JAKARTA, KOMPAS.com — Gelagat dua partai besar, PDI-P dan Partai Golkar, yang hendak merapat ke pemenang Pilpres 2009 dinilai mengacaukan. Jika itu terjadi, mereka justru telah mengkhianati pilihan rakyat dan merusak cita-cita sistem presidensial.
"Mayoritas rakyat kan memilih Demokrat, sedangkan PDI-P dan Golkar tidak. Itu hak demokrasi. Tapi sekarang demi kepentingan masing-masing mau menyeberang, masuk ke pemerintah. Itu kan mengkhianati pilihan rakyat, namanya," tutur pengamat politik, Arbi Sanit, di sela-sela peluncuran sebuah buku di kawasan Kemang, Selasa (4/8).
Jika benar pula, keduanya justru merusak upaya membangun cita-cita sistem pemerintahan presidensial dengan cara berpolitiknya yang tradisional karena nantinya tidak jelas, siapa pihak yang berkuasa, dan siapa yang mengontrol sebagai oposisi.
"Sementara dalam sistem presidensial harus jelas. Dengan demikian, tetap saja, sistem kita enggak jelas. Kalau terus-menerus begini, negara ini akan terus kabur, keruh," ujar Arbi menyinggung dampak masif perbuatan golongan yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang