Liga jawa timur

Duo Muda Loloskan Persebaya ke Delapan Besar

Kompas.com - 28/09/2009, 20:43 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Persebaya Surabaya memastikan diri lolos ke babak delapan besar Liga Jawa Timur setelah menundukkan Deltras Sidoarjo 2-0 (1-0) di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, Senin (28/9). Kemenangan ini tercipta berkat gol dari dua pemain muda Andik Vermansah pada menit ke-42, dan Arif Ariyanto pada menit ke-83.

Meskipun "Bajul Ijo" masih harus menjalani satu laga terakhir menjamu Persib Bandung, tim besutan Danurwindo ini sudah lolos dari Grup D yang dihuni Persib dan dan Deltras. Sementara nasib " The Lobster" dan "Maung Bandung" masih dipastikan lewat laga akbar antara Persebaya dan Persib besok.

Terlepas dari kesalahan-kesalahan elementer yang kerap terjadi, pemain-pemain muda Persebaya mampu menunjukkan mental juara dan determinasi tinggi. Gelandang gesit Andik Vermansah yang selalu terkurung dalam kawalan ketat punggawa Deltras selalu mampu bangkit dan melepaskan diri.

Gol perdana Bajul Ijo tercipta dari kegesitan Andik menyambut umpan Anderson da Silva yang membangun serangan balik yang cepat dan efektif.

Arif Ariyanto yang masuk menggantikan Andi Oddang pada menit ke-75 juga melakukan terobosan berani ke jantung pertahanan Deltras dan mengelabui bek tangguh Adolfo Marshall dan kiper Agung Prasetyo sebelum akhirnya melesakkan si kulit bundar ke gawang.  

"Pemain masih membuat kesalahan-kesalahan dasar yang tidak perlu di wilayahnya. Tapi, pemain-pemain muda berhasil bekerja keras dan berjuang," kata Danurwindo seusai pertandingan.

Memang tidak semua pemain bersinar. Wimba Sutan yang diduetkan dengan Oddang di depan justru tidak berfungsi sehingga digantikan oleh Korinus Fingkrew pada menit ke-22. Bek Iran Vali Khorsandi juga belum bisa padu hingga Anderson harus bekerja lebih keras menjaga wilayahnya. Meski demikian, nasib Vali belum diputuskan oleh Danurwindo.

"Dia tinggi dan kokoh tapi saya belum bisa merekomendasikan dia, saya masih perlu lihat lagi," ujar mantan arsitek Persija Jakarta ini.

Meskipun menang, Manajer Persebaya Saleh Ismail Mukadar mengkritik kepemimpinan wasit Junaidi. Sama halnya dengan yang dikeluhkan pelatih Persib Jaya Hartono, Saleh menilai wasit abai terhadap keselamatan pemain-pemainnya.

"Wasit harus berubah, kalau wasit kayak begini terus lebih baik mundur. Pemain kami disiapkan untuk kompetisi Liga Super bukan untuk Liga Jatim. Jangan sampai malah kondisinya rusak di sini," kata Saleh.  

 

Terlambat rotasi

Kejutan yang diberikan Deltras ketika menahan imbang Maung Bandung tidak terulang kembali. Tekanan ketat selama 15 menit pertama yang berhasil menghancurkan taktik dan strategi Persib justru tidak mempan pada Persebaya.

"Ketika Persib ditekan mereka gagal berkembang, tapi Persebaya justru bisa berkembang dan malah gantian menekan," ujar pelatih Mustaqim di ruang ganti pemain.

Kondisi fisik pemain Deltras pun sangat terkuras setelah dihabiskan untuk meredam Persib. M Kusen dan kawan-kawan cukup keteteran menghadapi permainan taktis Persebaya.

"Sebetulnya dengan 24 pemain, Deltras memiliki kesempatan untuk merotasi pemain-pemain yang kelelahan. Saya juga dilematis, mau diganti tetapi sudah terlambat. Akhirnya ketika dirotasi pun sudah tidak ada hasilnya," ujar Mustaqim.

Kekalahan ini membuat nasib Deltras untuk lolos ke delapan besar kian berat. Pasukan "Kota Udang" baru bisa lolos bila Persib kalah lebih dari dua gol dari Persebaya. Meski peluang itu tipis, Deltras mendapat pelajaran berharga setelah menjajal dua lawan berat di grup ini.  

"Eksekusi, organisasi permainan, dan komunikasi masih harus diperbaiki. Untuk penyerang harus diasah lagi, kalau tidak bisa kami masih punya waktu mencari sebelum kompetisi dimulai," jelas Mustaqim.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau