PM Australia Memberi Selamat kepada Indonesia

Kompas.com - 18/09/2009, 10:24 WIB

BRISBANE, KOMPAS.com — Perdana Menteri Australia Kevin Rudd memuji dan menyampaikan selamat kepada Indonesia atas keberhasilan Polri menewaskan gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, dalam baku tembak di sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9).

"Ini adalah operasi yang sangat sulit dan memakan waktu panjang. Kredit (keberhasilan) ini pantas diberikan untuk bangsa Indonesia lewat aparat keamanannya yang telah menunaikan tugas ini," katanya dalam wawancara dengan ABC AM, Jumat pagi.

Namun, Pemimpin Australia itu mengingatkan, sukses yang dicapai Polri hendaknya tidak membiarkan kita berpuas diri dengan masa depan karena Jemaah Islamiyah dan Al Qaeda masih hidup.

"Ini hasil yang sangat penting. Orang ini (Noordin M Top) seorang pembunuh massal. Dia bertanggung jawab terhadap pembunuhan orang-orang Australia dan saya menyampaikan selamat kepada bangsa Indonesia atas keberhasilan ini," kata PM Rudd.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan hubungan dan kerja sama bilateral Indonesia-Australia dalam penumpasan terorisme.

Di mata Rudd, gembong teroris asal Malaysia ini terlibat dalam berbagai aksi terorisme di Indonesia, seperti bom Bali tahun 2002 dan 2005, bom Hotel Marriott Jakarta tahun 2003 dan 2009, dan serangan terhadap gedung Kedutaan Besar Australia di Jakarta tahun 2004.

Sementara itu, keberhasilan Indonesia membunuh Noordin M Top dalam baku tembak di Solo, Jawa Tengah, itu digambarkan media Australia sebagai kemenangan besar Polri. Namun, kematian gembong teroris asal Malaysia itu tidak kemudian membebaskan negeri itu dari bahaya terorisme.

Pimpinan Polri memastikan kematian Noordin M Top dalam insiden di Solo itu lewat tes sidik jari dan DNA. Agustus lalu, dia sempat dilaporkan tewas dalam penyerbuan oleh Densus 88 di sebuah rumah di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Namun, laporan spekulatif berbagai media Indonesia dan dunia itu kemudian diluruskan Polri berdasarkan hasil tes DNA. Dalam pernyataan persnya Agustus lalu, Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith menyebut Noordin sebagai teroris yang telah diburu dan paling diinginkan Australia untuk dibawa ke pengadilan.

Sekalipun Australia hingga kini masih aman dari aksi serangan kelompok teroris seperti yang pernah dialami Indonesia, Amerika Serikat, Spanyol, Inggris, dan puluhan orang warganya ikut menjadi korban aksi terorisme.

Dalam serangan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli, tiga warga Australia termasuk di antara sembilan orang yang tewas.

Mereka adalah pengusaha asal Perth, Nathan Verity; Craig Senger, diplomat dari Komisi Perdagangan Australia; dan Garth McEvoy, pegawai Industri Pertambangan asal Brisbane.

Sebelum serangan pengeboman di dua hotel di kawasan Kuningan, Jakarta, itu terjadi, Indonesia sempat relatif aman dari insiden terorisme selepas Bom Bali tahun 2005.

Sejak aksi serangan sejumlah gereja pada malam Natal tahun 2000, Indonesia mengalami serangkaian insiden terorisme. Setahun setelah serangan kelompok teroris ke New York dan Washington DC, Amerika Serikat, pada 11 September 2001, Bali diserang kelompok Amrozi dkk pada 12 Oktober 2002.

Dalam insiden itu, sebanyak 202 orang tewas, termasuk 88 warga Australia yang sedang berlibur di Pulau Dewata tersebut.

Polri meyakini gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, terlibat dalam banyak aksi penyerangan yang menelan ratusan korban jiwa di berbagai tempat di Indonesia itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau