Selamat Jalan "Cory"

Kompas.com - 03/08/2009, 07:46 WIB
MANILA, KOMPAS.com Epifanio de los Santos Avenue kembali dipadati ribuan pendukung Corazon Aquino, Minggu (2/8). Kali ini bukan untuk mengobarkan kembali revolusi dengan ”kekuatan rakyat”, melainkan mengucapkan selamat jalan kepada Aquino yang wafat di usia 76 tahun, Sabtu.

Di Jalan EDSA itulah 23 tahun yang lalu Aquino menggerakkan massa memimpin revolusi damai, dikenal dengan revolusi EDSA, sehingga menggulingkan diktator Ferdinand Marcos. Ribuan orang berkumpul di sepanjang EDSA—sebuah jalan besar dan panjang di Manila— memberi penghormatan terakhir kepada Aquino yang wafat akibat kanker usus besar.

Tidak peduli panas terik serta hujan rintik-rintik, ribuan warga Filipina sabar maju sedikit demi sedikit untuk bisa melihat Aquino yang terbaring dalam peti mayat dari kaca dan disemayamkan—untuk sementara—di sekolah La Salle Greenhills, paling tidak berjarak sekitar 1 kilometer dari EDSA. Selama ini lokasi itu menjadi tempat berbagai macam pertemuan kubu prodemokrasi.

Sepanjang EDSA dan di dalam sekolah yang terlihat hanya warna kuning, warna simbol gerakan anti-Marcos. Ribuan pelayat yang mengenakan pita atau baju berwarna kuning masing-masing diberi kesempatan memberi penghormatan terakhir selama beberapa detik.

”Saya ikut revolusi EDSA (1986). Saya mau melihat beliau untuk terakhir kalinya. Beliau satu-satunya orang yang mau melawan kekuasaan Marcos,” kata Ferdie Songco (49) yang mengantre empat jam.

Perasaan serupa diungkapkan Vicky Buenaflor. ”Saya ada di sini ketika EDSA. Sekarang saya ingin menunjukkan kecintaan saya kepada Presiden Cory karena selama ini beliau juga mencintai seluruh rakyat Filipina,” ujarnya.

Salah seorang relawan kelompok perdamaian AS, Sharon Kelb, ikut mengantre dengan kaca mata gelap dan topi lebar. ”Aquino penting bagi demokrasi di dunia. Mengharukan melihat warga Filipina yang rela antre untuk ikut memberi penghormatan terakhir,” ujarnya.

Putri bungsu Aquino, Kristina Bernadette Yap, menegaskan keluarga sudah memutuskan tidak mengadakan upacara pemakaman kenegaraan. Kristina yang juga aktris layar kaca dan layar lebar mengaku pemerintahan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo menawarkan pemakaman kenegaraan, tetapi keluarga tidak menerima tawaran itu.

Satu-satunya putra Aquino, yaitu Senator Benigno Aquino III, menegaskan tidak akan ada upacara pemakaman kenegaraan karena sejak awal tidak ada rencana pemakaman besar-besaran. ”Ini niat kami sejak awal. Beliau warga biasa sejak mengundurkan diri. Kami hanya ingin pemakaman keluarga saja,” ujarnya.

Menurut rencana, Aquino akan dimakamkan di sebelah makam suami sekaligus pemimpin kubu oposisi di Filipina, Benigno ”Ninoy” Aquino, Rabu depan.

Ikon demokrasi

Aquino yang bernama lengkap Maria Corazon Cojuangco itu lahir pada tanggal 25 Januari 1933 di daerah Paniqui, 120 kilometer sebelah utara Manila. Perlawanan tanpa kekerasan Aquino berawal segera setelah Benigno tewas ditembak di bandara Manila pada tahun 1983. Benigno ditembak tidak lama setelah tiba di Manila setelah mengasingkan diri di AS. Benigno kembali ke Filipina untuk memulai perlawanannya kepada Marcos.

Setelah itu, Aquino kembali ke Filipina dari AS bersama suami hanya untuk menyelenggarakan prosesi pemakaman terbesar yang pernah ada di Manila. Jumlah pelayat diperkirakan sebanyak 2 juta orang. Pembunuhan Benigno itulah yang membuat rakyat marah dan memicu munculnya gerakan perlawanan serta mengubah Aquino menjadi pemimpin nasional.

Pada 1986 Aquino dilantik sebagai presiden perempuan pertama Filipina dan Marcos mengasingkan diri di AS hingga akhir hayat. Marcos wafat tiga tahun setelah hidup di pengasingan. Aquino mengundurkan diri jabatannya pada tahun 1992 setelah berkuasa selama enam tahun. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau