KAIRO, KOMPAS.com -
Demikian dikatakan Presiden Mesir Hosni Mubarak dalam wawancara dengan harian al-Ahram yang dikontrol pemerintah, Senin (17/8). Hasil wawancara diturunkan saat Mubarak berada di Washington untuk berbicara dengan Pemerintahan AS.
Mubarak menambahkan, pengalaman Arab dengan berbagai kegagalan soal perdamaian sejak tahun 1991 sungguh tidak memberi semangat bagi langkah maju normalisasi hubungan dengan Israel.
Pada Juli lalu, utusan khusus AS untuk urusan Timur Tengah, George Mitchell, berseru kepada negara-negara Arab untuk mengambil langkah berarti menuju normalisasi hubungan dengan Israel.
Secara keseluruhan, perundingan damai Israel-Palestina, sebagai inti dari persoalan, pada umumnya dihancurkan oleh pihak Israel terutama kubu sayap kanan yang tidak siap mengakui Palestina.
”Saya sudah menegaskan kepada Presiden AS Barack Obama saat dia berada di Kairo bahwa Arab berinisiatif menawarkan pengakuan dan normalisasi setelah, bukan sebelum terciptanya sebuah perjanjian damai yang adil dan menyeluruh,” katanya.
Inisiatif damai Arab itu antara lain berisikan berdirinya negara Palestina, dikembalikannya wilayah Palestina sesuai garis perbatasan 1967, diakuinya Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, diizinkannya warga Palestina yang kini mengungsi di luar negeri kembali ke wilayah Palestina. Jika ini dipenuhi, normalisasi hubungan Israel-Arab amat dimungkinkan.
Akan tetapi, penegasan Mubarak ini kontras dengan opini yang berkembang di sebagian kelompok sayap kanan Israel. Dalam hal ini termasuk Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman yang menyatakan ide negara Palestina tidak berterima.
Israel sebaliknya cenderung menuntut normalisasi hubungan terlebih dahulu, baru tuntutan Arab dipenuhi.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi di AS, Mubarak memuji Presiden Obama. Mubarak pernah mengatakan sangat tidak nyaman dengan Pemerintah AS di bawah mantan Presiden George W Bush.
Mubarak suka dengan Obama yang berkunjung dan memilih seorang utusan khusus untuk menangani isu Timur Tengah, Mitchell.
Presiden Mesir Hosni Mubarak kembali berada di ke Gedung Putih, Senin. Sudah lebih dari lima tahun dia tidak melakukan kunjungan ke AS. Kunjungan terbaru ini menandai warna baru kebijakan AS di bawah Presiden Barack Obama, termasuk merangkul negara-negara Arab.
Pada masa pemerintahan Presiden George W Bush hubungan Mesir dengan AS memburuk akibat tekanan-tekanan AS terhadap demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di Mesir. Akibat dinginnya hubungan kedua negara, yang memiliki sejarah panjang hubungan baik, Mesir enggan membantu AS dalam menyelesaikan masalah Timur Tengah.
Kembalinya Mubarak ke pusat Pemerintah AS itu akan dimanfaatkan untuk mengembalikan hubungan erat kedua negara. AS sekaligus meminta dukungan Mesir untuk inisiatif perdamaian Timur Tengah.
Mubarak dan Obama bertemu Selasa (18/8) waktu Washington (atau Selasa malam WIB) di Gedung Putih. Hal itu akan didahului pertemuan empat mata di Ruang Oval. Obama menjadikan solusi atas masalah konflik Palestina-Israel sebagai prioritas tertinggi.