Pemerintah Siapkan Hujan Buatan

Kompas.com - 10/08/2009, 20:20 WIB

SLAWI, KOMPAS.com — Untuk mengatasi berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau, petani diharapkan menggunakan sistem gilir air. Namun, apabila ketersediaan air tetap tidak mencukupi, pemerintah akan menyiapkan hujan buatan untuk membantu masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, saat meninjau kondisi air Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal, Senin (10/8). Menurut Djoko, ketersediaan air pada musim kemarau memang sedikit, termasuk ketersediaan air pada waduk. Upaya yang dapat dilakukan agar petani tetap bisa menanam padi yaitu dengan menggunakan sistem gilir. Meskipun demikian, agar tetap bisa memberikan manfaat secara lebih luas, proses tanam tidak boleh dilakukan secara bersamaan.

Sebenarnya, menurut dia, kondisi yang terjadi tahun ini masih lebih baik bila dibandingkan tahun lalu. Namun, apabila tidak ada tambahan air pada musim kemarau ini, kondisi tersebut diperkirakan tetap akan mengganggu panen padi pada musim tanam kedua.

"Oleh karena itu, selain menyiapkan hujan buatan, pemerintah juga mengantisipasi kekeringan dengan membeli sekitar 186 unit mesin pompa air. Untuk irigasi kita membeli pompa-pompa air yang cukup," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga menggalakkan pembangunan sumur-sumur bor. Dengan demikian, apabila tidak ada hujan, masyarakat masih bisa mendapatkan air dari sumur tanah.

Air minum

Djoko mengatakan, selain air untuk irigasi, hal lain yang perlu diperhatikan yaitu ketersediaan air bersih untuk kebutuhan minum masyarakat. Pasalnya, pada musim kemarau saat ini, sebagian masyarakat tidak bisa mendapatkan air bersih secara mencukupi.

Salah satu upaya mengatasi persoalan tersebut yaitu dengan membuat instalasi penjernihan air minum secara berkeliling. Air tanah yang sudah dijernihkan kemudian dibawa dengan mobil tangki untuk disalurkan kepada masyarakat.

Menurut dia, penanggung jawab dalam pengelolaan instalasi penjernihan air minum adalah perusahaan daerah air minum (PDAM), dan bukan pemerintah pusat. "Air minum untuk masyarakat itu menjadi tanggung jawab pemda. Kalau karena sesuatu hal PDAM tidak mampu sehingga masyarakat menderita, baru pemerintah pusat turun tangan," katanya.

Waduk Cacaban

Sementara itu, berkurangnya ketersediaan air juga sudah mulai terjadi pada Waduk Cacaban. Pengamat Pengairan Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Adiwerna Kabupaten Tegal Darto mengatakan, saat ini volume air Waduk Cacaban hanya sekitar 20,75 juta meter kubik. Padahal, seharusnya volume waduk tersebut masih mencapai sekitar 25 juta meter kubik.

Ketersediaan air pada waduk Cacaban juga hanya mampu memenuhi sekitar 42 persen dari kebutuhan. Agar masih tetap bisa dimanfaatkan, sejak 1 Juli lalu para petani sudah melakukan sistem gilir. Diperkirakan, air waduk tersebut akan bisa dimanfaatkan hingga awal Oktober mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau