JOMBANG, KOMPAS.com - Industri pencucian tekstil berupa potongan atau perca jenis jeans di Dusun Banggle, Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Kamis (6/8) keberadaannya dipastikan ilegal. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang Nawi Setij anto menyebutkan, industri yang mulai beroperasi sejak 2007 itu tidak memiliki izin gangguan tempat usaha atau hinder ordonantie yang dikenal pula sebagai HO.
Selain itu, diketahui pula bahwa industri yang sebelumnya disebutkan bernama CV Sido Guntur itu ternyata hanya berbentuk UD Sido Waras. Nawi mengatakan, industri itu hanya memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan atau SIUP.
Padahal, mestinya sebelum SIUP dikantongi, pengusaha terlebih dahulu mesti memiliki HO. Atau setidaknya bersamaan. "Yah, memang waktu itu kita kurang koordinasi sehingga SIUP itu terbit duluan," ujar Nawi.
Ia menyebutkan, berbekal SIUP tersebut, pengusaha industri itu merasa kegiatan usahanya tetap legal. Namun ia memastikan, surat teguran dari Bupati Jombang Suyanto agar lokasi industri itu ditutup sudah dilayangkan untuk yang ketiga kalinya.
Sementara itu, pengusaha yang menjalankan industri pencucian tekstil berupa potongan atau perca jenis jeans itu, Matrais (44) membantah keras usahanya mencemari lingkungan. Siapa bilang air disini tercemar, warga yang mengeluh itu hanya dari orang-orang yang tidak senang, katanya.
Matrais yang merupakan rekanan Sido Guntur kemudian secara demonstratif meminum air limbah itu. Lihat ini, tidak beracun, kalau airnya beracun tentu saya sudah mabuk, katanya sembari menyeruput air buangan limbah berbau klorin menyengat berwarna coklat .
Tri Winarni (46), istri pengusaha industri bernama Sido Guntur itu mengatakan bahan baku usahanya diambil dari Jakarta. Obat (bahan kimia) saya ambil di Surabaya, dan nanti (setelah potongan kain dicuci) dijual lagi di Surabaya, katanya.
Potongan-potngan kain jeans yang jadi putih kembali setelah direndam dan dicuci dalam larutan bahan kimia itu lalu dijual lagi untuk didaur ulang sejumlah industri peminat. "Saya tetap akan membela (usaha) ini. Soalnya modal yang keluar tidak sedikit, da n ternyata usaha ini juga menampung banyak tenaga kerja," kata Matrais.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang