Rawan, Nagreg dan Cikampek

Kompas.com - 24/09/2009, 06:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemudik dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang akan kembali ke Jakarta harus cermat memilih jalur untuk balik. Departemen Perhubungan memperkirakan kawasan Nagreg, Bandung, di jalur selatan dan Cikampek di jalur utara akan menjadi titik rawan macet parah pada arus balik yang terjadi pada Sabtu (26/9) hingga Minggu.

Kawasan lain yang menurut polisi juga rawan macet adalah Puncak, Cianjur, persimpangan Jomin Karawang, dan pintu keluar Tol Cikampek di Cikopo. ”Kawasan Puncak berpotensi macet, terutama karena topografi wilayah, lebar jalan terbatas, dan jumlah kendaraan yang melaluinya terus bertambah,” kata Wakil Direktur Lalu Lintas Mabes Polri Komisaris Besar Didik Purnomo di Jakarta, Rabu (23/9).

Ketua Kelompok B Posko Operasi Ketupat 2009 Mabes Polri Ajun Komisaris Besar Mansyur Slamet menambahkan, titik kemacetan lain terjadi di Pelabuhan Bakauheni, Merak, dan Losari.

Kemacetan panjang sejak awal pekan lalu terjadi di kawasan Puncak, bahkan Rabu kemarin kondisinya semakin parah. Dari perbatasan Cianjur sampai pintu keluar Tol Gadog sepanjang 22 kilometer sejak pukul 05.00 sampai 16.00, jumlah kendaraan yang lewat mencapai 25.000 unit. Dari arah Jakarta kemacetan sudah terasa sejak 5 kilometer sebelum pintu keluar Tol Gadog. Kemacetan panjang juga terjadi pada arah sebaliknya, dari persimpangan Cisarua ke perbatasan Cianjur. Kendaraan hanya bisa bergerak dengan kecepatan 5 kilometer per jam.

Hal ini terjadi karena pertemuan antara warga Jakarta yang berwisata ke Puncak dan arus balik dari arah Cianjur.

Nagreg

Sejak Rabu kemarin arus balik mulai masuk melalui jalur selatan via Nagreg-Cileunyi-Tol Padalarang. Rentetan kemacetan mulai terjadi di jalur tersebut. Di tol itu pada Rabu pagi terjadi kemacetan sepanjang 2 kilometer dari arah Cileunyi ke Jakarta. Mereka datang dari arah Nagreg dan sebagian dari arah Sumedang serta Bandung.

Kemacetan berkurang sekitar pukul 10.00 setelah 13 pintu keluar Tol Padalarang dibuka dari semula hanya enam pintu. Kepala Shift Pengumpulan Gerbang Tol Padalarang Yudi Purwanto mengatakan, pembukaan satu pintu keluar Tol Padalarang menuju Jakarta terus dilakukan hingga arus balik reda.

Ia memperkirakan tingkat kemacetan lalu lintas di Tol Padalarang untuk arus balik Lebaran 2009 bakal meningkat 11-12 persen daripada tahun 2008.

”Peningkatan arus balik lewat tol ini sebagian besar dipengaruhi banyaknya warga Jakarta memanfaatkan libur Lebaran di Bandung,” tutur Yudi.

Di jalur Nagreg, kemacetan sempat mencapai 3 km, di Limbangan-jalur Lingkar-tanjakan Nagreg. Selain meningkatnya kendaraan arus balik, kemacetan juga terjadi karena jalur ini menjadi pertemuan tiga arus padat kendaraan, yakni dari arah Ciamis-Tasikmalaya, Garut, dan Bandung. Penumpukan terparah terjadi di tanjakan Nagreg.

Keadaan tersebut diperparah banyaknya kendaraan yang mogok saat melalui tanjakan Nagreg. Petugas kepolisian dibantu tukang ganjel (sebutan untuk warga setempat yang menjadi tenaga dorong bayaran) harus menyingkirkan kendaraan yang mogok tersebut.

Kepala Pusat Komunikasi dan Opini Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan memprakirakan arus balik akan bertumpuk di pertigaan Nagreg. Jalur lingkar Nagreg sepanjang 600 meter yang selesai dibangun setahun lalu tidak efektif untuk mengurai penumpukan kendaraan di lokasi tersebut.

Untuk mengatasi kemacetan, polisi menerapkan pola buka tutup di jalur menuju tanjakan Nagreg yang merupakan simpul kemacetan utama. Tak pelak, antrean panjang kendaraan pun terjadi di arah berlawanan kendaraan yang berjalan.

Wakil Kepala Kepolisian Wilayah Priangan Ajun Komisaris Besar Edi Mustofa mengatakan, kemacetan jalur Nagreg tak mungkin dihindari. Selain pertemuan arus dan jumlah arus kendaraan yang meningkat, jalur yang ada terlalu sempit dan menanjak.

Polisi memberikan alternatif agar pengendara ke arah Jakarta melalui jalur alternatif melalui Wado-Sumedang atau Cijapati-Cicalengka-Pamucatan, tetapi sebagian besar pemudik masih enggan melalui jalur itu. Selain sempit dan panjang, pemudik khawatir akan kerawanan kriminalitas di jalur yang sepi, gelap, dan bergunung itu.

Untuk mengantisipasi kemacetan parah di jalur Nagreg, Polwil Priangan mengerahkan satu kompi personel Brigade Mobil untuk pengamanan. Para personel Brimob akan menjaga jalur alternatif. ”Jalur alternatif lewat Wado ataupun Cijapati selama ini dikenal rawan kriminalitas,” ujar Edi. (TIM KOMPAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau