JAKARTA, KOMPAS.com-Pasar tumpah dan titik rawan macet di jalur utama pantai utara Jawa harus diawasi ketat. Perbaikan manajemen lalu lintas amat penting untuk mengurai kemacetan.
Kebijakan tersebut dibutuhkan untuk mengurai kemacetan panjang di pantura Jawa yang terjadi sejak sekitar lima tahun terakhir. Tahun lalu kemacetan bahkan bertambah parah, terutama di pertigaan Kanci Cirebon dan Losari di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Akibat kemacetan di Kanci, pengguna Jalan Tol Kanci terkunci lebih dari tiga jam di tengah jalan tol itu.
Kondisi ini terjadi akibat kapasitas jalan di pantura terbatas, sementara arus kendaraan berupa mobil pribadi, kendaraan umum, dan sepeda motor meningkat. Jika manajemen pengaturan lalu lintas saat puncak arus mudik tidak maksimal, kemacetan akan bertambah parah.
Menurut data Departemen Perhubungan, di jalur mudik terutama pantura terdapat 78 pasar tumpah yang berada antara lain di Pasar Ciasem (Subang), Jatibarang (Indramayu), dan Losari. Potensi kemacetan lain muncul di pertigaan Jomin (Karawang), Lohbener (Indramayu), dan pertigaan Kanci (Cirebon).
Pertigaan Jomin memiliki jalan yang sempit, sedangkan jalan pantura yang memiliki empat lajur tiba-tiba menyempit menjadi dua lajur di Lohbener. Adapun pertigaan Kanci adalah pertemuan kendaraan dari pintu keluar tol Kanci dengan motor dan mobil dari Cirebon menuju ke Brebes.
Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 September (H-3), sedangkan puncak arus balik terjadi pada 25 September (H+3) mendatang.
Namun, sejak Sabtu (12/9) malam, arus kendaraan bus, truk, dan motor mulai meningkat. Arus mudik dengan kapal laut dan kereta api juga mulai terasa. Adapun pemudik dengan menggunakan pesawat udara belum mengalami kenaikan berarti.
Penumpang di Merak naik 100 persen. Misalnya kendaraan pribadi naik dari 1.200 menjadi 2.400 mobil. Ratusan kendaraan pribadi masih mengantre selama 3-4 jam untuk masuk kapal roro. PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Indonesia Ferry Cabang Utama Merak kemarin mengoperasikan 21 kapal roro.
Kondisi jalan mulus
Pantauan Tim Lebaran Kompas yang menyusuri jalan utama pantura dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya pada pekan lalu menunjukkan pada umumnya kondisi jalan sudah mulus. Hanya ada beberapa perbaikan jalan dan perbaikan dua jembatan di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang belum selesai. Namun, Departemen Pekerjaan Umum memastikan H-7, jalan dan jembatan sudah bisa dilewati.
Beberapa ruas jalan di pantura, di Tuban dan Lamongan (Jawa Timur), menyempit dan mepet dengan rumah warga sehingga pengendara harus lebih berhati-hati.
Mengenai pasar tumpah, polisi berjanji akan membuat pagar betis petugas agar pedagang tidak meluber ke jalan. ”Penanganan pasar tumpah akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Dephub Suroyo Alimoeso.
Kondisi Jalan Tol Cikampek dan jalur pantura Jawa pada Minggu atau H-8 Lebaran siap digunakan pemudik. Sebagian besar perbaikan jalan yang rusak dan penambahan lajur di tol sudah selesai.
Menjelang keluar tol Cikampek, pengendara dari arah Jakarta sebaiknya mewaspadai penyempitan jalan menjelang gerbang keluar. Jalan menyempit dari tiga lajur menjadi dua lajur.
Dari pertigaan Cikopo, pemudik biasanya masuk ke jalur pantura melewati simpang Mutiara dan Jomin. Simpang Mutiara dibuka tutup jika Simpang Tiga Jomin macet. Pengguna jalan diarahkan memutar melewati Cikampek sebelum bertemu dengan Simpang Tiga Jomin. Di jalur ini arus lalu lintas mulai ramai pada sore hingga malam hari. ”Kendaraan padat pada pagi dan sore. Siang hari arus lalu lintas normal. Yang membuat macet adalah bus dan truk angkutan barang dari Jakarta,” ujar Inspektur Satu Abdul Kodir, Kepala Pos Pengamanan I Simpang Tiga Mutiara, Karawang.
Asep Mulyana (31), warga yang tinggal di tepi Simpang Tiga Jomin, mengatakan, kemacetan arus mudik sudah terjadi sejak Sabtu malam.
Jalan Kanci-Pejagan
Untuk mengurai kemacetan di pertigaan Kanci, pemerintah membuka jalan tol baru Kanci-Pejagan di Cirebon dan Brebes untuk pemudik menuju Purwokerto dan Yogyakarta. Namun, pemudik yang akan melintasi jalur sepanjang 36 kilometer ini harus ekstra waspada.
Oleh karena jalan itu belum menjadi jalan tol, pemudik menuju Purwokerto, atau kota-kota di jalur lintas selatan Jawa, sebaiknya tidak memacu kendaraan terlalu kencang, dan selalu berkonsentrasi penuh.
Pengamatan Kompas pada Minggu siang dan malam, masih banyak tebing tol yang belum dipagari, garis markah jalan yang berpendar pada malam hari belum ada, sambungan antara jalan dan jembatan tak mulus, perkerasan beton tak rata, dan belum ada penerangan jalan.
Ada pula gangguan berupa pelintasan sebidang dengan jalan desa akibat jembatan layang belum selesai dibangun. Sepeda motor dan mobil tiba-tiba melintas di tengah-tengah jalur Kanci-Pejagan.
Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Cirebon Tunggul P, perlintasan sebidang itu akan dijaga 24 jam. ”Polisi akan mengoordinasikan warga ketika menyeberang. Mereka tak bisa menyeberang tiap saat karena berbahaya,” ujar Tunggul.
Penumpang KA melonjak
Penumpang KA dari sejumlah stasiun KA di Jakarta melonjak sehingga tiket sejumlah rangkaian kereta ludes. PT Kereta Api Daerah Operasi I Jakarta akhirnya mengoperasikan KA ekonomi tambahan yang seharusnya diberangkatkan Senin besok.
Jumlah penumpang KA dari Surabaya juga meningkat sebanyak 1.000 penumpang sejak Jumat lalu. Kenaikan jumlah penumpang juga terasa di Solo dan Kediri.
Di Madiun, kerja juru penilik jalan yang bertugas mengecek jalur KA ditingkatkan dari dua kali sehari menjadi empat kali.
Gilimanuk padat
Di Pelabuhan Gilimanuk yang menghubungkan Jawa dan Bali, pemudik bersepeda motor mulai memadati jalur penyeberangan pelabuhan tersebut. Mereka sengaja mudik lebih awal untuk menghindari kemacetan. Manajer Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Gilimanuk Ospar Silaban mengungkapkan, jumlah sepeda motor yang menyeberang mencapai 3.000, naik tiga kali lipat daripada hari biasa.
Antrean angkutan barang sepanjang 1 kilometer terjadi di Pelabuhan Padangbai, jalur utama Bali-Lombok. Tercatat 250 kendaraan menumpuk di sana.(GAL/RYO/NIT/REK/EKI/NIK/ABK/APA/ANG/BEN/WHY/NTA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang