JAKARTA, KOMPAS.com - Publik sebaiknya jangan terseret euforia menyusul penyergapan serentak jaringan teroris di Bekasi dan Temanggung. Polisi tengah menyelidiki kemungkinan bahwa pria yang tewas di Temanggung merupakan pelaku lain, selain Noordin M Top.
Dengan demikian, kewaspadaan warga terhadap lingkungannya jangan mengendur.
”Jangan euforia dulu. Sekalipun suatu saat nanti Noordin M Top akhirnya tertangkap, bukan berarti ancaman teror tamat. Kita masih harus senantiasa mewaspadai lingkungan. Noordin bukan segalanya. Semangat dan keyakinan Noordin sudah tertanam di banyak pengikutnya,” kata Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai, Senin (10/8).
Jumat pekan lalu, Tim Polisi Antiteror menggelar operasi serentak di Bekasi (Jawa Barat), serta Solo dan Temanggung (Jawa Tengah). Polisi memburu jaringan teroris kelompok Noordin yang diduga terlibat dalam pengeboman terakhir di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Dari operasi itu polisi menewaskan dua orang di Bekasi, yakni Air Setiyawan dan Eko Joko Sarjono. Sementara dalam pengepungan rumah milik Muhjahri di Desa Beji, Kedu, Temanggung, polisi menewaskan seorang pria, Mr X, yang tengah diidentifikasi.
Ansyaad mengatakan, berdasarkan penyelidikan polisi di lapangan, ada indikasi kuat kelompok Noordin kembali memanfaatkan mantan narapidana terorisme yang masih memendam semangat dan keyakinan ideologi mereka. Hal itu terindikasi dari keterlibatan Air Setiyawan, yang juga pernah ditangkap tahun 2004 terkait pengeboman Kedutaan Besar Australia.
Selain itu, kelihaian Noordin untuk merekrut anggota baru juga telah terwariskan ke pengikutnya, salah satunya SJ, seperti yang disebut Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri.
Ansyaad mengatakan, kemunculan sosok SJ menunjukkan kemampuan kelompok Noordin tak hanya maju dari segi modus, tetapi juga dari segi kecakapan merekrut anggota. SJ merupakan perekrut dua pelaku bom bunuh diri di JW Marriott dan Ritz-Carlton, yakni Dani Dwi Purnama (19) dan Nana Ichwa Maulana (28). Polisi kini masih memburu SJ dan sejumlah buronan lainnya.
Identitas Mr X
Sementara itu, polisi tengah menyelidiki kemungkinan jasad Mr X di Temanggung merupakan salah satu dari pelaku yang memang diburu pascapeledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton. Selain memeriksa DNA—sebagai pemeriksaan final—polisi juga memeriksa sidik jari jasad Mr X.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna membenarkan, polisi juga memeriksa sidik jari jasad tersebut. ”Ya semuanya, termasuk sidik jarinya, DNA-nya, kami cek. Namun, hasil DNA yang paling diakui secara luas,” katanya.
Salah satu kemungkinan yang tengah dicocokkan polisi adalah sidik jari buronan Ibrohim alias Boim dengan jasad tersebut. Kapolri sebelumnya menyebutkan, Boim, penata bunga di Hotel Ritz-Carlton, merupakan calon pelaku bunuh diri yang akan meledakkan bom mobil dengan sasaran iring-iringan kendaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari kediaman di Cikeas.
Berdasarkan dokumen yang ditemukan Tim Polisi Antiteror di lokasi Jatiasih, Bekasi, rencana serangan itu telah melalui tahapan survei target yang cukup matang. Mobil bak terbuka Mitsubishi Jet Star warna merah telah disiapkan dan digerinda nomor sasis dan nomor mesinnya.
Keterangan Amir Abdillah yang ditangkap di Semper, Jakarta Utara, Kamis pagi, kepada polisi menyebutkan, Ibrohim telah menyatakan kesiapannya untuk amaliyah dengan melaksanakan pengeboman bunuh diri pada bulan Agustus ini.
Bukan sosok SBY
Ansyaad menjelaskan, sasaran terhadap Presiden bukanlah hal baru dalam jaringan teroris yang memegang ideologi seperti kelompok Noordin. Selain upaya memberi pelajaran kepada aparat negara yang mengeksekusi tiga rekan mereka, yakni Amrozi dan kawan-kawan, serangan terhadap Presiden merupakan serangan yang memuat pesan permusuhan permanen terhadap perangkat negara (Presiden) sekuler yang mengusung ideologi produk Barat, yakni demokrasi.
”Bukan SBY sebagai individu yang ditarget, tetapi sebagai perangkat negara (presiden) dari negara yang dianggap sekuler. Jadi, siapa pun presidennya akan ditarget. Ini pernah terjadi sebelumnya,” ujar Ansyaad.
Ansyaad mengingatkan, upaya pembunuhan terhadap Megawati Soekarnoputri saat menjabat presiden tahun 2001 juga pernah terjadi. Namun, bom tanpa sengaja meledak lebih dulu di Plaza Atrium Senen, Jakarta Pusat, 1 Agustus 2001. Ketika itu, Megawati tengah memimpin rapat PDI-P di Pecenongan, Jakarta Pusat. Hal itu diakui Umar Al-Faruq, anggota jaringan Al Qaeda dan Jemaah Islamiyah (JI), yang ditangkap di Bogor, Jawa Barat (2002).
Jauh sebelumnya, mantan Presiden Soekarno juga pernah disasar bom granat dalam Peristiwa Cikini (1957). Terlepas dari dugaan keterlibatan pihak asing saat itu, salah satu yang terlibat adalah Saleh Ibrahim. Belakangan kini terungkap, tiga keponakan Saleh (kakak dari Ahmad Kandai, aktivis Darul Islam) juga terlibat sejumlah aksi pengeboman, mulai dari di Kedutaan Besar Filipina (2000), bom malam Natal (2000), dan bom Plaza Atrium Senen (2001). Ideologi Nasakom yang diusung Soekarno saat itu menjadi latar belakang serangan granat tersebut.
Keluarga Ibrohim
Keluarga Ibrohim yang tinggal di Dusun Kliwon, Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tetap beraktivitas seperti biasa pascapenyergapan di Temanggung dan Bekasi.
Kepala Desa Sampora Nur Rohidin mengatakan, keluarga Ibrohim dalam kondisi sehat dan berkumpul lengkap di rumah mereka sendiri. Sampai Senin ini belum juga ada polisi yang datang memberi tahu untuk bertemu dengan Sucihani, istri Ibrohim.
Selama ini, berdasarkan pengakuan para tetangga, Ibrohim diketahui tidak pernah membawa rekan-rekannya pulang ke Kuningan. ”Ibrohim hanya pulang seminggu sekali, itu pun dihabiskan untuk bermain dengan anak-anaknya,” kata Yahya, salah seorang tetangga Ibrohim.
Sejak Jumat berkembang spekulasi di media massa, jasad Mr X yang ditemukan pascapenyerbuan polisi di rumah Muhjahri adalah Noordin M Top. Namun, hingga Senin malam kemarin, Asludin Hatjani, pengacara Arina Rahmah—istri dari pria yang mirip Noordin—memastikan polisi belum meminta pihak Arina mengenali jasad Mr X tersebut.
Dari Temanggung dilaporkan, pria misterius atau Mr X diduga dijemput dari suatu tempat oleh Aris Susanto (31), warga Desa Kedu, menjelang Kamis tengah malam. Sebelumnya, Aris masih mengikuti pertemuan di rumah temannya, Lutfi Syarifudin (22), bersama Indra hingga pukul 22.00. ”Dia lalu pulang pukul 22.00,” ujar Lutfi.
Sebelumnya, Endang Istianingsih (59), istri Muhjahri, mengungkapkan, Aris menitipkan pria misterius di rumahnya pada Jumat lalu sekitar pukul 02.30. Pria itu rencananya akan dijemput Aris pada Jumat sore. Namun, belum sempat dijemput, rumah Muhjahri lebih dahulu disergap polisi.
Dalam kurun waktu pukul 22.00 sampai 02.30, tak satu pun anggota keluarga Aris yang mengetahui keberadaan Aris.
Hari pengeboman
Sebelumnya, Kapolri menyebutkan, taksi Blue Bird sempat mengangkut dua pria mencurigakan pada hari pengeboman (17 Juli) ke Hotel Ritz-Carlton.
Kepada Kompas, sopir taksi Blue Bird (saksi) itu mengaku, taksinya ditumpangi salah satu dari mereka di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, sekitar pukul 06.00. Lalu, satu pria lagi baru naik di kawasan Mega Kuningan, tak jauh dari Ritz-Carlton. Taksi lalu diminta berhenti di depan akses masuk untuk karyawan di Ritz-Carlton.
”Ada dua kardus yang diturunkan dan dua ikat tanaman daun,” kata sopir taksi itu.
Ansyaad mengingatkan, gejala infiltrasi teroris ke hotel cukup mengkhawatirkan. Satu lagi terbukti, Amir Abdillah, yang ditangkap di Semper, juga pekerja di salah satu hotel berbintang di Jakarta. (SF/EGI/HAN/NIT/WER/INA/NAR)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang