NUNUKAN, KOMPAS.com — Suasana kelas di SDN 004 Libang, Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur (Kaltim), itu begitu sepi. Dari 8 siswa yang terdaftar, hanya 6 siswa yang tampak belajar hari itu, Senin (5/10).
Zakaria Tulung (50), guru Matematika yang tengah mengajar ketujuh siswa kelas 6 di SDN 004 Libang tersebut, mengaku sudah terbiasa menghadapi kondisi demikian. Zakaria bilang, berapa pun jumlah siswa yang ada, dia harus tetap mengajar.
"Biar mereka sedikit, yang penting kita tetap semangat dan harus kreatif agar mereka senang ke sekolah dan kerasan berada di kelas," ujar pria kelahiran Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, ini.
Zakaria menuturkan, mayoritas siswa di sekolah ini adalah anak-anak dari Suku Dayak Hagabag-Tegalan, yang rata-rata orangtuanya bekerja sebagai peladang, peternak ataupun nelayan sungai. Sisanya anak-anak dari komunitas pendatang, baik dari suku Tana Toraja, Bugis, maupun Jawa.
"Tak jarang mereka tidak masuk hanya karena harus membantu orangtuanya beternak atau ke ladang," ujar Zakaria.
Senada Zakaria, kekosongan kelas tersebut juga dikomentari oleh Agustina, Kepala Sekolah SDN 004 Libang. Agustina mengakui, rata-rata orangtua siswa di wilayah itu masih kurang perhatian terhadap kebutuhan pendidikan bagi anak-anaknya sehingga tak jarang siswa tidak masuk kelas hanya lantaran harus membantu orangtuanya ke ladang atau beternak dalam waktu yang cukup lama.
"Bahkan masih banyak siswa yang tidak mau sekolah kalau tidak diantar orangtuanya," ujar Agustina.
Terbukti, kata Agustina, saat ini siswa yang bersekolah masih sangat sedikit. Selain kelas 6 yang hanya terdiri dari 8 siswa, kelas 5 pun hanya terdiri dari 9 siswa. Hari itu, siswa kelas 5 yang hadir hanya 7 siswa dan siswi.
Sementara itu, kelas 4 dan 3 pun masing-masing hanya terdiri dari 8 siswa. Hanya di kelas 1 dan 2 yang cukup banyak, yaitu 15 siswa dan 12 siswa.
Persoalan pandangan
Persoalan tersebut, kata Agustina, adalah tantangan tersendiri di luar persoalan lain yang sebetulnya sangat menunjang proses kelancaran belajar mengajar dan administrasi sekolah, seperti alat peraga pengajaran dan komputer.
Sejauh ini, Agustina menambahkan, yang dapat dia dan para guru lakukan adalah berupaya keras membuat siswa tidak putus sekolah. "Selain pendekatan langsung ke orangtua, hal lebih penting kita lakukan adalah sebisa mungkin kreatif dalam memberi pengajaran kepada siswa," ujarnya.
Hal senada juga diperkuat oleh Djomon Bapila, Kepala Sekolah SDN 008 Kalampising, Kabupaten Nunukan, Kaltim. Bisa dikatakan, sekolah yang dipimpinnya ini lebih beruntung ketimbang SDN 004 Libang. Diperkuat dengan 16 guru, yang terdiri dari 8 guru PNS dan 8 honorer, Djomon mengaku siswa di sekolahnya saat ini mencapai 106 siswa.
"Tapi memang, persoalannya masih sama, yaitu pandangan orangtua yang masih kaku terhadap kebutuhan anaknya ke sekolah," ujar Djomon.
Pendekatan
Persoalan sama juga pernah dialami oleh Suwarni, Kepala Sekolah SMPN I Lumbis, Kabupaten Nunukan. Dia menuturkan, awalnya, hal pertama dia lakukan untuk mencari jalan keluar dari persoalan tersebut adalah melakukan perbaikan secara internal di sekolah.
"Sebagai guru kita harus kreatif dalam memberi pelajaran untuk membuat siswa senang dan betah di kelas, memberi dukungan penuh pada setiap proses belajar mengajar siswa, dan menjadikan sekolah nyaman di mata siswa dan orangtua murid," ujar guru fisika ini.
Satu terobosan yang dia lakukan, sejak tahun 1959 mengajar di sekolah tersebut, adalah mendirikan dan mengaktifkan ekstrakurikuler Pramuka. Diajaknya para siswa berkemah dan berkelana di hutan-hutan sekitar kota kabupaten itu. Para siswa pun berkenalan dengan dunia luar dan mulai percaya diri, serta "betah" di sekolah.
"Sekarang saya tinggal menikmati karena sudah banyak alumni SMP ini yang kemudian bersedia membantu saya melatih anggota Pramuka sekolah," ujarnya.
Untuk memantapkan kegiatan tersebut, Suwarni pun mengikuti pelatihan Program Pelatihan Pengembangan Profesionalisme Guru dan Kepala Sekolah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang pernah digelar oleh Tanoto Foundation, baik di Kabupaten Tarakan maupun di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Hasilnya, kini Suwarni sudah bisa membuat silabus kegiatan Pramuka yang dibidaninya itu.
"Tujuannya agar kita punya standardisasi yang baik sehingga nantinya silabus ini bisa mempermudah proses pembentukan regenerasi dan pencapaian prestasi," ujarnya.
Adapun, lanjut Suwarni, perbaikan eksternal dilakukannya dengan melakukan pendekatan secara personal kepada para orangtua siswa. Baginya, menghormati adat dan budaya setempat adalah cara jitu mengingat mayoritas siswa adalah anak-anak suku asli wilayah pedalaman Kalimantan Timur tersebut, yaitu Dayak Hagabag-Tegalan.
"Baik saya dan para guru, pendekatan menggunakan surat sampai pendekatan tatap muka langsung kami lakukan sendiri kepada para orangtua," tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang