JAKARTA, KOMPAS.com — Pilihan profesi memang selalu ada konsekuensinya. Ketika seseorang memutuskan menjadi dokter atau para medis, polisi, satpam, petugas pemadam kebakaran, atau wartawan, misalnya, ia memang harus rela tidak libur di saat sebagian besar masyarakat menikmati liburannya.
Di hari libur panjang Lebaran ini, misalnya, banyak orang yang tak bisa menikmati libur bersama keluarganya. Mereka ini umumnya bekerja di perusahaan-perusahaan sektor pelayanan publik.
Tarmizi (39), seorang petugas sekuriti atau satpam di salah satu rumah sakit terkemuka di Jakarta Selatan, adalah salah satunya. Di hari pertama Lebaran 2009 ini, ia mendapat giliran berjaga (shift) siang hingga sore hari.
Penjadwalan yang sudah diatur jauh-jauh hari oleh manajemen rumah sakit. "Hari ini masuk, Mas. Dapet jadwalnya dari siang ini sampe sore," kata Tarmizi, Minggu (20/9).
Meski begitu, Tarmizi menuturkan, tak sedikit pun dirinya berkeluh kesah karena tak bisa menghabiskan waktu sepanjang hari bersama keluarga. "Enggak ada masalah. Saya tetap semangat. Ini memang sudah jadi amanat sebagai seorang sekuriti," kata lelaki yang telah bekerja sebagai petugas keamanan selama lebih dari 12 tahun di berbagai instansi.
Dikatakannya, tahun ini masih agak lumayan karena dia mendapat giliran masuk siang hingga sore. "Alhamdulillah, tadi pagi masih sempat shalat Id di rumah. Terus kumpul-kumpul dulu bareng keluarga sebentar, baru berangkat kerja deh," terangnya.
Ia mengaku, pola kerja yang mengharuskannya masuk di saat para pekerja lain bisa menikmati libur sudah biasa dilakoninya. Dari pengalamannya selama 12 tahun, lebih dari setengahnya ia tetap masuk pada hari-hari libur nasional.
"Kalau kayak saya ini udah biasa, Mas. Sudah jadi panggilan. Tapi yang repot itu karyawan-karyawan baru. Karena enggak biasa, mereka bawaannya ngeluh melulu," ujar pria beranak tiga ini.
Terhadap keluh kesah juniornya itu, Tarmizi bisa memahami dan sebisa-bisanya menasihati. Sebab, hal yang sama pernah dia rasakan di awal-awal bekerja. "Yang penting itu bagaimana kita ngejalanin-nya. Kalau udah biasa, ya enak-enak aja. Apalagi kalau ada duit tambahannya," seloroh Tarmizi sambil tersenyum.
Dikatakannya, manajemen tempatnya bekerja sudah cukup baik mengatur sistem penjadwalan saat situasi libur seperti ini. Ada empat shift yang bergantian setiap harinya sehingga ia tak terlalu merasa kehilangan waktu bersama keluarga ketika momen Lebaran seperti ini.
"Terus terang ini lumayan enak. Masih ada celah waktu. Ada di tempat kerja saya yang dulu, yang ngatur jadwalnya bisa full seharian. Ini yang kadang-kadang sering diprotes," ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Utami (24), salah satu perawat di rumah sakit yang sama. Gadis berkerudung ini kebagian jadwal masuk selama hari pertama Lebaran. Ia baru bisa menikmati waktu bersama keluarga pada hari kedua besok. "Tadi masuk pagi, shalat Id-nya juga di sini. Silaturahimnya lewat telepon aja," ujar Utami.
Meski belum terlalu lama menjalani profesi sebagai perawat, ia mengaku tidak keberatan jika harus bekerja di hari libur. Menurutnya, itu sudah menjadi risiko yang diambilnya sejak memilih karier untuk menjadi perawat semasa duduk di akademi keperawatan beberapa tahun lalu.
"Keluarga juga udah ngerti kok. Soalnya ada beberapa saudara yang juga kerja sebagai perawat. Jadi udah enggak aneh lagi," kata dia.
"Yang penting harus ikhlas. Kalau kita ikhlas, ujung-ujungnya kan kita juga dapat pahalanya," terangnya bijak.
Tentu masih ada ribuan lagi pekerja-pekerja lain seperti Tarmizi dan Utami. Dedikasi mereka sebagai pelayan publik patut diacungi jempol. Tak ayal, loyalitas mereka sering mendapat apresiasi simpatik dari pihak yang membutuhkan pelayanan mereka. "Saya pernah dikasih bingkisan parsel sama pasien ibu-ibu yang saya rawat lama. Walaupun enggak seberapa, tapi saya senang sekali. Segitu aja udah cukup," katanya.
Semoga mereka yang tetap beraktivitas di saat hari raya semacam ini, juga mendapat apresiasi dari pemerintah. Sekiranya hal ini tentu diperlukan untuk tetap meningkatkan loyalitas merek terhadap profesi yang dijalaninya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang