tahun 2005, Bahrudin mengundang tetangga-tetangganya untuk syukuran pernikahan anaknya, Arina Rahma dengan seorang laki-laki yang tak pernah diketahui warga sekitar. Dalam syukuran tersebut, tak sekalipun Bahrudin menunjukkan seperti apa menantunya. Belakangan diketahui suami Arina bernama Ade Abdul Halim, yang dicurigai sebagai Noordin M Top.
Sejak menikahkan anaknya itu, Bahrudin kian tertutup. Dia juga semakin sering pergi ke luar daerah. Namun, tak ada satu pun tetangga yang berani menanyakan soal kepergiannya itu.
Pekerjaan Bahrudin sendiri di luar ceramah agama adalah serabutan. Di rumahnya dia membuka konter asesoris ponsel dan menjual madu, namun kedua usaha itu menurut para tetangganya sepi. Secara ekonomi pun mereka kategori pas-pasan.
"Untuk menutup kebutuhan keluarga, kadang Bahrudin menambal ban, kadang bertani, kadang juga menjadi tukang batu," tutur Aris Bunyamin, keponakan Bahrudin.
Para tetangga kerap melihat sejumlah pria datang ke rumah Bahrudin pada Jumat malam untuk berkumpul. Mereka berjumlah antara 10-15 orang. Para tetangga tak tahu pasti mereka berasal dari mana. Bahrudin tak pernah memperkenalkan mereka. "Orang-orang itu disapa saja kadang tidak menyahut. Datang dan pergi begitu saja," kata Samsul.
Tak Curiga
Namun demikian, berbagai kejanggalan terkait ketertutupan dan aktivitas keluarga Bahrudin tersebut tak menumbuhkan kecurigaan apapun di benak individu maupun kolektif warga.
Dengan semua kejanggalan itu, bagi warga setempat, Bahrudin adalah ustadz yang dipercaya sebagai ulama untuk menuntun warga dalam hidup beragama. Itu pula kiranya yang menjadi kendala bagi aparat desa memaksa Arina menyerahkan kartu tanda penduduk suaminya, Abdul Halim yang diduga sebagai Noordin M Top.
"Sudah berkali-kali saya minta kepada Arina, tetapi dia bilang nggak punya KTP suaminya. Ya sudah, mau bagaimana lagi," ucap Watim.
Meskipun 90 persen dari sekitar 5.100 warga Desa Pasuruhan adalah beragama Islam, namun kebanyakan awalnya mereka bukan kaum santri. Namun, sejak Ponpes Al Muaddib yang dikelola keluarga besar Bahrudin semakin berkembang sekitar tahun 2005, minat keagamaan warga setempat cenderung meningkat. Banyak yang kemudian mau shalat berjamaah. "Masjid pun semakin ramai," kata Watim.
Posisi sosial keagamaan itu pula yang membuat gerakan bawah tanah Bahrudin dan jaringannya tak pernah terendus kecurigaan warga desanya. Sepertinya, kelompok teroris ini tahu benar karakteristik sosial apa yang dapat mereka susupi.
Sebagai perbandingan, posisi sosial yang sama juga dimiliki Ahmad Yani (masih buron) dan Saefudin Zuhri (sudah ditangkap). Ahmad Yani yang tinggal di Desa Planjan, Kecamatan Kesugihan, diduga penyuplai bahan peledak untuk kelompok Noordin.
Yani, Zuhri, dan Bahrudin, oleh warga sekitarnya dikenal sebagai ustadz. Mereka sama-sama sangat tertutup dan hidup serba kekurangan secara ekonomi. Untuk bersosialisasi dengan warga sekitar, mereka nyaris tak pernah melakukannya. Bahkan, tetangganya pun dilarang masuk ke rumah mereka. Namun , tak satu pun warga yang curiga atas kejanggalan itu.
Jaringan teroris itu sepertinya sadar, secara psikologis warga menghormati mereka sebagai ustadz. Terlebih, secara ekonomi umumnya anggota jaringan teroris ini miskin. Hal itu membangun citra mereka bukan kelompok yang berdaya untuk melakukan tindak berbahaya.
Daerah Merah
Kondisi sosial dan historis juga kian menguntungkan para anggota jaringan teroris tersebut. Berdasarkan data Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Cilacap, daerah pesisir Cilacap termasuk Adipala dan Binangun merupakan kawasan persebaran paham komunis dan sekaligus Darul Islam pada tahun 1950-an dan 1960-an. Karenanya, masyarakatnya lekat dengan paham yang dogmatis.
Pemahaman dogmatis tersebut membuat mereka mudah menerima begitu saja pandangan keagamaan baru. Mereka pun cenderung permisif.
Kepala Kantor Kesbanglinmas Cilacap Yayan Rusyawan, mengungkapkan, masyarakat sekitar pesisir Cilacap juga memiliki orientasi ekonomi yang cukup tinggi. Salah satu indikasinya, Adipala dan sekitarnya merupakan kantong tenaga kerja Indonesia terbesar di Cilacap.
Orientasi ekonomi yang cukup tinggi itu membuat warga setempat semakin individualis dan tak acuh terhadap sesama. Sikap individualistis, permisif, dan cara pandang yang awam terhadap tokoh agama, makin mempermudah gerak susup jaringan terorisme untuk tumbuh berkembang.
"Kalau kondisi ini diimbangi oleh ilmu pengetahuan, tentu masyarakatnya tak akan mudah dipengaruhi. Cuma masalahnya, di sana tingkat pendidikan masih rendah," jelas Yayan.
Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman, Triwuryaningsih, mengatakan, bibit ekstrimisme sebenarnya tak hanya muncul di Cilacap, tetapi bisa tumbuh di seluruh Indonesia. Namun sebagai bekas kawasan merah , Cilacap dan daerah lainnya yang bekas kawasan merah kurang dikelola manajemen sosialnya oleh pemerintah.
Di pihak lain, lembaga-lembaga pemerintah lemah dalam memberikan jaminan keamanan maupun kesejahteraan kepada masyarakatnya, sehingga masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Masyarakat pun menjadi lebih percaya terhadap kelompok-kelompok yang menjanjikan kesejahteraan baik itu di dunia maupun di akhirat.
Pemerintah lebih banyak bekerja di belakang meja, dibandingkan mengenal masyarakatnya. Situasi itu dimanfaatkan jaringan terorisme.
Akhirnya, teroris pun lebih mengenal sosio-kultural di Indonesia dibanding pemerintah. Mereka mampu menyusup bak pahlawan akherat di pedesaan, yang merupakan relung terdalam unit komunal negeri ini.
Saat kelompok teroris itu menunjukkan wajah aslinya dengan serangkaian teror mengerikan, pemerintah dan aparat keamanan pun kembali tergopoh-gopoh memadamkan. Namun, persoalan utama berkembangnya terorisme tetap bertahan bak api dalam sekam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang