Keberadaan Industri Pencemar Air Tanah di Jombang Ilegal

Kompas.com - 06/08/2009, 22:04 WIB

JOMBANG, KOMPAS.com - Industri pencucian tekstil berupa potongan atau perca jenis jeans di Dusun Banggle, Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Kamis (6/8) keberadaannya dipastikan ilegal. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang Nawi Setij anto menyebutkan, industri yang mulai beroperasi sejak 2007 itu tidak memiliki izin gangguan tempat usaha atau hinder ordonantie yang dikenal pula sebagai HO.

Selain itu, diketahui pula bahwa industri yang sebelumnya disebutkan bernama CV Sido Guntur itu ternyata hanya berbentuk UD Sido Waras. Nawi mengatakan, industri itu hanya memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan atau SIUP.

Padahal, mestinya sebelum SIUP dikantongi, pengusaha terlebih dahulu mesti memiliki HO. Atau setidaknya bersamaan. "Yah, memang waktu itu kita kurang koordinasi sehingga SIUP itu terbit duluan," ujar Nawi.

Ia menyebutkan, berbekal SIUP tersebut, pengusaha industri itu merasa kegiatan usahanya tetap legal. Namun ia memastikan, surat teguran dari Bupati Jombang Suyanto agar lokasi industri itu ditutup sudah dilayangkan untuk yang ketiga kalinya.

Sementara itu, pengusaha yang menjalankan industri pencucian tekstil berupa potongan atau perca jenis jeans itu, Matrais (44) membantah keras usahanya mencemari lingkungan. Siapa bilang air disini tercemar, warga yang mengeluh itu hanya dari orang-orang yang tidak senang, katanya.  

Matrais yang merupakan rekanan Sido Guntur kemudian secara demonstratif meminum air limbah itu. Lihat ini, tidak beracun, kalau airnya beracun tentu saya sudah mabuk, katanya sembari menyeruput air buangan limbah berbau klorin menyengat berwarna coklat .

Tri Winarni (46), istri pengusaha industri bernama Sido Guntur itu mengatakan bahan baku usahanya diambil dari Jakarta. Obat (bahan kimia) saya ambil di Surabaya, dan nanti (setelah potongan kain dicuci) dijual lagi di Surabaya, katanya.  

Potongan-potngan kain jeans yang jadi putih kembali setelah direndam dan dicuci dalam larutan bahan kimia itu lalu dijual lagi untuk didaur ulang sejumlah industri peminat. "Saya tetap akan membela (usaha) ini. Soalnya modal yang keluar tidak sedikit, da n ternyata usaha ini juga menampung banyak tenaga kerja," kata Matrais.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau