Puti Guntur Soekarno "Blusak-blusuk" ke Gunung

Kompas.com - 09/09/2009, 08:12 WIB

 

Oleh Ninuk M Pambudy dan Frans Sartono

KOMPAS.com- SABTU (5/9) menjelang tengah hari, ketika dihubungi melalui telepon, Puti Guntur Soekarno mengatakan sedang di Ciamis, Jawa Barat. Ini adalah tanggung jawab kepada warga kabupaten itu yang telah memilih Puti sehingga lolos menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014.

"Kalau hitungan kami, aku mestinya dapat 74.000 suara, tetapi KPU (Komisi Pemilihan Umum) menyebut 69.000 suara. Ya… sampai hari ini persoalan itu belum selesai juga, KPU belum juga mengumumkan (calon anggota legislatif yang lolos ke DPR),” kata calon anggota legislatif (caleg) terpilih dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu di rumahnya, Selasa (1/9). Dia mewakili Daerah Pemilihan X Jawa Barat, terdiri dari Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar.

”Aku sedang memetakan kerusakan yang terjadi. Dari laporan sementara teman-teman relawan dan partai, rumah yang rusak berat 6.487, yang hancur 518, rusak ringan 8.971. Juga ada mesjid dan sekolah. Warga yang meninggal 6 orang. Mereka butuh tenda, selimut, air bersih. Aku akan laporkan ke partai dan barangkali ada teman-teman yang mau bantu aku sudah tahu apa yang diperlukan,” tutur Puti.

Di rumah Puti yang teduh di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu, dinding ruang tamu dihiasi foto kakek Puti, Soekarno atau lebih populer dengan sebutan Bung Karno, dalam ukuran besar. Lukisan neneknya, Ibu Fatmawati, dengan selendang menutup kepala terpampang di dinding ruang keluarga dan di sebelahnya ada karya Galam berupa mozaik lukisan dan siluet wajah Bung Karno.

”Yang itu lukisan wajah aku, yang melukis Om Guruh,” papar Puti, yang punya nama panjang Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, itu sambil menunjuk lukisan di dinding menuju lantai atas.

Menjadi anggota DPR adalah karier politik pertama Puti secara formal. Sebelumnya, anak tunggal pasangan Guntur Soekarno Putra dan Heni Guntur Soekarno ini lebih banyak terlibat dalam kegiatan di lingkungan keluarga, antara lain sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati yang bergerak di bidang sosial. Di PDI-P yang diketuai adik ayahnya, Megawati Soekarnoputri, Puti baru berstatus anggota.

Di luar itu, Puti bersama beberapa teman mengurus bisnis tiga rumah makan serta menjadi istri dan ibu yang rajin mengurus dua anaknya. Tak heran muncul pertanyaan mengapa terjun ke dunia politik. Tetapi, pertanyaan itu juga bisa dibalik, mengapa tidak?

”Sejak kecil di keluarga berseliweran soal-soal politik. Papa guru ideologiku, mengajarkan pikiran-pikiran Bung Karno,” kata Puti yang tidak sempat bertemu kakeknya yang wafat pada 1970 sementara dia lahir pada 26 Juni 1971.

Meskipun ayahnya tidak pernah terlibat dalam aktivitas politik secara formal, semua bibi dan pamannya aktif dalam politik formal sehingga terasa alamiah ketika Puti juga masuk ke dunia politik.

”Justru Papa yang mengajukan argumen, ’Apa bisa?’” kata Puti. ”Bukan mempertanyakan kemampuanku sebagai anggota DPR, tetapi dia khawatir apa aku bisa bagi waktu untuk dua cucunya, he-he-he….”

 

Blusak-blusuk

Sempat terlambat berkampanye karena terkena demam berdarah saat sosialisasi menjelang kampanye dimulai, Puti menghadapi tantangan berupa daerah pemilihan (dapil) yang terdiri dari 72 kecamatan, sebagian besar daerah pertanian bergunung-gunung dan desa-desa nelayan.

Di dua kecamatan di gunung-gunung di Kuningan, Puti bertemu komunitas pedagang BRI, singkatan dari bubur, rokok dan indomi. ”Mereka berjualan ke Jakarta, Solo, dan Yogya, bergantian tiga bulan sekali. Dari hasil itu bisa bikin rumah tembok, lantai lantai keramik. Sampai sekarang aku masih SMS-an dengan mereka.”

Dia bersyukur mendapat dapil tersebut karena bertemu dengan para marhaen, wong cilik yang kesejahteraannya selalu diperjuangkan Bung Karno. Tidak penting benar ibu-ibu yang mendengarkan Puti berkampanye dengan berapi-api lebih banyak diam terpesona karena mengira bertemu bintang film.

”Indonesia ternyata kaya dan aku menghayati betul yang disebut negara agraris ketika kampanye. Buat apa jauh-jauh jadi TKI kalau kita sekaya ini. Aku merasa punya keluarga besar. Sifat kekeluargaan, gotong royong, masih kuat. Ketika harus kembali ke Jakarta, aku merasa kehilangan,” papar Puti yang mengatakan menikmati keindahan Indonesia di dapilnya.

”Jalan aspal sampai ke ujung-ujung, tetapi berliku. Angkutan umum mobil bak terbuka, biar bisa cepat loncat kalau ada apa-apa di jalan. Tanah di sana labil, sering longsor. Aku sudah biasa ikut Papa dan Mama blusak-blusuk ke desa-desa, nemenin Mama cari tanaman langka,” cetus Puti yang tentu saja tidak naik mobil bak terbuka saat blusak-blusuk itu.

Menebus waktu

Menjelang pelantikan anggota DPR periode 2009-2014 pada 1 Oktober nanti, Puti menyebut kegiatannya banyak untuk keluarga. ”Ini untuk menebus waktu yang hilang saat kampanye kemarin. Aku suka masak, jadi aku bikin masakan untuk suami dan anak-anak,” kata Puti.

Dia menyebut iga cabai hijau, mi jawa, cumi tinta, hingga spaghetti carbonara dan daging panggang saus jamur sebagai masakan yang dia kuasai.

Dia mengaku, keberhasilannya menjadi anggota DPR banyak dibantu keluarga, termasuk orangtua dan mertua. ”Sebagai perempuan, kalau mau berkiprah di luar rumah, dukungan keluarga penting sekali, dari suami dan anak-anak. Namanya ibu, tetap saja biarpun lagi kampanye, aku selalu ngecek sekolah anak-anak, pe-er, les. Mama dan mama mertua sampai meyakinkan aku akan ikut bantu jaga anak-anak,” cerita Puti.

Tentang yang akan dia lakukan sebagai anggota DPR, Puti mengatakan berusaha mengamalkan ajaran Bung Karno dalam laku konkret sehari-hari. Dari neneknya, Ibu Fat, yang biasa dipanggil Mbu oleh cucu-cucunya, dia belajar kesederhanaan, hidup apa adanya.

”Aku enggak pernah melihat Mbu sedih. Dia menjalani hidup dengan tulus dan selalu gembira. Tentang Bung Karno, Mbu selalu mengatakan Eyang Karno orang hebat, pemersatu bangsa. Buat saya biasa saja menjadi cucu (mantan) presiden. Saya lebih bangga menjadi cucu biologis seorang founding father Indonesia.”
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau