Gagal ke Senayan, Caleg Protes

Kompas.com - 03/09/2009, 20:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Pascapengumuman nama-nama caleg terpilih DPR oleh Komisi Pemilihan Umum, masih ada caleg yang tidak puas. Usman M Tokan, calon legislator dari PPP di daerah pemilihan Sumatera Selatan I, Kamis (3/9), menyambangi Kantor KPU untuk meminta klarifikasi.

"Saya ingin menemui KPU dulu untuk meminta klarifikasi," ujar Usman dengan wajah kesal di Kantor KPU, Jakarta. Usman mengaku dirugikan oleh KPU.

Dia menjelaskan, dalam pemilu legislatif lalu, dirinya mendapat perolehan suara terbanyak di antara calon lain dari PPP. Namun, yang ditetapkan sebagai calon terpilih justru calon yang memperoleh suara di bawahnya, Ahmad Yani.

"Yani suaranya nomor dua. Suara saya yang paling banyak. Ini terjadi kekeliruan karena di draft kemarin masih nama saya," ujarnya.

Usman menuturkan, Yani memang mengajukan gugatan sengketa pemilu legislatif ke Mahkamah Konstitusi (MK) serta mengklaim kehilangan 30 suara lebih. Oleh MK, akhirnya diputuskan ada penambahan suara ke PPP sebesar 10.417 suara.

"Ini kan aneh. Putusan MK ada penambahan suara ke partai, namun tidak menyebut suaranya Yani. Tetapi KPU menganggap suaranya Yani," cetusnya.

Saat nama-nama caleg terpilih dibacakan KPU, Usman mengaku terkejut karena muncul nama Yani. Usman lantas mengklarifikasi hal tersebut kepada staf KPU. Namun, jawaban yang diberikan kurang memuaskan karena KPU menganggap putusan MK memenangkan Yani dengan penambahan suara.

"Alasannya adalah, walaupun amar putusan MK itu suara partai, mereka melihat yang menggugat itu Yani sehingga dianggap suaranya Yani," paparnya. Meski demikian, Usman tetap yakin bahwa dia yang berhak mendapatkan kursi tersebut. Dia berharap, KPU dapat meninjau kembali hal ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau