BERLIN, KOMPAS.com-Kanselir Jerman Angela Merkel mengalahkan menteri luar negerinya untuk tetap menduduki masa jabatan empat tahun ke depan. Demikian hasil exil polls pemilu yang diumumkan jaringan televisi Jerman NTV, Senin (28/9).
NTV melaporkan partai Uni Demokratik Kristen milik Merkel yang berhaluan tengah kanan memperoleh 33,7 persen suara. Sementara itu partai Demokrat Sosial milik Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier yang berhaluan tengah kiri memperoleh 23,4 persen suara.
"Tidak hanya Anda yang bahagia, saya juga sangat bahagia," kata Merkel di depan para pendukungnya di markas partainya. "Saya telah mencapai sesuatu yang hebat. Kami berhasil. Kami meraih tujuan pemilu, untuk mempertahankan stabilitas mayoritas di Jerman dan pemerintahan baru dengan koalisi baru." Massa pendukungnya pun berteriak,"Angie, Angie, Angie."
Sedangkan Steinmeier mengakui apa yang ia sebut sebagai "kekalahan pahit" bagi Demokrat Sosial. "Pemilih telah menentukan, dan hasil ini adalah hari buruk," kata Steinmeier dalam pidato di depan pendukungnya.
Dengan hasil mayoritas, Merkel, pemimpin wanita pertama Jerman dan satu-satunya kanselir dari timur yang bekas komunis, akan memimpin lagi untuk masa empat tahun.
Berdasarkan penghitungan hasil pemilihan yang rumit di Jerman, gabungan suara kubu Merkel dan mitranya yang mencapai 48 persen sudah cukup menempatkan mereka di posisi teratas.
Koalisi tengah-kanan pernah memerintah Jerman selama 28 dari 60 tahun sejak republik pasca perang itu didirikan. Keduanya terbiasa dalam konstalasi politik Jerman.
Merkel (55) yang oleh majalah Forbes disebut sebagai wanita paling berpengaruh di atas planet selama empat tahun pemerintahan, mengatakan Jerman yang merupakan eksporter nomor dua terbesar di dunia dan dilanda krisis global memerlukan satu pemerintahan tengah-kanan guna mengakhiri penurunan ekonomi pasca-perang.
Koalisi baru Merkel akan menghadapi sejumlah masalah domestik seperti pengangguran, perawatan kesehatan, pendidikan dan sistem keamanan sosial yang perlu direformasi.
Di luar negeri, tantangan utama adalah Afganistan, tempat Jerman telah mengerahkan sekitar 4.200 serdadu di bawah pimpinan NATO yang bertempur selama delapan tahun melawan Taliban.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang