Mobil Hibrida dan Listrik Bersuara Jet dan F1

Kompas.com - 25/09/2009, 17:40 WIB

KOMPAS.com — Mobil listrik atau mobil hibrida, ketika beroperasi dengan tenaga listrik murni, menyenangkan buat sebagian orang karena tidak berisik. Namun kenyataan lainnya, kondisi tersebut sangat berbahaya bagi pejalan kaki tuna netra.

Setelah mendapat komplain selama bertahun-tahun, terutama dari organisasi tuna netra, akhirnya produsen mobil menanggapi hal itu dengan rencana membuat suara tiruan pada mobil listrik dan hibrida.

Di samping itu, diperkirakan populasi mobil listrik di tahun-tahun mendatang akan terus meningkat. Lihat saja, pada pameran mobil tingkat internasional, hampir semua produsen menghadirkan konsep mobil listrik.

Fiksi Ilmiah. Nissanyang baru saja meluncurkan Leaf dan bersama aliansinya, Renault, gencar mempromosikan mobil listrik yang akan diproduksi secara massal sedang mempertimbangkan penggunaan suara fiksi ilmiah bernada tinggi.

Tak kalah menarik, Fisker Karmaprodusen mobil hibrida plug-in mewahsedang mempertimbangkan perpaduan antara suara pesawat jet dan Formula 1.

Sementara  itu, Volkswagen melalui E-Upyang sekarang dipamerkan di Frankfurt dan akan menjadi “Beetle abad ke-21”akan menggunakan suara mesin bensin abad ke-20.

Munculnya rencana melengkapi mobil listrik atau hibrida dengan suara tentu saja demi keamanan pemakai jalan lain, terutama para tuna netra.

Pada 2007, ketika mobil hibrida mulai dipakai di Amerika Serikat, National Federation of the Blind diundang oleh perusahaan mobil untuk menentukan standar suara minimum untuk hibrida.

Awal tahun ini, Japan Federation of Blind mengirimkan permohonan kepada Kementerian Transportasi Jepang dan Asosiasi Pabrik Mobil Jepang (JAMA) untuk mempertimbangkan masalah suara ini.

Ternyata, hal itu memperoleh tanggapan. Kementerian membentuk komite yang mengadakan rapat pada Juli dan Agustus. Selanjutnya, rekomendasi akan dipresentasikan pada 31 Desember tahun ini.

Otomatis. Toshiyuki Tabata, pakar suara dan getaran di Nissan, mengaku telah mengembangkan suara mobil tiruan selama tiga tahun. “Diputuskan, jika kami akan membuat mobil listrik, maka kami harus melengkapinya dengan suara. Kami akan membuat suara indah dan futuristik,” ceritanya kepada Bloomberg.

“Kami ingin sesuatu yang agak berbeda. Lebih dekat ke dunia seni,” ungkap Tabata. Sistem suara akan aktif secara otomatis ketika mobil jalan dan non-aktif ketika kecepatan 15 km/jam. Nissan telah mempresentasikan sistem suaranya pada National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) Amerika Serikat pada 3 September lalu.

Sementara itu, Yomiuri Shimbun, koran terbesar di Jepang, melaporkan, Toyota dan Fujitsu Ten Ltd segera melakukan eksperimen sendiri untuk mencoba berbagai suara. Antara lain suara yang pas, enak didengar, dan tidak menyebabkan gangguan pada orang lain. 

Prius. Diinformasikan pula, Toyota mulai menggunakan alat pengingat bersuara pada tahun depan di dalam Prius, dan melengkapinya dengan “radar” untuk memastikan adanya pejalan kaki.

Melihat adanya peluang pasar, pabrik elektronik mobil sedang mengembangkan alat yang menimbulkan suara baru. Pada 2008, Lotus dari Inggris meluncurkan sistem Safe and Sound yang menghasilkan suara mesin motor bakar tiruan.

Sebuah perusahaan, Data System Co, berbasis di Tokyo, telah membuat alat penghasil suara tiruan seharga 140 dollar AS untuk mobil listrik. Alat ini menghasilkan 16 suara berbeda. Contohnya suara meong kucing. Juga ada suara “boing” dan suara manusia, “punten”, dan “maaf, kami mau lewat”.

Jadi, suatu hari, pengemudi atau pemilik mobil listrik atau hibrida bisa mengunduh suara sesuai selera mereka dari internet, seperti yang dilakukan pada telepon seluler sekarang ini dengan ring tone.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau