Kapal Terlambat Datang, Ratusan Penumpang Telantar

Kompas.com - 16/09/2009, 21:52 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Ratusan penumpang Kapal Kirana, yang hendak mengangkut pemudik dari Surabaya ke Batulicin di Kalimantan Selatan dan Balikpapan di Kalimantan Timur, telantar di Terminal Penumpang Gapura Nusantara dan Gapura Surya, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Rabu (16/9). Kapal yang direncanakan berangkat hari Selasa (15/9) pukul 10.00 akhirnya baru berangkat Rabu pukul 12.00.

Abdul Latif (49), pemudik yang hendak pulang ke Kota Baru, Kalimantan Selatan, harus menunggu sejak hari Selasa (15/9) pagi untuk mendapatkan kapal tujuan Pelabuhan Batulicin, Kalimantan Selatan. Abdul berangkat dari Bali menggunakan bus, kemudian berencana naik kapal dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

"Tadi malam saya bersama dua rekan terpaksa menginap di Surabaya. Kebetulan agen bus memberikan kami tempat menginap di tempat mereka," ucapnya.

Hal serupa dialami Nuryanto (60), penumpang Kapal Kirana yang hendak mudik ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain kapal terlambat berangkat, ia harus membayar tiket lebih mahal dari biasanya.

"Saya tadi membayar tiket Rp 300.000, padahal dalam tiket, harga yang tertera hanya Rp 275.000. Kata agen, Rp 25.000 sisanya adalah uang antar dari agen ke terminal penumpang. Tapi yang paling menjengkelkan adalah lambatnya kedatangan kapal," kata Nuryanto.

Nuryanto mengaku memilih moda transportasi kapal laut karena dari segi biaya lebih murah dibandingkan angkutan pesawat udara. Jika pada hari biasa tarif pesawat udara Surabaya-Balikpapan mencapai Rp 800.000 per orang, kini harga itu telah naik hingga Rp 1,3 juta per penumpang.

Ratusan penumpang sejak pukul 09.00 telah memenuhi Terminal Penumpang Gapura Nusantara dan Gapura Surya, Pelabuhan Tanjung Perak. Bahkan, ratusan penumpang beserta barang-barang bawaan mereka juga memenuhi halaman teras luar terminal.

Kapal Kirana dijadwalkan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Selasa pukul 10.00. Namun, ternyata kapal baru tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu pukul 12.00. Kapal Kirana adalah kapal penumpang milik PT Dharma Lautan Utama dengan bobot 5.299 gross tonnage dan dibuat tahun 1992. Kapal ini memiliki kapasitas angkut 1.075 penumpang, 30 kendaraan roda dua, dan 50 kendaraan roda empat.

Dinilai masih wajar

Keterangan berbeda dinyatakan Manajer Usaha PT Dharma Lautan Utama Rakhmatika Ardianto. Menurutnya, Kapal Kirana seharusnya tiba pukul 06.00 pagi di Pelabuhan Tanjung Perak, tetapi terlambat hingga pukul 12.00 siang.

"Cuaca di lautan kurang bagus sehingga perjalanan terhambat. Tapi keterlambatan ini masih wajar karena tak melebihi lama waktu tempuh kapal," kata Rakhmatika. Jarak tempuh Batulicin-Surabaya mencapai 24 jam. Karena itu, jika hanya terlambat enam jam, menurut Rakhmatika, hal itu masih wajar.

Sementara itu, Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut Administrator Pelabuhan Tanjung Perak Agus Sumarwanto menyatakan, mendekati Lebaran sekitar H-3 akan terjadi lonjakan penumpang. Namun, pada umumnya penumpang kapal dari luar pulau sudah mudik jauh-jauh hari sebelum Lebaran.

Diperkirakan, total pemudik dengan moda transportasi kapal yang akan tiba di Kota Surabaya selama Lebaran mencapai 81.458 penumpang. Adapun penumpang kapal yang akan naik kapal ke pulau lain mencapai 14.967 penumpang.

Secara umum, penumpang yang turun atau naik kapal di Pelabuhan Tanjung Perak akan naik sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu.   

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau