Merapat ke Demokrat? Golkar dan PDI-P Khianati Rakyat!

Kompas.com - 04/08/2009, 16:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gelagat dua partai besar, PDI-P dan Partai Golkar, yang hendak merapat ke pemenang Pilpres 2009 dinilai mengacaukan. Jika itu terjadi, mereka justru telah mengkhianati pilihan rakyat dan merusak cita-cita sistem presidensial.

"Mayoritas rakyat kan memilih Demokrat, sedangkan PDI-P dan Golkar tidak. Itu hak demokrasi. Tapi sekarang demi kepentingan masing-masing mau menyeberang, masuk ke pemerintah. Itu kan mengkhianati pilihan rakyat, namanya," tutur pengamat politik, Arbi Sanit, di sela-sela peluncuran sebuah buku di kawasan Kemang, Selasa (4/8).

Jika benar pula, keduanya justru merusak upaya membangun cita-cita sistem pemerintahan presidensial dengan cara berpolitiknya yang tradisional karena nantinya tidak jelas, siapa pihak yang berkuasa, dan siapa yang mengontrol sebagai oposisi.

"Sementara dalam sistem presidensial harus jelas. Dengan demikian, tetap saja, sistem kita enggak jelas. Kalau terus-menerus begini, negara ini akan terus kabur, keruh," ujar Arbi menyinggung dampak masif perbuatan golongan yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau