FedEx Belum Puas, Incar Gelar Keenam Berturut-turut

Kompas.com - 27/08/2009, 17:48 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com — Roger Federer telah mencatatkan dirinya sebagai petenis terhebat sepanjang masa karena sudah 15 kali menjadi juara grand slam. Dia memecahkan rekor petenis legendaris Amerika Serikat, Pete Sampras, yang sepanjang kariernya 14 kali juara grand slam.

FedEx—julukan Federer—meruntuhkan rekor Sampras ketika dia menjuarai Wimbledon awal Juli lalu. Dan, dia juga menyempurnakan rekornya tersebut dengan menjuarai semua grand slam, termasuk Perancis Terbuka yang untuk pertama kali diraihnya tahun ini.

Meskipun demikian, FedEx belum puas. Kini petenis Swiss tersebut mengincar rekor baru dalam kariernya di grand slam AS Terbuka yang mulai bergulir pekan depan.

FedEx ingin menjadi petenis pertama yang menjuarai grand slam lapangan keras di Flushing Meadows ini sebanyak enam kali berturut-turut. Jika bisa mewujudkan impiannya tersebut maka FedEx mengulangi sejarah 84 tahun silam.

Kemenangan enam kali berturut-turut di grand slam ini pernah terjadi tahun 1925. Waktu itu "Big" Bill Tilden mengalahkan William Johnston untuk kelima kalinya dalam enam tahun di lapangan rumput di Forest Hills.

Petenis  berusia 28 tahun ini mengakui pertandingan di New York yang mulai bergulir 31 Agustus- 3 September nanti pasti sangat berat. Tapi bukan namanya FedEx jika tidak mempunyai ambisi yang sangat besar. Dia optimistis bisa menyamai rekor yang sudah bertahan selama 84 tahun tersebut.

Ada alasan yang membuat suami Miroslava "Mirka" Vavrinec ini yakin bisa melakukannya sebagai petenis muda. Selain kondisinya sedang prima sehingga siap mempertahankan gelar, FedEx juga telah menunjukkan kesiapannya dengan menyingkirkan dua rival terberatnya ketika menjadi juara Cincinnati Masters pekan lalu.

Dalam perjalanan untuk merengkuh trofi turnamen pemanasan AS Terbuka itu, FedEx melewati adangan Andy Murray dan Novak Djokovic dengan kemenangan straight set. Dia lebih dulu menyingkirkan Murray di babak semifinal dengan kemenangan 6-2 7-6(8), sebelum melibas Djokovic di partai puncak dengan 6-1 7-5.

Gelar tersebut melengkapi kesuksesannya di dua grand slam tahun ini, yaitu menjadi juara Perancis Terbuka dan Wimbledon. Dan, semua itu menjadi sangat sempurna ketika dia kembali menjadi petenis nomor satu dunia—menggeser Rafael Nadal, disusul dengan kelahiran putri kembarnya yang diberi nama Myla Rose dan Charlene Riva, yang lahir pada 23 Juli.

Meskipun demikian, sebelum merengkuh gelar Cincinnati Masters, Federer juga sempat sekali kalah, ketika bertemu dengan Jo-Wilfried Tsonga di perempat final turnamen Montreal Masters. Ini adalah kekalahan pertamanya sejak awal Mei lalu.

Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu, perjalanan FedEx sangat kontras. Setelah kehilangan gelar di Wimledon dan dilengserkan Nadal dari peringkat satu dunia, dia juga langsung tersingkir di putaran awal Olimpiade Beijing. Semuanya itu merupakan dampak dari kebugaran fisiknya yang sedang menurun, menyusul cedera punggung yang kerap kambuh.

"Saya merasa beruntung datang ke New York, karena para pendukung mencoba mendorong semangat saya untuk kembali menempati peringkat pertama dunia," katanya.  

"Semua pengemudi taksi dan setiap orang lainnya berhenti dan mengatakan semoga saya berhasil. Ini merupakan hal yang tidak pernah saya alami sebelumnya di New York. Ini amat membantu saya untuk mewujudkan impian saya," katanya.  

"Karena setelah kalah mengecewakan di Wimbledon dan juga di Beijing ... saya merasa agak kecewa ketika menghadapi turnamen AS Terbuka ini."

"Para pendukung memberi semangat besar bagi saya sehingga saya amat terpicu dan takjub. Belakangan ini saya membuat hasil bagus, jadi saya berharap dapat memberikan sesuatu bagi mereka dari lapangan tenis," katanya.

FedEx tentu saja mengerti betapa sulit untuk memenangi pertandingan di New York kendati ia sudah meraih 35 kemenangan beruntun sejak kalah dari David Nalbandian di putaran keempat pada 2003. Dia juga pernah mengalami pertarungan keras dua kali, di perempat final 2004 saat kalah melawan Andre Agassi dan pada putaran keempat tahun lalu melawan Igor Andreev—yang berakhir dalam lima set.

Tidak seperti tahun lalu, kali ini saingan terberatnya berkurang satu karena kondisi Nadal kurang bagus. Petenis Spanyol itu baru saja beraksi lagi setelah 10 minggu beristirahat karena cedera lutut setelah dikalahkan Robin Soderling di Perancis Terbuka, dan dia mengaku belum pulih 100 persen secara fisik maupun mental.  

Namun, Murray dan Djokovic menyimpan potensi yang sangat besar untuk mengalahkannya. Murray yang kini menempati peringkat dua dunia—menggeser Nadal—setelah merengkuh lima gelar tahun ini, sering menjadi momok meskipun tahun lalu dia gagal mengadang FedEx menjadi juara AS Terbuka. Pasalnya, rekor pertemuan menjadi milik petenis berusia 22 tahun tersebut karena dia unggul 6-3.

Tambahan lagi, Murray mengakui bahwa persiapannya menghadapi AS Terbuka tahun ini nyaris sempurna. Kemenangan di Montreal Masters dan keberhasilannya maju ke semifinal Cincinnati membuat dia semakin optimistis. Apalagi, petenis Skotlandia itu merasa kondisi fisiknya jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.

Djokovic pun demikian. Petenis Serbia ini sedang dalam kondisi puncak untuk tampil di New York setelah mengalahkan Nadal di semifinal Cincinnati, serta berlatih di bawah bimbingan pelatih baru, Todd Martin, untuk membangkitkan semangatnya meraih gelar grand slam kedua setelah Australian Terbuka 2008.  

"Setelah maju ke final grand slam dua kali dan berada di urutan lima besar dalam waktu lama membuat dia sangat berpengalaman," ungkap Martin.

"Saya sangat, sangat gembira, dan benar-benar mengincar kemenangan di New York. Saya memiliki banyak ide dan merasa semakin bagus. Banyak hal baru dalam permainan saya," kata Djokovic.

Tantangan besar juga akan datang dari Andy Roddick, yang menjadi petenis tuan rumah terakhir yang memenangi AS Terbuka pada 2003, tahun sebelum Federer mulai merajai grand slam itu. Pernikahan serta kebugaran yang terus membaik membuat Roddick, yang bulan Juli lalu kalah dari Federer di final Wimbledon, bisa menjadi batu sandungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau