Perbankan Bersaing Menawarkan KPR

Kompas.com - 06/08/2009, 16:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki semester kedua tahun ini, bank mulai panen permintaan kredit pemilikan Rumah (KPR). Ini sejalan dengan berlanjutnya penurunan bunga acuan. Maklum, penurunan bunga acuan mendorong para bankir ikut memangkas suku bunga KPR. Tingginya permintaan KPR diperkirakan bertahan hingga akhir tahun.

Permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) mulai menggeliat di semester kedua tahun ini. Di saat pasar marak lagi, para bankir adu cepat menjaring calon nasabah KPR baru. Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (BI), nilai KPR dan kredit kepemilikan apartemen (KPA) hingga tipe 70 sebesar Rp 52 triliun. Ini naik 3,4% dari posisi per awal tahun 2009. Sedangkan nilai KPR dan KPA untuk tipe 70 ke atas meningkat dari Rp 50,9 triliun di awal 2009 menjadi Rp 51,7 triliun per akhir Mei.

Pertumbuhan KPR terekam di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Bahkan, kredit konsumsi, yang mencakup KPR, merupakan satu-satunya jenis kredit di BCA yang mengalami pertumbuhan. Kredit konsumsi BCA tumbuh 8,1% dari Rp 20,9 triliun per akhir 2008 menjadi Rp 22,6 triliun per akhir Juni 2009.

Khusus untuk KPR di BCA, nilai outstanding merangkak naik dari Rp 10,3 triliun di
akhir 2008 menjadi Rp 10,6 triliun per akhir semester I-2009. "Permintaan KPR baru pulih tiga bulan terakhir," ujar Wakil Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Di periode itu, permintaan KPR yang masuk ke BCA memang naik kencang. Untuk bulan Juni saja, permohonan KPR baru mencapai Rp 1 triliun. Adapun nilai KPR yang sudah mendapat persetujuan BCA sebesar Rp 180 miliar. "Permintaan akan naik makin kencang di semester dua. Apalagi setelah ada pemangkasan bunga kredit," kata Jahja

PT Bank BNI Tbk juga mengalami peningkatan permintaan KPR. Hingga akhir semester I 2009, outstanding kredit konsumsi Bank BNI sebesar Rp 17,5 triliun. Sebanyak 43% dari kredit konsumsi tersebut merupakan KPR. "Angka 43% itu belum termasuk KPR untuk ruko dan rukan," kata Direktur Konsumer BNI Darwin Suzandi.

BNI juga optimistis, permintaan KPR di semester dua semakin meningkat. "Perekonomian mulai menggeliat. Kami targetkan KPR kami bisa tumbuh 14% hingga 15% tahun ini," ujar Darwin. 

Direktur Bisnis PT Bank UOB Buana Safrullah Hadi Saleh juga yakin, pertumbuhan KPR masih akan tinggi sepanjang semester kedua. Di akhir semester 1, total nilai KPR UOB Buana sebesar Rp 2,7 triliun. Nilai ini menyusut 12,9% dari outstanding per akhir 2008 yang mencapai Rp 3,1 triliun. Soalnya, "Nyaris tidak ada permintaan kredit baru pada semester pertama tahun ini," katanya.

Namun, Safrullah optimistis UOB Buana mampu mencapai target KPR antara Rp 3,4 triliun hingga Rp 3,5 triliun di akhir tahun ini. "Target yang kami pasang itu berarti pertumbuhan 10% sampai 15% dibandingkan posisi di akhir KPR, strategi utama para bankir adalah menawarkan bunga rendah. 

"Besaran bunga KPR sangat menentukan besarnya cicilan yang wajib dipenuhi oleh debitur," ujar Jahja.

Saat ini BCA menawarkan bunga khusus KPR sebesar 9,9% yang berlaku fixed selama dua tahun. Setelah periode itu, bunga KPR akan mengikuti bunga pasar. Yang bisa menikmati bunga khusus ini hanyalah para nasabah yang sudah memiliki rekening BCA selama minimal 2 tahun.


BNI juga mengandalkan strategi memangkas bunga untuk menggaet nasabah baru KPR. Darwin mengklaim, BNI sudah memangkas bunga tiga kali sejak awal tahun. Bunga KPR BNI saat ini berkisar 12,5%-14% per tahun. "Penurunan BI Rate dan kondisi likuiditas terkini memungkinkan bank untuk memangkas bunga," ujar Darwin.

Sedangkan bunga yang dipatok UOB Buana kini bervariasi. Misal, bunga KPR 13% fixed selama setahun. Ada juga bunga tetap 13,5% untuk dua tahun. Program lain adalah bunga tetap 14% selama tiga tahun. Di awal tahun ini, rata-rata bunga KPR UOB Buana masih 15%-16%.

Para bankir meramal, bunga KPR bisa turun lebih rendah lagi, mengingat tren penurunan bunga acuan belum selesai. Namun, penurunan bunga ini hanya bisa dinikmati nasabah baru.
Nasabah lama harus mengikuti kesepakatan bunga di awal. 

"Nasabah lama bisa menikmati bunga yang terpangkas setelah bunga fixed jatuh tempo," ujar Safrullah. 

Meski kemarin BI kembali memangkas bunga acuan, BI Rate, dari 6,75% menjadi 6,5%, calon debitur yang mengincar bunga KPR lebih rendah lagi harus bersabar. Para bankir beralasan, pemangkasan bunga KPR tak bisa serta merta mengikuti penurunan bunga acuan. "Bank harus menyesuaikan terlebih dahulu biaya dana," kata Jahja. (KONTAN/Dyah Megasari)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau