Roket Hantam Istana

Kompas.com - 19/08/2009, 06:02 WIB
KABUL, KOMPAS.com — Hanya dua hari menjelang pemilihan presiden Afganistan, sebuah roket Taliban menghantam kompleks Istana Kepresidenan di Kabul, Selasa (18/8). Pada Senin malam, Istana Kepresidenan juga diterjang sejumlah roket kecil yang menyebabkan kerusakan di dalam istana.

 

Sebuah roket lain mengenai gedung markas besar kepolisian di Kabul. Beberapa roket lain menerjang kota Jalalabad, timur Afganistan. Salah satunya menghantam sebuah rumah dan melukai 10 orang.

Seorang juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, kepada Reuters mengklaim bahwa anggotanya telah menembakkan empat roket.

Kemarin sebuah serangan bom bunuh diri juga dilaporkan terjadi di jalan utama yang menghubungkan Kabul dan Jalalabad. Sasaran serangan itu adalah konvoi pasukan asing yang tengah melintas di jalan tersebut.

Farid Raeed, pejabat Kementerian Kesehatan Afganistan, mengatakan, sedikitnya 12 orang tewas dan 52 orang luka-luka akibat bom bunuh diri itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan, dua anggota staf PBB tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan itu.

Di Provinsi Jowzjan, utara Afganistan, sekelompok orang bersenjata menembak mati seorang kandidat dewan provinsi. Sementara itu, di Provinsi Uruzgan, seorang pelaku bom bunuh diri menerjang pintu gerbang pangkalan militer, menewaskan tiga tentara Afganistan dan dua warga sipil.

Jelang pemilu presiden pada 20 Agustus, kekerasan di Afganistan kian meningkat. Kelompok Taliban telah menyerukan agar warga tidak datang ke tempat pemungutan suara dan memberikan suara. Beredar rumor bahwa warga yang memiliki tinta tanda memilih di jarinya akan menjadi sasaran serangan.

Partisipasi rendah

Serangan Taliban di timur dan selatan Afganistan, basis kekuatan kelompok itu, akan menyebabkan rendahnya partisipasi pemilih di kalangan etnis Pashtun, yang merupakan jantung dukungan Presiden Hamid Karzai. Rendahnya partisipasi etnis Pashtun akan menguntungkan rival utama Karzai, mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah.

Jajak pendapat terkini menunjukkan Karzai unggul atas 40 kandidat presiden lainnya. Karzai memimpin 45 persen atas Abdullah yang mendapat 25 persen. Jika Karzai tidak bisa mendapat minimal 50 persen suara, dia tampaknya akan berhadapan dengan Abdullah pada pemilu putaran kedua.

Karzai kini mengandalkan dukungan dari para mantan pemimpin milisi untuk memenangi putaran pertama. Hal itu menimbulkan kekhawatiran bahwa para panglima perang akan kembali berkuasa di Afganistan.

Jenderal Abdul Rashid Dostum, pemimpin milisi Uzbekistan yang mendapat 10 persen suara pada pemilu tahun 2004, telah kembali ke Afganistan dari pengasingannya di Turki. Pada Senin lalu, dia menggelar pertemuan akbar di kota Shiberghen untuk mendukung Karzai.

Dua calon wakil presiden yang mendampingi Karzai juga mantan pemimpin milisi dari minoritas Tajik dan Hazara. Pekan lalu, Karzai menerima dukungan publik dari Ismail Khan, mantan pemimpin milisi di kota Herat, barat Afganistan.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) kemarin mengumumkan bahwa pasukannya tidak akan mengadakan operasi militer pada hari pemungutan suara. Misi hanya dilakukan jika benar-benar perlu untuk melindungi masyarakat.

Selain ujian bagi Karzai, pemilu presiden Afganistan juga menjadi ujian bagi strategi Presiden AS Barack Obama dalam menjalankan perang terhadap Taliban dan Al Qaeda. (Ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau