Sayang, Nova/Liliyana dan Hendra AG/Vita Tersingkir

Kompas.com - 26/09/2009, 10:48 WIB

TOKYO, KOMPAS.com -  Pupuslah harapan Indonesia untuk merebut gelar di nomor ganda campuran turnamen bulu tangkis Jepang Terbuka Super Series 2009. Dua wakil Tanah Air yang tampil di babak semifinal, Sabtu (26/9), tersingkir.

Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa  yang tampil di lapangan 1 menyerah dua set langsung, 18-21 16-21 dari pasangan Thailand Songphon Anugritaywon/Kunchala Voravichitchaikul. Kekalahan serupa juga dialami Nova Widianto/Liliyana Natsir yang tampil di lapangan 2, karena ditaklukkan pemain Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dengan 18-21 12-21.

Dengan demikian, final ganda campuran turnamen berhadiah total 200.000 dollar AS tersebut akan mempertemukan Songphon Anugritaywon/Kunchala Voravichitchaiku dan unggulan keenam dari Denmark tersebut, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.

Jalannya pertandingan

Nova/Liliyana yang menjadi unggulan ketiga turnamen ini mengawali pertandingan dengan sangat baik dan meyakinkan. Kecermatan dan akurasi pukulan pasangan peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 tersebut membuat mereka langsung unggul 6-0, dilanjutkan dengan 10-4.

Namun setelah itu, permainan mereka menjadi sangat kendur. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Fischer Nielsen/Pedersen untuk bangkit, dan mereka bisa menyapu enam poin secara beruntun untuk menyamakan kedudukan menjadi 10-10.

Setelah itu, kendali permainan dipegang oleh pasangan Denmark tersebut. Mereka selalu memimpin perolehan poin, dan setelah kedudukan 15-15, Fischer Nielsen/Pedersen semakin kencang melaju hingga menang 21-18.

Di game kedua, performa Nova/Liliyana benar-benar anjlok. Kesalahan sendiri yang kerab dibuat pasangan ini memberikan keuntungan yang sangat besar bagi lawan, sehingga dengan mudah unggul 7-1.

Situasi ini membuat Nova/Liliyana tertekan, sebaliknya Fischer Nielsen/Pedersen berada di atas angin. Pasangan Denmark itu pun tak menyia-nyiakan momentum untuk meraih kemenangan, karena mereka tampil sangat konsisten dan selalu menekan. Alhasil, Fischer Nielsen/Pedersen dengan mudah mengakhiri set kedua dengan kemenangan 21-12.

Selanjutnya, Fischer Nielsen/Pedersen bertemu pasangan Thailand Songphon Anugritaywon/Kunchala Voravichitchaikul di final yang akan berlangsung Minggu (27/9). Songphon Anugritaywon/Kunchala Voravichitchaikul tampil menawan dan tak memberikan kesempatan kepada Hendra AG/Vita untuk mengembangkan permainannya.

Selama pertandingan yang berlangsung dua set itu, Songphon Anugritaywon/Kunchala Voravichitchaikul selalu unggul dalam pengumpulan poin. Di set pertama, Hendra AG/Vita hanya mampu menyamakan skor 14-14, tetapi setelah itu mereka terus tertinggal dan kalah 18-21.

Tak jauh berbeda dengan sebelumnya, pada set kedua pun Hendra AG/Vita tak pernah memimpin perolehan poin selepas keunggulan 9-8. Karena setelah disamakan, Songphon Anugritaywon/Kunchala Voravichitchaikul tak terbendung lagi untuk terus mengumpulkan angka hingga menang 21-16.

Dengan kegagalan ini, maka Indonesia harus melupakan impian meraih gelar di nomor ganda campuran. Padahal, harapan itu sempat terkuak karena ada dua wakil yang tampil di babak empat besar.

Sedangkan bagi Vita, kekalahan ini membuat dia gagal mempertahankan gelar yang diraihnya tahun lalu. Waktu itu, mantan pemain Pelatnas Cipayung tersebut berpasangan dengan Muhammad Rijal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau