Keterlibatan Kerabat Ibrahim Masih Simpang Siur

Kompas.com - 29/07/2009, 07:35 WIB

KUNINGAN, KOMPAS.com - Keterlibatan Amir Abdullah alias Bambang terkait dengan peristiwa pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta masih simpang siur. Amir adalah mantan adik ipar Ibrahim, pegawai Ritz-Carlton yang menghilang pascapeledakan bom.

Di Kediri, Jawa Timur, 10 butir peluru aktif ditemukan seorang warga sipil tercecer di pinggir Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Setono Pande, Kota Kediri, Selasa (28/7). Namun, polisi membantah peluru tersebut terkait dengan aksi terorisme.

Ajun Komisaris Saikun, perwira pengawas Kepolisian Resor Kota Kediri, mengatakan, berdasarkan dugaan sementara, peluru itu merupakan milik anggota polisi atau TNI. Sepuluh butir amunisi senjata api itu meliputi jenis AK 47 (dua butir), jenis Colt 38 (7 butir), dan jenis US Caraben (1 butir). Namun, Kepala Polresta Kediri Ajun Komisaris Besar Rastra Gunawan mengatakan, temuan itu tidak berkaitan dengan kegiatan terorisme dan peristiwa pengeboman di Jakarta.

Komitmen

Di Jakarta, Selasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya kembali aksi terorisme pada masa datang, ia akan mengingatkan kembali komitmen dan tanggung jawab bersama para gubernur se-Indonesia dalam rapat koordinasi nasional yang akan digelar dalam waktu dekat.

Presiden mengatakan hal itu saat memberikan pengarahan sebelum memimpin rapat terbatas dengan tiga menteri koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan, serta perekonomian dan kesejahteraan rakyat, di Kantor Presiden. Rapat dihadiri antara lain Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Siapa Amir

Di Kuningan, Kepala Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Nur Rohidin, Selasa, mengatakan, Amir pernah menikah dengan Eri, adik kandung Sucihani. Sucihani adalah istri Ibrahim.

”Berdasarkan data desa, Amir dan Eri menikah tujuh bulan, tetapi bercerai. Eri kemudian menikah lagi, sedangkan Amir kami tidak tahu sekarang tinggal di mana,” kata Nur.

Nur mengatakan, Amir pernah tinggal di Sampora, kemungkinan berinteraksi dengan Ibrahim, karena pernah satu rumah.

Diperoleh informasi, rumah Amir di Desa Cikandang, Kecamatan Luragung, Kuningan, digeledah pada Senin malam lalu. Akan tetapi, ketika ditelusuri, warga dan pamong desa setempat tidak mengenal satu warga pun yang bernama Amir atau Bambang di desa itu.

Penelusuran di Dusun Cikondang, Desa Cibinbing, Kecamatan Cibinbing, yang terletak di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah juga nihil. Pejabat Sementara Kepala Desa Cibinbing Dudung mengatakan, tidak ada warganya yang bernama Amir.

Meski demikian, Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Cibinbing Inspektur Satu Ndang Herman mengakui anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror sepekan lalu mendatangi kecamatan tersebut.

Di Magelang, intensitas pengamanan Candi Borobudur di Jawa Tengah saat ini makin ditingkatkan. Kepala Kepolisian Resor Magelang Ajun Komisaris Besar Mustaqim mengatakan, petugas keamanan sudah ditambah dari rata-rata 10-15 orang saat ini menjadi 40 orang.

Upaya pengamanan lainnya, menurut Mustaqim, dengan memeriksa kendaraan serta barang bawaan para turis yang berkunjung ke candi.

Kepala Kepolisian Wilayah Kedu, Jateng, Komisaris Besar Agus Sofyan Abadi mengatakan, di wilayah Kedu jajaran Polwil Kedu merazia kendaraan dan melakukan pengamanan ketat di perbatasan Magelang-Yogyakarta, Magelang-Temanggung, Kebumen-Banyumas, dan Wonosobo-Banyumas.

Petugas Polresta Tegal menempelkan poster teroris Noordin M Top dan kawan-kawannya pada sejumlah tempat umum, mal, stasiun, terminal, hotel, hingga di kelurahan-kelurahan. Kepala Polresta Tegal Ajun Komisaris Besar Ahmad Husni mengatakan, penempelan foto sebagai salah satu tindakan antisipasi terhadap bahaya teroris.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) DI Yogyakarta, kemarin, meminta masyarakat yang mengetahui persembunyian Noordin M Top dan anggota jaringan teroris lainnya untuk melapor ke polisi. ”Ini dalam rangka mencegah perbuatan (teror) dan kerusakan yang lebih besar,” ujar Sekretaris Umum MUI DIY H Ahmad Kamaludiningrat, Selasa di Yogyakarta.

Kepercayaan

Dosen Pascasarjana Ilmu Sosial Universitas Indonesia, Kastorius Sinaga, dan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ikrar Nusa Bhakti menilai terjadi kesenjangan lebar antara pemerintah, terutama aparat, dan masyarakat terkait masalah keamanan. Kesenjangan besar terjadi karena kinerja dan perilaku aparat keamanan telah membuat masyarakat kehilangan kepercayaan.

Akibatnya, muncul sikap apatis, tidak peduli, permisif, dan menganggap isu-isu keamanan sebagai urusan pemerintah dan elite semata. ”Oleh masyarakat akar rumput, terorisme dinilai hanya urusan elite tertentu dan bukan masalah mereka,” ujar Kastorius. (NIT/EGI/WIE/WER/NIK/DWA/HAR)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau