Populasi Komodo di Cagar Alam Wae Wuul Turun

Kompas.com - 02/08/2009, 23:33 WIB

LABUAN BAJO, KOMPAS.com - Populasi komodo (Varanus komodoensis) di kawasan cagar alam Wae Wuul, di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur berada dalam posisi sangat terancam atau rentan untuk punah, karena jumlahnya terus mengalami penurunan secara signi fikan dalam kurun waktu 18 tahun.

Hal itu sebagaimana siaran pers tertulis yang diberikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Komodo Survival Program (KSP), yang ditandatangani oleh Program Coordinator Deni Purwandana. Dari survei populasi komodo dan mangsanya yang dilakukan pada 22 Juni -19 Juli 2009 di Cagar Alam Wae Wuul, ditangkap komodo hanya 17 ekor. Survei itu dilakukan bersama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTT.

Dengan jumlah populasi komodo itu berarti telah mengalami penurunan secara signifikan, sebab dari penelitian di tempat yang sama tahun 1991 ditemukan 66 ekor komodo, sedangkan tahun 2000 sebanyak 19 ekor. Tingkat kepadatan populasi komodo di tahun 2000 itu juga 10 kali lebih rendah dari yang dapat ditangkap di Taman Nasional Komodo (TNK).

Komodo yang berhasil ditangkap dalam survei itu pun ukurannya di bawah 4 kilogram (kg), dan yang paling besar hanya seekor, yaitu seberat 19 kg. Tidak ada seekor komodo pun yang beratnya lebih dari 20 kg.

Di sisi lain, populasi mangsa komodo, seperti rusa Timor (Cervus timorensis) juga mengalami penurunan. Penurunan jumlah populasi komodo itu diperparah dengan penurunan populasi mangsa, juga tingginya tekanan aktivitas manusia seperti penurunan rusa, dan pembakaran padang rumput di sekitar, maupun di dalam kawasan cagar alam.

"Dengan kondisi seperti ini perlu dilakukan pengelolaan habitat lebih baik lagi untuk mencegah ancaman yang mengganggu proses ekologis seperti kebakaran hutan," kata Ketua Komodo Survival Program (KSP) Jeri Imansyah yang dihubungi dari Ende, Flores, Sabtu (1/8) kemarin.

Jeri juga menyatakan, dengan mencermati jumlah populasi komodo di Wae Wuul itu, maka rencana pihak departemen kehutanan untuk pemurn ian genetik dengan memindahkan 5 pasang komodo di Wae Wuul ke Taman Safari Bali justru akan mengancam kepunahan komodo Flores.

Pihak KSP juga meminta Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang pemberian izin menangkap 10 ekor komodo di wilayah kerja Balai Besar KSDA NTT dibatalkan.

Menurut Jeri, salah satu opsi mendesak yang bisa dilakukan untuk melestarikan komodo Flores adalah dengan mengintroduksi mangsa komodo atau rusa ke Wae Wuul, meski hal itu juga perlu kajian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau