BOJONEGORO, KOMPAS.com — Dua siswa SMP Ngraho Bojonegoro, R (13), siswa kelas II dan D (14) siswa kelas III yang dirawat di RSUD dr Sosodoro Djatiekusumo Bojonegoro dinyatakan positif flu babi. Semula keduanya dirawat di Puskesmas Ngraho. Setelah dicek darahnya di Surabaya dinyatakan positif terjangkit flu babi, maka kedua pasien langsung dirujuk ke RSUD dr Sosodoro Djatiekusumo untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Keduanya masuk ruang isolasi, Sakura, Jumat (7/8) pukul 21.15.
Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro Hariono menyatakan, Bojonegoro dalam kondisi luar biasa flu babi karena sebelumnya tidak pernah ada flu babi akibat virus influenza tipe A-H1N1. Dua pasien mendapatkan pengawasan serius. "Status KLB ini agar masyarakat lebih waspada, tetapi tidak panik. Orang yang kontak langsung dengan babi, serta warga Bojonegoro yang pernah bekerja di luar negeri juga dipantau khusus," kata Hariyono saat dihubungi Jumat petang.
Sebelumnya pada 4 Agustus lalu ada lapoan puluhan siswa SMP Ngraho menderita flu dan batuk bersamaan. "Dinas Kesehatan Bojonegoro dan Puskesmas Ngraho mengecek dan mendata serta mengambil sampel darah dan air liur dari mereka yang sakit. Sampel itu dikirim k e laboratorium di Surabaya. Hasil tes di laboratorium menunjukkan, R dan D positif terjangkit A-H1N1," kata Hariono.
Hariyono meminta puskesmas yang ada di Bojonegoro terus memantau wilayah masing-masing dan memanfaatkan Tamiflu yang sudah didistribusikan. Ia mengatakan, orangtua yang melihat keluarganya ada yang sakit bisa langsung dibawa ke puskesmas agar penyakitnya bisa dideteksi lebih dini.
Di Bojonegoro tersedia sekitar 5.000 tamiflu, setiap puskesmas mendapatkan 100 tamiflu. Bila ada daerah lain mengalami gejala lebih banyak bisa dilakukan pengalihan atau pergeseran tamiflu. Sebanyak 36 puskesmas dan 68 puskesmas pembantu diimbau melayani warga yang sakit, terutama yang terkena dampak A-H1N1. Hariono mengimbau agar masyarakat berperilaku hidup sehat dan menggunakan air bersih untuk apa saja. Air yang dikonsumsi sebaiknya dimasak.
Humas RSUD dr Sosodoro Djatiekusumo, dr Thomas Djaja, menyatakan, dua pasien itu diketahui terjangkit H1N1 sejak dirawat di Puskesmas Ngraho. Salah satu siswa diduga tertular dari orangtuanya yang bekerja di Pelabuhan Surabaya.
Sementara itu, Ll (13) warga Desa Dinoyo, Kecamatan Deket, Lamongan, juga dinyatakan positif terjangkit virus influenza tipe A-H1N1. Dia dirawat di ruang isolasi RSUD Dr Soegiri Lamongan. Suhu badannya di atas 38 derajat celsius sejak Rabu (5/8).
Ketua Tim Penanganan Flu Babi di RSUD Dr Seogiri Lamongan Suhartadi menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan Tamiflu pada Ll. Sampel darah dibawa ke Laboratorium RSUD Dr Soetomo Surabaya untuk diuji.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Lamongan M Shochieb menyatakan, pada 27 Juli lalu, Pengurus Ponpes Sunan Drajat memberitahukan ada ratusan santri terserang flu sejak 9 Juli. Dinkes pun menerjunkan tim untuk memeriksa santri yang sakit. Dari sampel cairan hidung dan tenggorokan yang diambil dan diuji laboratorium di Surabaya menunjukkan satu santri positif terjangkit A-H1N1. Sebagai antisipasi, sudah didistribusikan 100 Tamiflu ke setiap puskesmas di Lamongan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang