Roket Taliban Hantam Kabul

Kompas.com - 05/08/2009, 06:46 WIB

KABUL, KOMPAS.com — Kurang dari tiga minggu sebelum pemilihan umum nasional, delapan roket menghujam kota Kabul, Selasa (4/8) dini hari. Dua mendarat di kawasan berpenduduk dekat Kedutaan AS. Tiga warga sipil luka-luka akibat serangan bom tersebut.

Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid, mengatakan, serangan itu untuk menggarisbawahi bahwa Pemerintah Afganistan tidak bisa mengontrol situasi keamanan di sekitar Kabul, menjelang pemilu presiden.

Dia mengklaim kelompoknya menembakkan 11 roket, sembilan ditujukan ke bandara internasional dan dua ke markas besar Angkatan Darat Afganistan.

Dia memperingatkan akan menembakkan lebih banyak lagi roket di kemudian hari.

Serangan roket jarang terjadi di ibu kota Kabul, tetapi pernah mencapai kawasan permukiman dekat markas besar NATO dan kompleks kedutaan negara-negara Barat pada masa lalu.

Ditembakkan dengan pengatur waktu, roket-roket itu sering kali ditembakkan dari jarak jauh, dari bukit-bukit di sekeliling kota itu, tetapi sering kali tidak akurat. Meski demikian, serangan roket itu juga terkadang membunuh atau melukai warga.

”Suaranya sangat nyaring, suara yang luar biasa. Saya kira pada saat itu rumah kami roboh,” kata seorang pelajar sekolah menengah atas berusia 17 tahun, Elaha. Dia mengatakan terluka di tangan dan dadanya karena sebuah roket yang mendarat di luar gedung apartemennya.

Korban lainnya, Muhibullah (21), mengatakan, ledakan itu membuatnya terlempar ke ruangan lain dan menjadikan apartemennya penuh dengan asap hitam dan debu. ”Saya melihat darah keluar dari kaki. Saya sangat ketakutan, saya kira saya kehilangan kaki, tetapi itu hanya sebuah sobekan kecil,” katanya.

Kedutaan AS

Di lokasi peristiwa, Mayor Ghulam Rasul dari Angkatan Darat Nasional Afganistan mengatakan meyakini roket-roket itu merupakan roket jarak jauh time BM1, yang bisa ditembakkan dari tempat peluncuran kecil di darat, beberapa kilometer dari targetnya. ”Ibu kota dijaga ketat. Mereka pasti menembakkannya dari jarak jauh,” kata Rasul.

Kolonel Fatih Uddin, kepala keamanan di kediaman Menteri Dalam Negeri yang rusak akibat roket itu, memperkirakan, bangunan itu kemungkinan bukan target utama serangan. ”Tentu saja, target utama tampaknya Kedutaan AS,” katanya.

Sedangkan Kedutaan AS mempertanyakan kemungkinan itu. ”Tidak ada indikasi roket-roket itu ditargetkan ke tempat-tempat tertentu di Kabul,” kata juru bicara kedubes AS, Fleur Cowan.

Wakil Kepala Kepolisian Kabul Mohammad Khalil Dastyar mengatakan, terlalu dini untuk mengetahui dengan pasti apa tujuan para penyerang. Dia menyebutkan ada tujuh roket yang ditembakkan dari timur laut Kabul, sebelum pukul 05.00.

”Mereka hanya berusaha menyabotase dan menciptakan ketegangan di Kabul,” tambah Dastyar, sambil menambahkan bahwa serangan roket itu tidak merusak bandara internasional.

Beberapa suara tembakan sporadis terdengar segera setelah serangan roket-roket itu, tetapi polisi tidak mengetahui siapa yang melepaskan tembakan-tembakan itu. Taliban sebelumnya telah mengancam akan mengganggu pemilu 20 Agustus, meski Presiden Hamid Karzai meminta Taliban ikut memilih. (AP/AFP/Reuters/OKI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau