LAMONGAN, KOMPAS.com - Pada puncak Hari Anak Nasional Jawa Timur yang dipusatkan di Wisata Bahari Lamongan, disampaikan lima rekomendasi suara anak-anak untuk Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Lima hal yang diajukan ke Pak De Karwo yakni penyediaan fasilitas kota yang layak untuk anak, pendidikan anak, sosial budaya yang terkait hak-hak anak, kesehatan dan perlindungan untuk anak yang membutuhkan perlindungan khusus di Jatim.
Pembacaan lima suara anak itu dilaksanakan oleh Rendi Aditya Prayoga, Elpina, Ardi Juan Saputra dan duta anak yang juga bertindak sebagai dirijen lagu kebangsaan Indonesia Raya pada puncak peringatan Hari Anak Nasional di Jakarta lalu, Mega Pratidina Putr i. Pembawa acara siswa SD Negeri Jetis III Lamongan Ananda Firdausya Ciptananda, pengisi acara baca puisi Radik Woro Dinalar siswa SDN I Kampungdalem, Tulakan, Kabupaten Tulungagung. Pembacaan doa oleh Muhammad Khoirul Rizal siswa SDN Kauman I Klojen, Kota Malang.
Sekolah Gratis dan Gaji Ustadz
Gubernur Jatim Soekarwo menyampaikan program sekolah gratis di Jatim serta pemberian gaji untuk para guru sekolah swasta terutama untuk sekolah yang tidak masuk sistem pendidikan nasional. Pada 2010 nanti semua sekolah wajib belajar 9 tahun gratis termasu k sekolah yang tidak memenuhi syarat pendidikan. Saat ini, sekolah gratis dimulai dengan pilot project di Kabupaten Sampang dan Bondowoso. Sementara untuk ustadz yang biasanya hanya digaji Rp 100.000 hingga Rp 150.000 pada 2010 nanti minimal gajinya akan sama dan lebih besar dari Upah Minimum Kabupaten (UMK), ujar Soekarwo.
Dalam sesi wawancara oleh reporter cilik Ratu Tiana, Soekarwo menyatakan sekolah diniyah, salafiah atau sorogan juga akan diurusi Pemprov Jatim bersama Kabupaten/Kota. Pada tingkat ula atau setingkat SD akan menerima Rp 15.000 per bulan, tingkat wusto ata u setingkat Tsanawiyah Rp 20.000 hingga 25.000 per bulan.
Sekolah gratis itu termasuk 13 jenis biaya operasional. Kalau ada sekolah yang masih minta sumbangan atau ada dermawan yang mau menyumbang harus seizin kepala daerah melalui Kepala Dinas Pendidikan setempat. Program mini diperkirakan menelan biaya Rp 1,3 triliun melalui sharing dengan kabupaten/kota masing-masing 50 persen, katanya.
Soekarwo berpesan agar anak-anak yang telah dididik dengan cerdas jangan sampai melupakan moral dan agama. Menurut dia, tidak ada gunanya anak cerdas tapi kalau agama, sopan santun dan moralnya tidak bagus. "Saya minta bantuan guru, orang tua dan masyarak at untuk menjadikan anak-anak anak yang cerdas, tapi santun dan berakhlak mulia. Inilah basis pembangunan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang