Ninuk Mardiana Pambudy
Pasar tradisional bukan sesuatu yang akrab dengan dunia mode. Meskipun begitu, Biyan merasakan indera dan rasanya terstimulasi oleh suasana pasar, oleh beragam warna dan tekstur sayur, buah, dan bunga di sana.
Sebelumnya, penari Andara F Moeis (23) mengoreografi tari mengantar pergelaran. Tahun lalu Andara masih tampil sebagai salah satu penari dalam pergelaran Biyan. Dia adalah salah satu penari yang menerima hibah dari Yayasan Kelola untuk meningkatkan kemampuan mereka. Tahun ini adalah tahun kedua pergelaran Biyan menjual kursi di deretan pertama dan kedua, yang hasil seluruhnya diberikan kepada Yayasan Kelola sebagai bagian dari memberi kesempatan kepada perempuan penari meningkatkan kecakapan mereka.
Suasana pasar mengantarkan pada koleksi 2009-2010 rancangan Biyan Wanaatmadja. Dari antara kesibukan suasana pasar itu, para model muncul menuju panggung yang membelah dua ruang pergelaran di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (26/8) malam.
Biyan menyebut koleksinya ”Sense”. Pasar yang dia lihat di Jakarta, Singapura, Hongkong, London, atau Paris, begitu kata Biyan, selalu menyentuh dan merangsang indera dan perasaan melalui bau, warna, tekstur, bahkan komunikasi yang terjadi di ruang sosial itu.
”Ada elemen tak terduga di pasar tradisional, berbeda dari belanja di mal atau toko swalayan yang semua serba teratur dan pasti,” kata Biyan dalam percakapan sepekan sebelum pergelaran.
Elemen tak terduga koleksi ini adalah hadirnya warna dan tekstur. Warna-warna seperti ungu terung, merah jambu biji atau bisa juga merah jambu mawar, hijau bayam, dan biru hidrangea muncul silih berganti, berpadu dengan warna kulit, nude. Warna-warna itu pun dipadukan dalam satu tampilan sehingga memberi tampilan tak umum, tetapi tetap dalam harmoni.
Tabrak motif juga menonjol dalam ”Sense”. Atasan bermotif bunga-bunga cerah di atas latar biru muda atau nude, misalnya, dipadukan dengan rok bermotif jumputan irisan polong buah dalam warna coklat-ungu.
Pilihan pada warna-warna cerah ini di luar kebiasaan Biyan. ”Ingin memberi sesuatu yang beda, suasana optimistis,” kata Biyan.
Selain pilihan warna yang kaya, Biyan juga menggunakan banyak payet logam dan manik kristal bernuansa keemasan yang mengingatkan pada kemeriahan pasar Timur Tengah dan Asia Selatan. Untuk mengimbangi segala gemerlap itu, perancang ini memadukannya dengan atasan dan rok atau celana polos dalam konsep padu padan yang kokoh.
Sepintas tidak terlalu banyak perubahan siluet dibandingkan dengan koleksi Biyan tahun lalu ketika merayakan 25 tahun berkarya dengan mengangkat kekayaan Indonesia. Kali ini dia tetap banyak draperi yang memberi keleluasaan gerak, te- tapi dengan detail berbeda pada 100 potong rancangannya. Pemilihan bahan dikombinasi teknik potonglah yang membuat gaun itu berefek ramping.
Draperi hadir pada rok dan memberi kesan seperti sarung, di kerah (cowl neck), pada celana panjang yang mengingatkan pada celana galembong dari Sumatera Barat, hingga baju malam berpunggung terbuka hingga ke pinggang.
Kali ini Biyan menggunakan kain tenun ATMB (alat tenun bukan mesin) dari Garut dan Solo, bertekstur jacquard dan terawang, diberi motif ikat atau bunga. Meski banyak tenun ATBM diproduksi di dua kota itu, sentuhan desainlah—motif, warna, teknik potong, hingga pemilihan dan penempatan manik dankristal—yang membuat tenun itu berubah dari kriya menjadi mode.
Detail lain hadir pada blus multifungsi dengan memainkan bentuk pundak: bisa dikenakan satu sisi atau dua pundak. Payet dan manik logam serta kristal gemerlapan mendominasi gaun, atasan, jaket untuk acara cocktail dan gaun malam. Mungkin terlalu banyak untuk sebagian orang, sementara yang lain melihat sebagai saat berubah dan menjadi lebih optimistis. Kenapa tidak?
”Koleksi ini sangat siap pakai dan cantik. Banyak yang akan disukai pembeli, biarpun mungkin banyak yang mengharap ada lebih banyak gaun malam,” kata Presiden Direktur Metro Department Store Christine Barki seusai pergelaran.
Di antara undangan malam itu, ada Preston Bailey, penyelenggara pesta bagi para socialite yang pelanggannya tersebar di Amerika, Timur Tengah, dan Asia, yang datang dari berlibur di Bali. ”Saya datang ke Jakarta hanya untuk acara Biyan. Besok pulang ke New York,” kata Bailey, yang tahun lalu merancang pergelaran Biyan Bride di Jakarta.