SURABAYA, KOMPAS.com - Persebaya Surabaya memastikan diri lolos ke babak delapan besar Liga Jawa Timur setelah menundukkan Deltras Sidoarjo 2-0 (1-0) di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, Senin (28/9). Kemenangan ini tercipta berkat gol dari dua pemain muda Andik Vermansah pada menit ke-42, dan Arif Ariyanto pada menit ke-83.
Meskipun "Bajul Ijo" masih harus menjalani satu laga terakhir menjamu Persib Bandung, tim besutan Danurwindo ini sudah lolos dari Grup D yang dihuni Persib dan dan Deltras. Sementara nasib " The Lobster" dan "Maung Bandung" masih dipastikan lewat laga akbar antara Persebaya dan Persib besok.
Terlepas dari kesalahan-kesalahan elementer yang kerap terjadi, pemain-pemain muda Persebaya mampu menunjukkan mental juara dan determinasi tinggi. Gelandang gesit Andik Vermansah yang selalu terkurung dalam kawalan ketat punggawa Deltras selalu mampu bangkit dan melepaskan diri.
Gol perdana Bajul Ijo tercipta dari kegesitan Andik menyambut umpan Anderson da Silva yang membangun serangan balik yang cepat dan efektif.
Arif Ariyanto yang masuk menggantikan Andi Oddang pada menit ke-75 juga melakukan terobosan berani ke jantung pertahanan Deltras dan mengelabui bek tangguh Adolfo Marshall dan kiper Agung Prasetyo sebelum akhirnya melesakkan si kulit bundar ke gawang.
"Pemain masih membuat kesalahan-kesalahan dasar yang tidak perlu di wilayahnya. Tapi, pemain-pemain muda berhasil bekerja keras dan berjuang," kata Danurwindo seusai pertandingan.
Memang tidak semua pemain bersinar. Wimba Sutan yang diduetkan dengan Oddang di depan justru tidak berfungsi sehingga digantikan oleh Korinus Fingkrew pada menit ke-22. Bek Iran Vali Khorsandi juga belum bisa padu hingga Anderson harus bekerja lebih keras menjaga wilayahnya. Meski demikian, nasib Vali belum diputuskan oleh Danurwindo.
"Dia tinggi dan kokoh tapi saya belum bisa merekomendasikan dia, saya masih perlu lihat lagi," ujar mantan arsitek Persija Jakarta ini.
Meskipun menang, Manajer Persebaya Saleh Ismail Mukadar mengkritik kepemimpinan wasit Junaidi. Sama halnya dengan yang dikeluhkan pelatih Persib Jaya Hartono, Saleh menilai wasit abai terhadap keselamatan pemain-pemainnya.
"Wasit harus berubah, kalau wasit kayak begini terus lebih baik mundur. Pemain kami disiapkan untuk kompetisi Liga Super bukan untuk Liga Jatim. Jangan sampai malah kondisinya rusak di sini," kata Saleh.
Terlambat rotasi
Kejutan yang diberikan Deltras ketika menahan imbang Maung Bandung tidak terulang kembali. Tekanan ketat selama 15 menit pertama yang berhasil menghancurkan taktik dan strategi Persib justru tidak mempan pada Persebaya.
"Ketika Persib ditekan mereka gagal berkembang, tapi Persebaya justru bisa berkembang dan malah gantian menekan," ujar pelatih Mustaqim di ruang ganti pemain.
Kondisi fisik pemain Deltras pun sangat terkuras setelah dihabiskan untuk meredam Persib. M Kusen dan kawan-kawan cukup keteteran menghadapi permainan taktis Persebaya.
"Sebetulnya dengan 24 pemain, Deltras memiliki kesempatan untuk merotasi pemain-pemain yang kelelahan. Saya juga dilematis, mau diganti tetapi sudah terlambat. Akhirnya ketika dirotasi pun sudah tidak ada hasilnya," ujar Mustaqim.
Kekalahan ini membuat nasib Deltras untuk lolos ke delapan besar kian berat. Pasukan "Kota Udang" baru bisa lolos bila Persib kalah lebih dari dua gol dari Persebaya. Meski peluang itu tipis, Deltras mendapat pelajaran berharga setelah menjajal dua lawan berat di grup ini.
"Eksekusi, organisasi permainan, dan komunikasi masih harus diperbaiki. Untuk penyerang harus diasah lagi, kalau tidak bisa kami masih punya waktu mencari sebelum kompetisi dimulai," jelas Mustaqim.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang