Pascagempa, Warga Jakarta Trauma tetapi Pasrah

Kompas.com - 03/09/2009, 12:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sehari pasca-Gempa Tasikmalaya, aktivitas masyarakat Jakarta telah berjalan seperti biasanya. Jalan raya dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang, kegiatan ekonomi juga tampak telah berlangsung. Meski demikian, masih tersimpan rasa takut akibat gempa yang berkekuatan 7,3 skala Richter tersebut.

Seperti yang dirasakan Yaya Sumiati (53), warga Ciputat. Meski mengaku pasrah, ia masih merasa takut jika teringat kejadian kemarin. Wanita berjilbab ini khawatir jika terjadi gempa susulan, rumah yang ia tempati akan roboh. "Kan kita enggak tahu bagaimana kondisi struktur bangunan rumah sekarang. Apalagi rumah ini sudah lama," ucapnya kepada Kompas.com, Kamis (3/9). 

Yaya menuturkan, Farid (3), cucu keduanya, juga mengalami trauma. Sesaat setelah kejadian, Farid mengaku takut dan pada malam harinya selalu bertanya apa akan terjadi gempa lagi. Sementara Tiara (3,5 bulan), cucu ketiga Yaya, muntah-muntah setelah kejadian tersebut. "Waktu gempa Tiara muntah, lalu malamnya muntah lagi. Tapi sekarang sudah tidak," ucap Yaya.

Meski takut, Yaya masih merasa beruntung karena saat kejadian ia berada di lantai 1 rumahnya. Nenek tiga orang cucu ini tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika pada waktu kejadian ia berada di lantai 2. "Karena panik mungkin akan terjadi hal lain. Pasti repot membawa cucu-cucu saya yang masih kecil-kecil ini, apa lagi waktu itu di rumah tidak ada siapa-siapa lagi," tuturnya. 

Yaya belum mempunyai rencana apa yang akan ia lakukan jika terjadi gempa susulan. Yang ada di pikirannya adalah menyelamatkan ketiga cucunya. "Kalau harta bisa ditinggal, yang paling penting cucu saya selamat," jelas dia. 

Perasaan trauma juga masih menyelimuti Puji Setyaningtyas (51). Ia merasa khawatir akan terjadi tsunami meski rumahnya tidak berada di dekat laut. "Kalau ada gempa lagi, takut ada tsunami. Dampak kejadian seperti tsunami bisa menimpa daerah mana saja," kata wanita yang berprofesi sebagai wiraswasta ini. 

Meski merasa takut, ibu tiga anak ini mengaku gempa tersebut memberinya suatu pelajaran. Gempa menunjukkan kekuatan Tuhan. Saat kejadian tersebut ia merasa "kecil" dan tak berdaya. 

Pada saat gempa, dirinya sedang berada di daerah Kemang. Kala itu dirinya sedang berada di antara tiang besar, di atasnya pun tergantung lampu kristal besar. Ketika semuanya bergoyang, ia tak lantas lari. Puji hanya terdiam dan pasrah. "Enggak kepikiran apa-apa waktu gempa itu. Padahal, anak saya di mana, suami saya di mana," kata dia seraya tertawa.

Perasaan trauma tidak hanya dirasakan para ibu, seorang pria bernama Hari Priyanto (41) juga masih menyimpan ketakutan karena gempa. Ia mengkhawatirkan akan terjadi gempa susulan yang lebih hebat dan menghancurkan gedung-gedung yang ada. "Gempa kemarin itu besar, bisa jadi nanti lebih besar lagi dan gedung-gedung bisa roboh," ujar karyawan swasta ini.

Ia menuturkan, awalnya ia tidak menyadari telah terjadi gempa. Namun, orang-orang di sekitarnya berlarian dan meneriakkan kalau gempa tengah terjadi. Setelah tersadar barulah ia keluar dari tempatnya bekerja. Ia pun segera mencari tahu kabar keluarga dan kerabat terdekatnya.

Sama seperti Yaya dan Puji, meski khawatir, ia mengaku pasrah jika akan terjadi bencana selanjutnya. "Kalau alam itu yang mengatur Allah, sebagai manusia kita hanya bisa berserah," ucapnya bijak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau