Kemacetan Panjang Mulai Landa Pantura

Kompas.com - 18/09/2009, 06:01 WIB
 
 

SUBANG, KOMPAS.com - Aliran pemudik menggunakan transportasi darat dari arah Jakarta menuju kota lain di Pulau Jawa, sejak Kamis (17/9) malam, mengalir deras. Lonjakan pemudik juga terasa di Stasiun Senen dan Gambir, serta di Terminal Kampung Rambutan dan Pulo Gadung. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi Jumat dini hari tadi.

Hingga pukul 22.30, kepadatan lalu lintas mulai terjadi di jalur pantura antara simpang Jomin di Cikampek dan pertigaan Cikalong perbatasan Subang dan Karawang, Jawa Barat.

Antrean kendaraan mencapai 8 kilometer. Kendaraan hanya bergerak dengan kecepatan 10-20 km per jam atau berhenti sama sekali. Penyebab kemacetan adalah bertemunya arus pemudik sepeda motor di jalur alternatif Tanjungpura-Cikalong dengan arus kendaraan di jalur utama pantura.

”Pemudik sepeda motor sengaja kami alihkan lewat jalur itu untuk mengurangi kepadatan jalur pantura,” tutur Kepala Satlantas Polres Karawang Ajun Komisaris Dody F Sanjaya.

Sistem buka tutup sudah diterapkan setiap satu jam di pertigaan Cikopo setelah Gerbang Tol Cikopo. Saat arus ke pantura padat, kendaraan dialihkan ke arah Sadang-Purwakarta.

Dari Sadang, Subang, dilaporkan, sekitar pukul 22.10 terjadi kepadatan di perempatan Sadang karena pertemuan dua arus besar pemudik dari Gerbang Tol Sadang dan limpahan dari pengalihan arus di pertigaan Cikopo. Kepadatan diperparah karena banyak angkot berhenti sembarangan di depan pusat perbelanjaan Sadang Terminal Square.

Saat kepadatan mencapai puncak, selama lima menit arus kendaraan dialihkan menuju arah kota Purwakarta. Dari sana, pemudik melanjutkan perjalanan melalui jalur alternatif Wanayasa-Jalancagak Subang. Sementara jalur alternatif Sadang-Kalijati-Subang masih lancar dan memungkinkan memacu kendaraan hingga 80 km per jam.

Berdasarkan pantauan di Pamanukan dan pertigaan Celeng di Lohbener hingga pukul 22.30, arus lalu lintas masih lancar. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan 60 km per jam.

Khusus untuk jalur Lohbener-Jatibarang telah dibuat satu arah, tetapi pemudik harus berhati-hati mengingat masih banyak pengendara sepeda motor berjalan dari arah berlawanan.

Kereta api dan pesawat

Calon penumpang kereta api kelas ekonomi, kemarin, memadati Stasiun Senen, Jakarta. Jumlah mereka mencapai sekitar 25.000 orang sehingga PT Kereta Api memberangkatkan 12 kereta api tambahan ekonomi tujuan kota di Jawa bagian timur dan tengah.

Ribuan calon penumpang memadati stasiun tersebut. Umumnya mereka duduk dan tiduran di seluruh areal peron. Ada pula yang menikmati hiburan musik yang disediakan pihak stasiun.

Di Stasiun Gambir, ratusan calon penumpang kereta api menggelar tikar dan koran di lobi stasiun untuk mengantre membeli tiket kereta kelas bisnis tanpa tempat duduk jurusan Surabaya. Mereka antre sejak pukul 04.00, padahal loket baru dibuka mulai pukul 13.00 dan dalam tempo 30 menit tiket ludes.

Sementara itu, jumlah penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta belum ada kenaikan, tetapi banyak calon penumpang menukar jadwal keberangkatan menjadi lebih awal.

Penumpang Mandala yang mengubah jadwal tiket sebanyak 684 orang, sedangkan calon penumpang Garuda Indonesia yang ingin berangkat lebih awal mencapai 200-300 orang. Garuda menyediakan pesawat berbadan lebar untuk mengantisipasi permintaan perpindahan keberangkatan. Kemarin, sebanyak 179 penerbangan terlambat berangkat. (ILO/THT/NIT/HEN/BEN/REK/ANG/GAL/MKN/HAN/WHY/RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau