Rancangan Gedung dan Serangan Bom

Kompas.com - 10/08/2009, 16:18 WIB
KOMPAS.com - Serangan terorisme dalam bentuk bom kembali terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pada Jumat (17/7) pagi hingga memakan korban jiwa dan luka-luka.

Penulis ikut merasa prihatin dan berduka sedalam-dalamnya atas kejadian tersebut. Apa mau dikata, serangan terorisme masih menjadi ancaman amat nyata bagi kita di Indonesia.

Serangan bom sering kali, atau bahkan mungkin selalu, menjadikan gedung sebagai sasaran. Tentu saja dengan maksud membahayakan hingga membunuh sebanyak mungkin penghuni gedung sasaran. Semua sasaran serangan terorisme akhir-akhir ini di Indonesia adalah gedung publik komersial yang dipadati pengunjung. Akibatnya memang sangat fatal, yaitu korban jiwa dan luka-luka.

Mengingat begitu banyaknya serangan bom yang menimpa gedung, bagaimana desain bangunan menanggapi hal tersebut?

Tanggapan dalam bentuk desain adalah upaya-upaya meminimalkan kemungkinan suatu gedung menjadi sasaran serangan bom serta mengurangi dampak kerusakan dan bahaya terhadap penghuni akibat ledakan. Desain sendiri tidak bisa mencegah suatu bangunan menjadi sasaran serangan. Desain adalah bentuk pertahanan pasif.

Amerika Serikat, terutama sejak serangan 9/11, telah menetapkan standar antiterorisme pada gedung federal yang dianggap sasaran utama serangan teroris. Berat atau ringannya standar yang diterapkan disesuaikan dengan sensitivitas gedung federal tersebut. Standar antiterorisme adalah syarat mutlak suatu gedung federal.

Pada kasus kita di Indonesia, selama ini serangan teroris dalam bentuk bom hampir selalu menimpa gedung umum komersial, terutama yang dianggap melayani banyak orang asing. Apakah kita harus menetapkan standar antiterorisme pada gedung umum komersial demi mengurangi bahaya akibat ledakan?

Rasanya hal ini tidak mungkin dilakukan, mengingat begitu luasnya cakupan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk hal ini. Apalagi dalam kasus serangan terakhir ledakan berasal dari dalam gedung dan tidak ada yang bisa dilakukan pada desain untuk benar-benar mencegah bahan peledak masuk ke gedung bersama pelakunya.

Meski demikian, ada beberapa hal yang bisa diterapkan bersamaan dan bisa menjadi pertimbangan desain bagi pihak-pihak terkait.

Pertama adalah jarak bebas dan ruang terbuka sekeliling bangunan.

Jarak bebas adalah jarak minimal antara gedung dengan jalan kendaraan bermotor dan parkir. Dengan demikian, gedung memiliki daerah penyangga untuk meminimalkan serangan dari kendaraan bermotor. Penempatan daerah servis, seperti bak sampah, juga harus dipertimbangkan jaraknya terhadap bangunan.

Hampir pasti setiap gedung memerlukan area turun-naik penumpang (drop off) dan area bongkar muat barang (loading dock). Apabila area-area ini mutlak harus bersentuhan langsung dengan gedung, mau tidak mau pemeriksaan terhadap kendaraan yang akan memasuki area ini harus diperketat. Akses langsung terhadap gedung ini juga harus menjadi tempat larangan parkir.

Ruang terbuka di sekeliling gedung dimaksudkan untuk menghindari atau meminimalkan adanya obyek yang dapat dijadikan tempat menyembunyikan bom. Obyek yang dimaksud bisa berupa lanskap dan fiturnya, peralatan mekanis-elektris pendukung gedung, dan bak sampah.

Kedua, mencegah keruntuhan struktur secara beruntun.

Struktur bangunan, terutama untuk gedung berlantai lebih dari tiga, dirancang sedemikian rupa sehingga apabila terjadi kegagalan struktur pada suatu area akibat ledakan bom tidak akan merembet ke bagian struktur yang lain. Dengan demikian, kegagalan struktur secara total pada seluruh gedung dapat dihindari.

Ketiga, hindari membuat bagian gedung terhuni dalam bentuk kantilever (bagian gedung yang pendukungnya hanya pada satu ujungnya-Red).

Ledakan bom memberikan gaya angkat terhadap kantilever yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kerusakan fatal pada bagian gedung tersebut.

Eksterior

Pertimbangan keempat yang dapat menjadi pertimbangan adalah perkuatan rangka eksterior, seperti pintu, jendela, curtain wall, dan kaca.

Pada suatu ledakan bom, sering kali yang menjadi bahaya bagi manusia adalah serpihan bagian gedung yang beterbangan akibat tekanan ledakan. Rangka pintu dan jendela dapat terlepas dan menjadi proyektil yang amat berbahaya. Demikian juga pecahan kaca yang beterbangan.

Rangka-rangka eksterior dapat diperkuat sehingga tidak terlepas saat terjadi ledakan. Kaca bisa dilapisi satu lapisan khusus yang menjaga agar pecahan kaca tidak beterbangan. Cara lain yang lebih ekonomis bisa dilakukan dengan memasang tirai khusus di belakang jendela/kaca yang menahan pecahan kaca agar tidak terbang ke dalam bangunan.

Perabotan interior juga dapat menjadi proyektil saat terjadi ledakan. Tetapi, hampir tidak ada yang bisa dilakukan untuk meminimalkan dampak bahaya dari perabotan/interior apabila ledakan terjadi di dalam gedung.

Kelima adalah mengamankan akses gedung melalui area servis.

Akses ke dalam gedung, seperti atap, ruang mesin lift, dan masukan udara, harus diamankan untuk mencegah penyusupan.

Sekali lagi, desain tidak dapat mencegah suatu gedung menjadi sasaran serangan teroris berbentuk bom. Yang dapat dilakukan adalah meminimalkan dampak apabila serangan terjadi.

Penerapan langkah-langkah di atas memerlukan biaya cukup signifikan. Namun, mengingat sudah sekian sering terjadi serangan bom oleh teroris di Indonesia, ada baiknya pihak pemilik gedung, baik yang sudah ada maupun yang akan dibangun, mulai memikirkan faktor antiterorisme pada desain. (Dony I Pasaribu Arsitek; terlibat dalam perencanaan proyek-proyek gedung berstandar antiterorisme di Amerika Serikat).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau