Larijani Serukan Selidiki Pemerkosaan

Kompas.com - 12/08/2009, 06:30 WIB
 
 

TEHERAN, KOMPAS.com - Ketua Parlemen Iran menyerukan agar diadakan penyelidikan atas tuduhan terjadinya pemerkosaan terhadap para tahanan peristiwa kerusuhan pascapemilihan umum. Parlemen Iran juga telah membentuk sebuah panel untuk menyelidiki kasus tersebut.

Demikian dilaporkan Press TV Iran, Selasa (11/8), mengutip Tabnak, situs berita yang diasosiasikan dengan politisi oposisi Mohsen Rezaie.

Press TV juga melaporkan, Kementerian Intelijen Iran memperingatkan media untuk tidak mengungkapkan apa yang disebut ”data rahasia”, setelah sebuah laporan Senin menyebutkan bahwa Ahmadinejad telah ”membersihkan” empat pejabat intelijen senior.

Pemerintah Iran, Senin, juga menuduh Barat telah mencampuri urusan dalam negeri, dengan mengkritik persidangan massal terhadap para pengunjuk rasa, dengan tuduhan mata-mata dan berupaya menggulingkan penguasa setelah pemilu 12 Juni yang dipersengketakan itu.

”Apakah kami mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain? Mengapa mereka harus mencampuri urusan kami? Iran akan menolak upaya-upaya seperti itu,” kata pejabat senior pemerintah, Hassan Qashqavi.

Kunjungan PBB

Di tempat terpisah, aktivis peraih Nobel Perdamaian dari Iran, Shirin Ebadi, Selasa, menyerukan diselenggarakannya pemilihan umum baru di bawah pemantauan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengakhiri kekerasan di negaranya. Dia juga mendesak Sekjen PBB Ban Ki-moon berkunjung ke Teheran.

Ebadi menentang penggunaan kekerasan terhadap warga yang memprotes terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Dia juga meminta dihentikannya peradilan para lawan politik, dilepaskannya para tahanan, diakhirinya sensor, dan pemberian ganti rugi kepada para korban kekerasan

Ebadi menyerukan tekanan internasional terhadap Teheran untuk menghentikan kekerasan. Akan tetapi, ia menegaskan menentang sanksi-sanksi ekonomi atau intervensi militer.

Kubu oposisi Iran kemarin mengatakan, sedikitnya 69 orang tewas pada kerusuhan pascapemilu. Jumlah itu didasarkan atas keterangan para keluarga korban dan angkanya masih bertambah.

Pemerintah mengatakan, hanya 30 orang tewas dalam aksi-aksi demonstrasi menyusul tuduhan kecurangan pemilu.

”Kami mencatat nama-nama 69 orang yang tewas dan sekitar 220 yang ditahan serta menyerahkannya kepada komite khusus parlemen pada sebuah pertemuan dengan parlemen, Senin,” jelas Ali Reza Behesti.

Larijani sebelumnya mengungkapkan, panel khusus parlemen diminta menyelidiki situasi di penjara dan perlakuan terhadap para tahanan serta menyimpulkan benar tidaknya tuduhan pemerkosaan itu.

(AP/AFP/Reuters/CNN/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau