Penyakit Mulai Hinggapi Korban Gempa

Kompas.com - 04/10/2009, 11:22 WIB

PARIAMAN, KOMPAS.com — Sejumlah korban gempa 7,6 skala Richter di Kenagarian Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mulai terserang diare, flu, dan demam akibat kedinginan berada di tenda darurat.
     
Data dihimpun di lokasi korban bencana di Pulau Air, Cumanak, daerah terparah, Minggu (4/10), menyebutkan, sebagian anak-anak yang berada di pengungsian mulai terserang diare, demam, dan pilek (flu) karena kedinginan berada di tenda-tenda pengungsian darurat.
     
Selain itu, korban gempa yang berada di tenda-tenda darurat dan sebagian bertahan di sisa puing-puing reruntuhan bangunan rumahnya juga kekurangan air bersih.
     
Sementara bantuan dari berbagai pihak yang sudah mengalir ke posko induk di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman pembagiannya belum merata, seperti obat-obatan, selimut, dan tenda.
     
Salah seorang tim Dokter Posko Kesehatan Polda Sumatera Selatan di Pulau Air, Tandikek, Iptu, Rahmat Fajar, mengatakan, korban yang datang ke posko umumnya mulai terserang demam, diare, dan flu.
     
"Kami hanya punya persediaan obat-obatan untuk 100-an personel yang bertugas melakukan evakuasi 400-an warga yang tertimbun longsor. Tapi, warga yang sudah terserang beragam penyakit tentu persediaan yang diberikan dulu," katanya.
     
Bantuan obat-obatan hingga hari ketiga pascagempa belum sampai ke posko petugas yang melakukan evakuasi, termasuk sarana air bersih baru sampai Sabtu sore.
     
Rahmat menilai, koordinasi terlihat belum berjalan normal sehingga bantuan logistik untuk petugas yang melakukan evakuasi di Cumanak, Pulau Koto, dan Lubuk Laweh, Nagari Tandikek, belum maksimal.
     
Sejak posko Polda Sumsel pertama berdiri pada hari kedua (Jumat) pascagempa minim sekali bantuan logistik termasuk peralatan untuk melakukan evakuasi. "Kita berharap pemerintah kabupaten (pemkab) setempat lebih mengoptimalkan koordinasi sehingga apa-apa yang dibutuhkan petugas evakuasi, termasuk pelayanan medis terhadap masyarakat bisa disampaikan," katanya.
     
Jhon, warga yang menjadi korban gempa di Pulau Air, Tandikek, menuturkan, memasuki hari ketiga dia belum menerima bantuan, tenda, dan obat-obatan sehingga anak-anak mulai terserang penyakit. "Rumah kami rusak berat sehingga harus bertahan pada bagiaan bangunan yang tidak rata dengan tanah dengan mengandalkan tenda plastik apa adanya," katanya.
     
Pria berumur 51 tahun itu sangat berharap bantuan yang sudah ada di posko tingkat Kabupaten Padang Pariaman didistribusikan segera dan merata.
     
Data sementara, kerusakan rumah warga di Padang Pariaman, kategori berat 19.183, sedang 1.143, dan ringan 422 unit, serta ratusan gedung fasilitas umum. Korban meninggal tercatat sementara 237 orang, luka-luka berat 155 orang, dan luka ringan 238 orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau