Di Jalan EDSA itulah 23 tahun yang lalu Aquino menggerakkan massa memimpin revolusi damai, dikenal dengan revolusi EDSA, sehingga menggulingkan diktator Ferdinand Marcos. Ribuan orang berkumpul di sepanjang EDSA—sebuah jalan besar dan panjang di Manila— memberi penghormatan terakhir kepada Aquino yang wafat akibat kanker usus besar. Tidak peduli panas terik serta hujan rintik-rintik, ribuan warga Filipina sabar maju sedikit demi sedikit untuk bisa melihat Aquino yang terbaring dalam peti mayat dari kaca dan disemayamkan—untuk sementara—di sekolah La Salle Greenhills, paling tidak berjarak sekitar 1 kilometer dari EDSA. Selama ini lokasi itu menjadi tempat berbagai macam pertemuan kubu prodemokrasi. Sepanjang EDSA dan di dalam sekolah yang terlihat hanya warna kuning, warna simbol gerakan anti-Marcos. Ribuan pelayat yang mengenakan pita atau baju berwarna kuning masing-masing diberi kesempatan memberi penghormatan terakhir selama beberapa detik. ”Saya ikut revolusi EDSA (1986). Saya mau melihat beliau untuk terakhir kalinya. Beliau satu-satunya orang yang mau melawan kekuasaan Marcos,” kata Ferdie Songco (49) yang mengantre empat jam. Perasaan serupa diungkapkan Vicky Buenaflor. ”Saya ada di sini ketika EDSA. Sekarang saya ingin menunjukkan kecintaan saya kepada Presiden Cory karena selama ini beliau juga mencintai seluruh rakyat Filipina,” ujarnya. Salah seorang relawan kelompok perdamaian AS, Sharon Kelb, ikut mengantre dengan kaca mata gelap dan topi lebar. ”Aquino penting bagi demokrasi di dunia. Mengharukan melihat warga Filipina yang rela antre untuk ikut memberi penghormatan terakhir,” ujarnya. Putri bungsu Aquino, Kristina Bernadette Yap, menegaskan keluarga sudah memutuskan tidak mengadakan upacara pemakaman kenegaraan. Kristina yang juga aktris layar kaca dan layar lebar mengaku pemerintahan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo menawarkan pemakaman kenegaraan, tetapi keluarga tidak menerima tawaran itu. Satu-satunya putra Aquino, yaitu Senator Benigno Aquino III, menegaskan tidak akan ada upacara pemakaman kenegaraan karena sejak awal tidak ada rencana pemakaman besar-besaran. ”Ini niat kami sejak awal. Beliau warga biasa sejak mengundurkan diri. Kami hanya ingin pemakaman keluarga saja,” ujarnya. Menurut rencana, Aquino akan dimakamkan di sebelah makam suami sekaligus pemimpin kubu oposisi di Filipina, Benigno ”Ninoy” Aquino, Rabu depan. Aquino yang bernama lengkap Maria Corazon Cojuangco itu lahir pada tanggal 25 Januari 1933 di daerah Paniqui, 120 kilometer sebelah utara Manila. Perlawanan tanpa kekerasan Aquino berawal segera setelah Benigno tewas ditembak di bandara Manila pada tahun 1983. Benigno ditembak tidak lama setelah tiba di Manila setelah mengasingkan diri di AS. Benigno kembali ke Filipina untuk memulai perlawanannya kepada Marcos. Setelah itu, Aquino kembali ke Filipina dari AS bersama suami hanya untuk menyelenggarakan prosesi pemakaman terbesar yang pernah ada di Manila. Jumlah pelayat diperkirakan sebanyak 2 juta orang. Pembunuhan Benigno itulah yang membuat rakyat marah dan memicu munculnya gerakan perlawanan serta mengubah Aquino menjadi pemimpin nasional. Pada 1986 Aquino dilantik sebagai presiden perempuan pertama Filipina dan Marcos mengasingkan diri di AS hingga akhir hayat. Marcos wafat tiga tahun setelah hidup di pengasingan. Aquino mengundurkan diri jabatannya pada tahun 1992 setelah berkuasa selama enam tahun.