Mengurangi Risiko Alergi Lewat Pola Makan

Kompas.com - 08/08/2009, 13:17 WIB

 

Siapa yang tidak kasihan melihat bocah berusia 18 bulan dengan kondisi hidung selalu "meler" dan hampir setiap minggu batuk dan pilek. Azriel, nama bocah itu, ternyata memiliki alergi yang diturunkan dari ibunya, Ria Resti (25), yang memiliki riwayat alergi debu dan menderita asma.

Alergi balita memang bukan suatu penyakit. Alergi adalah reaksi hipersensitivas tubuh terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing atau berbahaya. Reaksi alergi biasanya muncul bila balita memiliki kecenderungan bawaan (genetik) seperti pada Azriel.

Gejala alergi bisa timbul pada semua usia, namun paling sering terjadi pada anak-anak. Anak yang lahir dari orangtua yang keduanya memiliki alergi beresiko terkena alergi sampai 80 persen. Sedangkan anak yang salah satu orangtuanya memiliki riwayat alergi risikonya sekitar 40 persen.

Selain faktor genetik, alergi juga bisa muncul karena faktor lingkungan, yakni faktor infeksi dan polutan. Polutan adalah zat-zat yang tidak langsung menyebabkan alergi tetapi merusak benteng pertahanan (barrier) di dalam tubuh. Misalnya polusi, debu, tungau, spora jamur, atau bulu binatang.

Sementara itu pada bayi dan balita biasanya polutan masuk lewat saluran cerna, yang berasal dari makanan. Makanan yang bisa mencetuskan alergi di antaranya adalah susu sapi, telur, makanan laut, juga kacang-kacangan.

Kasus alergi balita terus meningkat dari tahun ke tahun. "Dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus alergi akibat makanan hingga 500 persen," kata Dr.Pete Smith, Associate Professor Medical Clinic dari Griffith University, Australia, dalam seminar Dietary Prevention of Allergy, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi yang menetap sampai akhir masa kanak-kanak, baik dalam bentuk susu murni atau bentuk lain. Meski demikian biasanya alergi susu sapi biasanya hilang seiring dengan matangnya saluran pencernaan bayi.

Ketidakseimbangan sel-T
Teori terkini berhasil menjawab mengapa seorang anak menderita alergi sementara yang lainnya tidak. Hal itu ternyata disebabkan oleh sel-T, yakni sel yang berperan dalam respons kekebalan tubuh terutama dalam mengenali kehadiran benda asing yang masuk ke dalam tubuh.  

Sel T ini dalam tubuh ada dua, yakni sel T helper I (Th I) yang tugasnya mencegah infeksi dari dalam, misalnya melawan sel kanker, dan sel T helper II (Th II) yang mencegah infeksi dari luar, seperti kuman atau virus. "Bila Th II mendominasi, maka akan terjadi alergi pada seseorang," kata dr.Zakiudin Munasir, Sp.A (K), Kepala Sub Bagian Alergi-Imunologi bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Orang yang dalam kondisi sehat, Th I dan Th II-nya seimbang. "Untuk menyeimbangkannya diperlukan sel T regulator, yakni sel yang mengatur," ujar dokter Zaki. Hal ini menjelaskan studi lainnya yang mengatakan adanya probiotik di saluran cerna akan merangsang T regulator untuk penyeimbangan sel T dalam tubuh dan mencegah alergi.

Dalam studi meta-analisis terhadap enam penelitian mengenai probiotik dan alergi yang dilakukan terhadap 2080 balita, diketahui angka kejadian eksim akibat alergi menurun secara signifikan (95 persen). Meski demikian Smith mengatakan bahwa penelitian terhadap hal ini masih perlu dilakukan, mengingat ada beberapa jenis kuman baik.

Pemberian probiotik untuk bayi dan balita, menurut Smith, diberikan dalam bentuk susu. "Probiotik akan menggandakan diri di dalam usus, karena itu pemberian sejak dini sangat disarankan," katanya.

Senada dengan Smith, dokter Zaki menyatakan bahwa pencegahan alergi yang krusial adalah saat enam bulan pertama kehidupan bayi. "Jika bakat alergi sudah diketahui sejak dini, orangtua bisa membuat strategi untuk mengurangi risiko alergi itu dengan pola makan," ujarnya.

Bila bayi  memiliki risiko alergi, dokter Zaki menyarankan agar diberikan ASI ekslusif. "Ibu yang menyusui juga sebaiknya menghindari makanan yang mencetuskan alergi, seperti kacang, telur atau susu, dan menggantinya dengan bahan makanan lain yang gizinya seimbang," ujar Ketua UKK Alergi Imunologi PP IDAI ini.

Namun demikian, meski ibu hamil memiliki alergi ia tidak disarankan melakukan pantang makanan karena penelitian menunjukkan Th II dalam ibu hamil memang tinggi. "Ibu hamil tidak perlu pantang makanan karena bayinya bisa kurang gizi," kata dokter Zaki. Ia menyarankan agar ibu hamil berhenti merokok karena bisa meningkatkan kadar Th II.

Sementara itu untuk ibu yang tidak dapat memberikan ASI disarankan untuk memberi susu hipoalergenik yang mengandung probiotik. Selanjutnya sampai usia satu tahun, dokter Zaki menyarankan agar orangtua menunda pemberian makanan yang bisa mencetuskan alergi.

Konsumsi omega-3 yang mengandung asam lemak dan vitamin D juga disarankan untuk balita karena terbukti mengurangi risiko alergi.  Selain menghindari makanan yang hiperalergenik, perlu juga dilakukan menghindari alergen yang berasal dari lingkungan, misalnya debu dan asap rokok.

Mengapa alergi perlu dicegah? "Bayi atau balita yang terkena alergi, saat dewasanya mudah terkena alergi, misalnya asma atau rhinitis (batuk pilek)," papar dokter Zaki. Perkembangan itu disebut allergy march atau road to allergy. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, terutama biologi molekuler intervensi dini dianggap merupakan hal yang sangat penting yang diharapkan dapat mengubah proses penyakit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau