TEHERAN, KOMPAS.com Demikian dilaporkan Press TV Iran, Selasa (11/8), mengutip Tabnak, situs berita yang diasosiasikan dengan politisi oposisi Mohsen Rezaie. Press TV juga melaporkan, Kementerian Intelijen Iran memperingatkan media untuk tidak mengungkapkan apa yang disebut ”data rahasia”, setelah sebuah laporan Senin menyebutkan bahwa Ahmadinejad telah ”membersihkan” empat pejabat intelijen senior. Pemerintah Iran, Senin, juga menuduh Barat telah mencampuri urusan dalam negeri, dengan mengkritik persidangan massal terhadap para pengunjuk rasa, dengan tuduhan mata-mata dan berupaya menggulingkan penguasa setelah pemilu 12 Juni yang dipersengketakan itu. ”Apakah kami mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain? Mengapa mereka harus mencampuri urusan kami? Iran akan menolak upaya-upaya seperti itu,” kata pejabat senior pemerintah, Hassan Qashqavi. Di tempat terpisah, aktivis peraih Nobel Perdamaian dari Iran, Shirin Ebadi, Selasa, menyerukan diselenggarakannya pemilihan umum baru di bawah pemantauan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengakhiri kekerasan di negaranya. Dia juga mendesak Sekjen PBB Ban Ki-moon berkunjung ke Teheran. Ebadi menentang penggunaan kekerasan terhadap warga yang memprotes terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Dia juga meminta dihentikannya peradilan para lawan politik, dilepaskannya para tahanan, diakhirinya sensor, dan pemberian ganti rugi kepada para korban kekerasan Ebadi menyerukan tekanan internasional terhadap Teheran untuk menghentikan kekerasan. Akan tetapi, ia menegaskan menentang sanksi-sanksi ekonomi atau intervensi militer. Kubu oposisi Iran kemarin mengatakan, sedikitnya 69 orang tewas pada kerusuhan pascapemilu. Jumlah itu didasarkan atas keterangan para keluarga korban dan angkanya masih bertambah. Pemerintah mengatakan, hanya 30 orang tewas dalam aksi-aksi demonstrasi menyusul tuduhan kecurangan pemilu. ”Kami mencatat nama-nama 69 orang yang tewas dan sekitar 220 yang ditahan serta menyerahkannya kepada komite khusus parlemen pada sebuah pertemuan dengan parlemen, Senin,” jelas Ali Reza Behesti. Larijani sebelumnya mengungkapkan, panel khusus parlemen diminta menyelidiki situasi di penjara dan perlakuan terhadap para tahanan serta menyimpulkan benar tidaknya tuduhan pemerkosaan itu.