Kiwi, Eksotik dan Padat Gizi

Kompas.com - 17/08/2009, 01:23 WIB

KOMPAS.com - Sekilas seperti buah sawo, berwarna cokelat dan sedikit oval bentuknya. Namun buah yang bila dikupas akan terlihat hijau atau ada yang berwarna kuning emas (gold) ini berbeda dengan sawo. Kulit buahnya berbulu dan rasanya manis.

Buah bernama latin Actinidia deliciosa ini sangat mudah kita temui di supermarket kota-kota besar di Indonesia dan memiliki komposisi kimia yang terdiri dari unsur-unsur non gizi dan gizi yang penting bagi kesehatan kita.

Padat Gizi
Untuk mereka yang menginginkan potongan tubuh yang singset dan langsing, kiwi bisa jadi pilihan ngemil di malam hari karena rendah lemak dan kalori. Menurut Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS, Ph.D guru besar bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB, kandungan energi dalam setiap 100 gam kiwi hanya 61 Kkal atau kurang dari 40 persen jumlah energi yang terdapat pada pisang.

Kandungan energi ini bahkan lebih rendah dibanding jeruk, lemon, stroberi, belewah, pepaya, orange dan anggur.

Selain unsur non gizi ini, kiwi dikatakan kaya gizi. Buah ini merupakan sumber asam amino argini dan glutamat. Arginin merupakan asam amino yang sifatnya menurunkan tekanan darah (vasodilator), meningkatkan aliran darah dan mengobati gejala impotensi.

Asam amino yang sama juga mencegah terjadinya plak pada dinding arteri terutama pada pasien angioplasty (bedah plastik pembuluh darah).

Beberapa vitamin yang terkandung dalam kiwi juga patut diacungi jempol. Dari hasil penelitian, kiwi mengandng vitamin C 17 kali lebih banyak dibanding buah apel, dua kali lebih banyak  dibanding jeruk dan lemon.

Sementara kandungan vitamin E pada kiwi dua kali lipat lebih banyak dibanding alpukat. Masih ada kandungan vitamin B1, B2, B6, vitamin A, asam folat, niasin, dan asam pantotenat.

Vitamin C dan E merupakan senyawa antioksidan yang bermanfaat dalam menangkal radikal bebas yang biasa kita temukan dalamasap rokok dan asap kendaraan bermotor. Antioksidan ini berfungsi memperlambat penuaan dan memelihara sel-sel kulit agar tetap awet muda, mengurangi risiko terserang jantung koroner, dan mencegah kanker.

Jenis antioksidan lain yang bisa ditemui dalam buah kiwi antara lain karoten, lutein, xanthophyl, flavonoid. Menurut Made Astawan, kapasitas antioksidan terhadap senyawa radikal bebas ini menempati posisi ketiga tertinggi setelah orange dan anggur merah.
 
Sementara itu, kandungan mineral yang ada dalam buah kiwi antara lain kalium (potasium), magnesium, kalsium, tembaga, seng, mangan dan fosfor. Kandungan kalium 5,4 mg/kalori lebih tinggi dibanding pisang (4,2 mg/kalori) meski sedikit lebih rendah dibanding pepaya (6,6 mg/kalori) dan aprikot (6,2 mg/kalori).

Menurut Made, senyawa kalium berperan penting dalam menjaga fungsi toto dan gerak refleks sistem saraf. Kalium juga menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Karena itu, olehragawan dan pekerja berat dianjurkan mengonsumsi cukup kalium. Kalium juga diyakini mampu menurunkan tekanan darah.

Senyawa magnesium dalam buah kiwi termasuk yang tertinggi dari 27 jenis buah yang umum dikonsumsi. Padahal, rendahnya konsumsi magnesium, menurut Made dapat menyebabkan  munculnya hipertensi dan penyakit jantung.

Karena itu, dalam bukunya yang berjudul Superfoods Healthstyle, Dr. Steven Pratt menyebutkan buah eksotik ini sebagai satu jenis  buah atau makanan super karena kiwi menduduki rangking teratas dari segi gizi.

Journal of the American College of Nutrition bahkan menyatakan dari 27 jenis buah yang umum dikonsumsi, kiwi memiliki kepadatan nutrisi (nutrient density) paling tinggi.  

Sumber Serat Larut dan Klorofil
Dalam berbagai penelitian disebutkan bahwa serat dalam makanan bermanfaat besar dalam mencegah berbagai penyakit. Dengan kata lain, kurang serat menimbulkan masalah bagi tubuh sepertisembelit, pengerasan pembuluh darah, ambeien, hernia, usus buntu , kanker usus besar, serangan jantung koroner, kencing manis dan munculnya batu empedu.

Karena itu konsumsi serat dalam kiwi pun berperan sama dalam menyehatkan tubuh. Serat yang terdapat dalam buah kiwi termasuk serat larut pektin

Sementara warna hijau yang biasa kita temui pada kiwi merupakan pigmen klorofil yang tidak berubah dalam proses pematangan. Klorofil ini, menurut Made Astawan, mempunyai sifat antimutagenik atau mencegah penyebaran gen penyebab kanker.

Klorofil juga melidungi sistem kekebalan tubuh lewat kemampuannya meredam reaktivitas senyawa radikal bebas. Karena itu, tak perlu ragu mengonsumsi buah cantik ini.

Abdi Susanto

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau