Kondom Bantu Perangi Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Kompas.com - 19/09/2009, 13:20 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Membagikan alat kontrasepsi secara gratis ke masyarakat negara berkembang membantu memperlambat pertumbuhan penduduk sehingga diharapkan dapat mencegah eksesnya terhadap perubahan iklim. Menurut laporan jurnal medis Inggris, Lancet, lebih dari 200 juta perempuan di seluruh dunia berharap mendapatkan akses alat kontrasepsi gratis, 

Tidak terkabulnya harapan tersebut telah berbuntut ke 76 juta kehamilan yang tidak dikehendaki setiap tahunnya. Dalam tajuk rencananya, editor Lancet menerangkan,  jika para perempuan itu memiliki akses gratis terhadap kondom atau metode keluarga berencana lainnya, maka angka pertumbuhan penduduk dapat ditekan. Hal itu pun diperkirakan dapat mengurangi ekses negatif terhadap lingkungan.
        
Komentar yang beredar merespons jurnal kesehatan itu menyebutkan, "Saat ini bermunculan debat dan kepentingan yang mengaitkan hubungan antara kedinamisan jumlah penduduk, HAM, kesehatan reproduksi, dan hubungan seks." 

Penduduk dunia diproyeksikan melonjak hingga 9 juta jiwa menjelang 2050. Sebanyak 90 persen dari angka pertumbuhan itu berasal dari negara-negara berkembang.
       
Ini bukan pertama kalinya isu gaya hidup dikaitkan dengan kampanye memerangi pemanasan global. Sejumlah pakar perubahan iklim sebelumnya merekomendasikan agar konsumsi daging hewan dikurangi untuk memperlambat pemanasan global dengan kehadiran lebih banyak hewan yang berperan dalam menjaga keseimbangan alam.
    
Lancet yang mengutip sebuah laporan di Inggris menjelaskan bahwa program keluarga berencana lima kali lebih murah dibandingkan dengan penerapan teknologi pada umumnya untuk memerangi perubahan iklim. Menurut laporan itu, setiap 7 dollar AS yang digunakan bagi program keluarga berencana setara manfaatnya dengan pengurangan emisi karbon dioksida lebih dari 1 juta ton.

Beberapa pakar yakin, pertumbuhan penduduk yang normal memiliki kemungkinan kecil untuk secara signifikan meningkatkan risiko pemanasan global. Sementara itu, ledakan jumlah penduduk di negara berkembang dikhawatirkan dapat mengarah pada kenaikan permintaan terhadap bahan pangan dan tempat tinggal sehingga rentan berimplikasi pada perubahan iklim yang berisiko menimbulkan pemanasan global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau