Din Syamsuddin: Muhammadiyah Ogah "Ngemis" Jabatan Menteri

Kompas.com - 15/09/2009, 21:32 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak akan meminta-minta jabatan menteri kepada presiden terpilih.

"Muhammadiyah enggak pernah berpikir meminta-minta atau mau mengemis jabatan karena Muhammadiyah sudah ada sebelum negara kita ada," kata Din Syamsuddin dalam acara di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Surabaya, Selasa (15/9).

Setelah menghadiri pelantikan Pembantu Dekan se-Unmuh Surabaya yang dihadiri Ketua PW Muhammadiyah Jatim Prof Syafiq A Mughni, MA, itu, Din mengatakan, Muhammadiyah sudah lama berbuat dan mengisi kemerdekaan.

"Karena itu, banyak figur Muhammadiyah yang direkrut dalam pemerintahan, mulai dari perdana menteri, menteri, hingga kabinet sekarang, tapi Muhammadiyah tidak akan minta-minta jabatan," katanya.

Didampingi Rektor Unmuh Surabaya Prof Zainuddin Maliki, ia mengatakan bahwa jabatan menkes dan mendiknas yang ada saat ini juga bukan didasarkan permintaan Muhammadiyah, tetapi penghargaan pemerintah kepada Muhammadiyah.

"Kalau sekarang ada yang ingin direkrut lagi ya silakan karena Muhammadiyah memiliki banyak figur dalam banyak bidang keahlian, apakah pertanian, luar negeri, ekonomi, bahkan pemberdayaan perempuan juga ada," katanya.

Namun, ia menilai, Presiden perlu diberi waktu untuk menentukan para pembantunya karena hal itu merupakan hak prerogatif presiden dan Presiden sudah tahu sifat majemuk bangsa Indonesia. "Karena itu, Presiden enggak usah ditekan. Hal itu justru akan membuat pilihan yang enggak baik. Saya setuju bila menteri dipilih berdasarkan profesionalisme, kompetensi, dan komitmen moralnya," katanya.

Apalagi jika ditekan politikus, katanya, menteri yang terpilih justru hanya akan berbuat untuk partai atau kelompoknya dan bukan berbuat untuk masyarakat.

"Dia akan berbuat untuk kepentingan kapitalisasi partai atau kelompoknya dan juga berbuat untuk kepentingan pemilu mendatang agar terpilih lagi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau