MEDAN, KOMPAS.com - Bantuan dari Jerman untuk korban gempa di Sumatera Barat tertahan di Bandara Polonia Medan sejak Senin (5/10). Pemilik barang terlambat mendapatkan rekomendasi dan jaminan dari badan penanggulangan bencana daerah. Rekomendasi baru keluar Rabu (7/10), namun hanya sebagian yang bisa diangkut ke Padang.
"Sementara yang baru bisa diangkut ke Padang seberat 500 kilogram oleh Sriwijaya Air. Barang tersebut akan berangsur-angsur dikirim dengan penerbangan reguler," tutur Kepala Dinas Pelayanan Bandara Polonia Medan, Djamal, Rabu (7/10) di Medan.
Barang milik sebuah LSM (lembaga swadaya masyarakat) di Yogyakarta ini tersisa 1,5 ton di gudang NATS Bandara Polonia. Barang dengan berat total 1,8 ton tersebut berupa obat-obatan, tenda, genset, dan aneka makanan kering ini sebelumnya tiba di Polonia dengan maskapai Malaysia Airlines.
Barang ini dikirim dari Koln, Jerman pada 2 Oktober silam melalui jasa pengiriman kargo. Adapun pengirim barang, sesuai dengan dokumen, atas nama ASB Bundesverband. Sementara penerima barang ini di Medan, tertulis atas nama Alex Robinson.
Selama di gudang penyimpanan, barang mendapat pengawasan dari petugas Bea dan Cukai Kantor Pelayanan Polonia. Pengawasan ini dilakukan untuk mencegah adanya penyalahgunaan fasilitas pelayanan pengelola bandara.
Penanggung jawab Tugas Hanggar Gudang NATS, Marisi Marpaung mengatakan adanya jaminan dan rekomendasi pengeluaran barang ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160 Tahun 2007. Tujuannya, tutur Marisi, untuk mengantisipasi masuknya barang ilegal atau berbahaya ke wilayah RI. Selain barang tersebut, sementara ini belum ada barang bantuan gempa yang lain tertahan di Polonia.
Sementara sejak 2 Oktober lalu, sejumlah pesawat asing penyalur bantuan singgah terlebih dahulu di Bandara Polonia sebelum meneruskan perjalanan menuju dan dari Padang. Hingga Rabu (7/1), terdapat enam pesawat asing yang singgah di Bandara Polonia sebelum menyalurkan bantuan maupun singgah dari lokasi bencana di Sumatera Barat. Pesawat-pesawat tersebut umumnya membawa tenaga medis, ambulans, dan obat-obatan.
Pemanfaatan Polonia sebagai transit lantaran kesibukan Bandara Minangkabau di Padang. Sebagian kru pesawat memanfaatkan waktu transit untuk istirahat maupun mengisi bahan bakar. Pesawat asing terakhir penyalur bantuan yang singgah di Polonia adalah jenis Ilyushin 76. Pesawat ini sebelumnya dari Padang menyalurkan bantuan gempa dari Arab Saudi. Pesawat meninggalkan Polonia pada Rabu pukul 17.24 menuju India sebagai tempat persinggahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang