KABUL, KOMPAS.com - Presiden Afganistan Hamid Karzai telah memerintahkan penyelidikan mengenai serangan udara mematikan yang menewaskan dan melukai lebih dari 100 orang, Jumat (4/9) pagi, demikian siaran pers yang dikeluarkan Sabtu (5/9) oleh pemerintah di Kabul.
"Presiden Hamid Karzai telah menugaskan satu misi pencari fakta yang terdiri atas para pejabat dari Kementerian Dalam Negeri, Direktorat Keamanan Nasional dan badan terkait lain untuk secara seksama menyelidiki peristiwa Kunduz dan melaporkan kepada presiden sesegera mungkin," kata siaran pers tersebut.
Dalam peristiwa berdarah itu, kata beberapa pejabat setempat, hampir seratus orang --kebanyakan warga sipil-- telah tewas ketika gerilyawan membajak dua mobil tangki minyak dan membagikan barang bajakan tersebut kepada warga lokal.
Komandan tinggi NATO untuk Afganistan Jenderal Stanley McChrystal juga mengumumkan akan memulai penyelidikan kasus itu.
Sementara itu, cabang Taliban dalam satu pernyataan membantah pernyataan bahwa ada petempurnya yang tewas dan menggambarkan semua korban sebagai bukan petempur, tapi pernyataan tersebut telah dibantah oleh para pejabat setempat.
Sementara itu Sekretaris Jenderal NATO Jenderal Anders Fogh Rasmussen, Jumat, mengatakan penyelidikan sedang berlangsung untuk melihat apakah warga sipil telah tewas dalam serangan NATO di Afghanistan utara.
"Ada serangan ISAF (Pasukan Bantuan Keamanan Internasional) terhadap Taliban pada malam hari. Tentu saja, sejumlah anggota Taliban tewas. Ada kemungkinan korban jiwa di pihak warga sipil juga. Namun itu belum jelas," kata Rasmussen kepada wartawan di Brussels.
Ia mengatakan satu tim penyelidikan sudah dikirim ke tempat kejadian. "Rakyat Afganistan mesti mengetahui bahwa kami benar-benar terikat komitmen untuk melindungi mereka dan kami sepenuhinya akan segera menyelidiki kejadian ini," kata Rasmussen.
Ia mengatakan Komandan ISAF Jenderal Stanley McChrystal telah berbicara dengan Presiden Hamid Karzai dan berjanji akan menuntaskan penyelidikan sesegera mungkin.