Surya Paloh Tak Mau Buru-buru Maju

Kompas.com - 31/07/2009, 22:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun tidak tegas menyatakan dirinya akan maju sebagai calon Ketua Umum DPP Partai Golkar pada Musyawarah Nasional Partai Golkar mendatang, Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar Surya Paloh telah memberikan isyarat akan maju pada detik-detik terakhir sebagai calon Ketua Umum DPP Partai Golkar. Khususnya, bilamana memang ada permintaan dari Dewan Pimpinan Daerah.

Namun, diakuinya, sebagai Ketua Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, ia tidak mau terburu-buru menyatakan dirinya maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Ia harus mempertimbangkannya dengan baik sebelum maju.

"Saya ini, kan, masih Ketua Wanhat DPP Partai Golkar. Sebagai Ketua Wanhat, tentu saya harus legowo dan memberi kesempatan kader yang terbaik yang ingin memosisikan dirinya maju sebagai calon Ketua Umum DPP Partai Golkar. Kalau nantinya, barangkali, aspirasi yang dari daerah dan itu merupakan suatu..... (dukungan). Saya kira, barangkali saya yang terakhir kali (untuk maju)," ujar Surya Paloh, saat ditanya pers, seusai bertemu dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Muhammad Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (31/7) malam.

Surya Paloh mengakui untuk pertama kalinya sejak Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 8 Juli lalu, ia mengaku baru bertemu kembali dengan Kalla.

Ia kemudian menambahkan, "Kalau memang, harusnya saya menjadi ketua umum atau calon ketua umum partai, itu baru saya pikirkan dan saya baru ambil. Namun, kalau sampai sekarang ini, saya belum mendahulukan kepentingan diri saya untuk maju dalam kandidat bursa calon. Sekarang ini, saya memberikan kesempatan dan sejauh mana keseriusan dan kemungkinan barangkali kandidat Ketua Umum Partai Golkar yang ada. Ibaratnya, saya ini tut wuri handayani."

Dipertegas pers apakah artinya ia tidak akan maju sebagai calon Ketua Umum DPP Partai Golkar, Surya Paloh buru-buru menjawab, "Oh belum tentu. Mesti dipahami. Saya ini kan Ketua Wanhat. Kalau yang bertarung sebagai Ketua Wanhat, ya selesailah itu. Dia tidak boleh kalah, dia harus menang."

Ditanya mengenai klaim kandidat Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang menyatakan ada 480 DPD Tingkat I dan DPD Tingkat II Partai Golkar yang mendukungnya sehingga tidak ada peluang untuk mendukung dirinya, Surya Paloh menjawab, "Kalau itu memang benar, ya seharusnya begitu. Akan tetapi, yang penting jangan saya harus menjadi salesman."

Mengenai kehadiran Yuddy Chrisnandi sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar dari kalangan generasi muda, Surya Paloh memuji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau