Pesan Mubarak Tegas

Kompas.com - 19/08/2009, 05:45 WIB
 

KAIRO, KOMPAS.com - Negara-negara Arab siap mengakui dan menormalisasi hubungan dengan Israel setelah sebuah perdamaian yang adil dan menyeluruh di Timur Tengah tercipta. Semua itu akan dilakukan setelah dan bukan sebelum perdamaian tercipta.

Demikian dikatakan Presiden Mesir Hosni Mubarak dalam wawancara dengan harian al-Ahram yang dikontrol pemerintah, Senin (17/8). Hasil wawancara diturunkan saat Mubarak berada di Washington untuk berbicara dengan Pemerintahan AS.

Mubarak menambahkan, pengalaman Arab dengan berbagai kegagalan soal perdamaian sejak tahun 1991 sungguh tidak memberi semangat bagi langkah maju normalisasi hubungan dengan Israel.

Pada Juli lalu, utusan khusus AS untuk urusan Timur Tengah, George Mitchell, berseru kepada negara-negara Arab untuk mengambil langkah berarti menuju normalisasi hubungan dengan Israel.

Secara keseluruhan, perundingan damai Israel-Palestina, sebagai inti dari persoalan, pada umumnya dihancurkan oleh pihak Israel terutama kubu sayap kanan yang tidak siap mengakui Palestina.

”Saya sudah menegaskan kepada Presiden AS Barack Obama saat dia berada di Kairo bahwa Arab berinisiatif menawarkan pengakuan dan normalisasi setelah, bukan sebelum terciptanya sebuah perjanjian damai yang adil dan menyeluruh,” katanya.

Inisiatif damai Arab itu antara lain berisikan berdirinya negara Palestina, dikembalikannya wilayah Palestina sesuai garis perbatasan 1967, diakuinya Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, diizinkannya warga Palestina yang kini mengungsi di luar negeri kembali ke wilayah Palestina. Jika ini dipenuhi, normalisasi hubungan Israel-Arab amat dimungkinkan.

Akan tetapi, penegasan Mubarak ini kontras dengan opini yang berkembang di sebagian kelompok sayap kanan Israel. Dalam hal ini termasuk Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman yang menyatakan ide negara Palestina tidak berterima.

Israel sebaliknya cenderung menuntut normalisasi hubungan terlebih dahulu, baru tuntutan Arab dipenuhi.

Tidak suka dengan Bush

Dalam sebuah wawancara dengan televisi di AS, Mubarak memuji Presiden Obama. Mubarak pernah mengatakan sangat tidak nyaman dengan Pemerintah AS di bawah mantan Presiden George W Bush.

Mubarak suka dengan Obama yang berkunjung dan memilih seorang utusan khusus untuk menangani isu Timur Tengah, Mitchell.

Presiden Mesir Hosni Mubarak kembali berada di ke Gedung Putih, Senin. Sudah lebih dari lima tahun dia tidak melakukan kunjungan ke AS. Kunjungan terbaru ini menandai warna baru kebijakan AS di bawah Presiden Barack Obama, termasuk merangkul negara-negara Arab.

Pada masa pemerintahan Presiden George W Bush hubungan Mesir dengan AS memburuk akibat tekanan-tekanan AS terhadap demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di Mesir. Akibat dinginnya hubungan kedua negara, yang memiliki sejarah panjang hubungan baik, Mesir enggan membantu AS dalam menyelesaikan masalah Timur Tengah.

Kembalinya Mubarak ke pusat Pemerintah AS itu akan dimanfaatkan untuk mengembalikan hubungan erat kedua negara. AS sekaligus meminta dukungan Mesir untuk inisiatif perdamaian Timur Tengah.

Mubarak dan Obama bertemu Selasa (18/8) waktu Washington (atau Selasa malam WIB) di Gedung Putih. Hal itu akan didahului pertemuan empat mata di Ruang Oval. Obama menjadikan solusi atas masalah konflik Palestina-Israel sebagai prioritas tertinggi. (AP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau