MAGELANG, KOMPAS.com — Salah satu anak buah Noordin M Top, Aris Maruf (25), warga Dusun Lembu Jati, Desa Banaran, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, akhirnya menyerahkan diri ke Kepolisian Resor (Polres) Temanggung. Aris adalah tersangka terorisme yang berhasil kabur saat Detasemen Khusus (Densus) 88 berupaya meringkusnya, April 2006.
Kepala Desa Banaran Fatchurohman mengatakan, keinginan menyerahkan diri tersebut sebelumnya disampaikan oleh adik Aris, Mahsun, dalam kunjungan silaturahim, Kamis (1/10). Dalam kesempatan itu, Mahsun mengatakan, kakaknya sudah berniat untuk langsung menyerahkan diri ke kantor polisi. Namun, karena khawatir rencana ini justru dikacaukan oleh pihak-pihak lain, Fatchurohman meminta agar kedatangan Aris ke Polres didampingi oleh aparat setempat.
"Setelah saran ini disetujui, maka saya bersama camat, dan polisi dari Polsek (Polsek) Jumo akhirnya menjemput Aris dan bersama-sama mengantarkan dia ke Polres Temanggung, Jumat (2/10) sekitar pukul 23.00 WIB," ujarnya, Senin (5/10). Aris bersama adiknya, Mahsun, dijemput aparat di depan sebuah hotel di daerah Maron, Kecamatan Temanggung, Jumat malam.
Kedatangan Aris ke Polres Temanggung diterima oleh Kepala Polres Temanggung Ajun Komisaris Besar M Zari. Saat ini, berdasar keterangan dari Mahsun dan sejumlah aparat polisi, Aris sudah dipindahkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah.
Ketika bertemu dengan Aris, Fatchurohman mengatakan, dirinya tidak sempat berbincang banyak. Namun, dari keterangan singkat yang sempat dikatakannya, Aris mengaku ingin menyerahkan diri karena tidak ingin terus-menerus dikait-kaitkan dengan terorisme.
Aris juga tidak ingin terus dikejar-kejar sebagai pelaku terorisme karena selama ini dia hanya menjalani pekerjaan sebagai guru SD bersama istrinya di Sumenep, ujarnya.
Aris yang menjadi kaki tangan Noordin, menjadi buronan teroris sejak dilakukan penggerebekan oleh Densus 88 di sebuah rumah di Dusun Lembu Jati, Desa Banaran, tahun 2006. Dalam penggerebekan tersebut ditemukan juga sebuah bom berkekuatan Bom Bali II dan dokumen-dokumen.
Supriyanto (40), paman Aris, mengaku sudah lebih dari dua tahun tidak melihat Aris. Dia pun juga tidak tahu-menahu perihal penyerahan diri Aris pada Jumat lalu.
"Saya pun tidak mau tahu karena sejak Aris ditetapkan sebagai buronan teroris, bagi saya dia sudah mati," ungkapnya.
Bersama-sama warga desa lainnya, Supriyanto justru menghancurkan rumah keluarga Aris yang ditinggalkan kosong di desanya. Orangtua Aris sendiri bekerja di Jawa Timur, dan sejak penggerebekan tersebut, pemuda ini pun tidak diketahui keberadaannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang